Kader Muhammadiyah di era modern dituntut tidak hanya memiliki pemahaman keagamaan yang kuat. Tetapi juga kemampuan menghadapi berbagai tantangan zaman. Ada tiga ciri utama yang harus dimiliki seorang kader berkemajuan. Yaitu pemecah masalah (problem solver), pembawa perubahan (changer), dan pribadi yang adaptif.
Demikian disampaikan ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof. Dr. dr. Sukadiono, MM., dalam Pengajian Ahad Pagi yang digelar oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Waru, Sidoarjo (14/06/2026). Dalam acara di Masjid Al-Ikhlash Deltasari itu, Sukadiono membawakan tema “Kader Berkemajuan: Merefresh Spirit Hijrah, Melejitkan Potensi Organisasi”.
Ciri pertama kader berkemajuan menurut Sukadiono adalah solutif atau problem solver. Kader Muhammadiyah harus hadir sebagai bagian dari solusi setiap kali menghadapi persoalan, baik di lingkungan organisasi, masyarakat, maupun tempat kerja. “Kehadirannya diharapkan mampu menyelesaikan masalah, bukan justru menambah persoalan baru.”
Sikap solutif ini, tambah Sukadiono, tidak selalu identik dengan jabatan struktural. Dalam Muhammadiyah, kepemimpinan dijalankan dengan prinsip kolektif-kolegial. Setiap kader memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi memberikan solusi tanpa harus menjadi ketua atau pimpinan formal.
Ciri kedua kader berkemajuan adalah menjadi pembawa perubahan atau changer. “Kader berkemajuan harus mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik,” tambah Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan itu.
Pembawa perubahan yang lebih baik ini, kata Sukadiono, selaras dengan teori kepemimpinan sukses yang dikemukakan pakar pemasaran Indonesia, Hermawan Kartajaya. Menurut Hermawan, terdapat lima ciri pemimpin yang sukses. Pertama adalah change atau kemampuan melakukan perubahan.
Ciri kedua adalah dream atau mimpi besar. Pemimpin yang sukses harus memiliki visi jauh ke depan. Selanjutnya adalah empowering atau memberdayakan. Pemimpin tidak boleh merasa sebagai sosok yang mampu mengerjakan semuanya sendiri.
“Kita ini bukan superman. Kita ini bukan superwomen. Kita adalah superteam,” menjadi pesan yang menegaskan pentingnya kerja sama dalam organisasi.
Dalam konteks Muhammadiyah, semangat pemberdayaan juga tercermin dalam mekanisme organisasi. Setiap persoalan diupayakan selesai terlebih dahulu di tingkat yang paling dekat. Misalnya, persoalan di daerah diselesaikan di tingkat Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM). Jika belum dapat diselesaikan, barulah dibawa ke tingkat yang lebih tinggi, yakni PWM.
“Kalau ada masalah di tingkat PCM, ke PDM dulu. Baru kalau tidak selesai di PDM, baru ke PWM,” terang Sukadiono.
Selain kemampuan manajerial, pemimpin juga dituntut memiliki kekuatan spiritual. Salat malam atau tahajud menjadi salah satu amalan yang harus dilakukan pemimpin Muhammadiyah.
Karakter keempat dari pemimpin sukses adalah menjadi model atau teladan. “Kalau pemimpin kena ayat kabura maqtan ‘indallahi an taquluu maa laa taf’aluun, kira-kira akan dipercaya anak buahnya atau tidak,” jelas Sukadiono bertanya. Ayat yang dikutip adalah QS Ash-Shaf ayat 3, yang terjemahannya “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
Dalam pandangan Sukadiono, keteladanan atau uswah ini berkaitan erat dengan kredibilitas. “Rumus sederhana kredibilitas adalah integritas ditambah kapabilitas, kemudian dikurangi self interest,” jelasnya.
Karakter kelima adalah love atau cinta. Pemimpin yang baik memimpin dengan kasih sayang, bukan dengan sikap otoriter. “Jangan mentang-mentang jadi ketua, kemudian bertindak otoriter. Sesekali-sekali boleh kalau pegawainya keterlaluan. Tetapi kalau baik-baik saja, pendekatan persuatif lebih mengena.”
Adapun ciri ketiga kader berkemajuan adalah adaptif. Perkembangan teknologi menjadi contoh paling nyata. Jika generasi sebelumnya dapat belajar tanpa laptop misalnya, kondisi itu berbeda dengan kekinian.
“Kalau kita tidak bisa, setidaknya kita mendukung dan memahami,” jelas Sukadiono sambil meminta maaf terhadap jamaah usia di atas 60 tahunan yang harus diakui memang tidak terlalu akrab dengan dunia digital.
Sikap adaptif juga harus diwujudkan dalam kehidupan sosial. Kader Muhammadiyah dituntut harus mau belajar kepada orang lain,dan tidak mudah menghakimi atau menyalahkan orang lain.





0 Tanggapan
Empty Comments