Alhamdulillah, kita kembali dipertemukan dengan Tahun Baru Hijriah 1448. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan keberkahan, kesehatan, kebahagiaan, serta keselamatan dunia dan akhirat kepada kita semua. Āmīn.
Memasuki tahun baru, banyak orang memiliki harapan baru. Ada yang berharap usahanya semakin maju, keluarganya semakin harmonis, dan kesehatannya tetap terjaga. Namun, satu hal yang pasti, perjalanan hidup tidak pernah lepas dari ujian.
Setiap hamba yang hidup pasti akan mengalami ujian dari Allah. Ada ujian yang ringan, ada pula yang terasa sangat berat.
Kehilangan orang yang dicintai, kesulitan ekonomi, sakit yang berkepanjangan, kegagalan dalam pekerjaan, hingga berbagai persoalan rumah tangga merupakan bagian dari kehidupan yang Allah tetapkan.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Ujian bukanlah tanda bahwa Allah membenci hamba-Nya. Justru sering kali ujian menjadi jalan untuk mengangkat derajat, menghapus dosa, dan mendekatkan seseorang kepada Rabb-nya.
Ujian Datang dalam Berbagai Bentuk
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menyaksikan hal itu. Seorang pedagang kecil mungkin mengeluh karena dagangannya sepi.
Namun, di saat yang sama, ia masih memiliki kesehatan, keluarga yang mendampinginya, dan kesempatan untuk terus berikhtiar.
Seorang pegawai yang gagal mendapatkan promosi merasa kecewa. Padahal, mungkin Allah sedang menjaganya dari amanah yang belum sanggup dipikulnya.
Ada pula seorang ibu yang setiap hari merawat anaknya yang sakit. Meski tubuhnya lelah dan matanya kurang tidur, justru dari kesabaran itulah Allah menuliskan pahala yang besar.
Begitulah kehidupan. Setiap orang memiliki ujian masing-masing. Tidak ada manusia yang hidup tanpa persoalan.
Karena itu Allah berfirman: “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah mengetahui orang-orang yang benar dan mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut: 2-3)
Kebaikan Pun Merupakan Ujian
Sebagian orang mengira ujian hanya berupa kesulitan. Padahal, nikmat dan kesenangan juga merupakan ujian.
Allah berfirman: “Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’: 35)
Seorang yang diberi kelapangan harta diuji, apakah ia akan bersyukur atau justru lalai.
Seorang pejabat diuji dengan jabatannya, apakah ia akan amanah atau menyalahgunakannya.
Seorang ulama diuji dengan ilmunya, apakah ia akan rendah hati atau terjebak dalam kesombongan.
Bahkan seorang yang sehat pun sedang diuji, apakah ia menggunakan tubuhnya untuk ketaatan atau justru untuk kemaksiatan.
Allah Tidak Pernah Salah Mengukur
Sering kali seseorang berkata, “Masalah saya terlalu berat.”
Padahal Allah telah menegaskan: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Seperti seorang guru yang memberikan soal ujian sesuai dengan tingkat kemampuan muridnya, demikian pula Allah. Tidak ada satu ujian pun yang diberikan di luar kemampuan hamba-Nya.
Mungkin yang terasa kurang bukan kekuatan kita, melainkan kesabaran kita.
Kita Sering Lupa Menghitung Nikmat
Ada orang yang merasa hidupnya kurang beruntung. Ia melihat milik orang lain dan merasa dirinya tidak memiliki apa-apa.
Padahal, andai ia diminta menentukan harga sepasang mata yang sehat, jantung yang berdetak normal, atau udara yang setiap saat dihirup secara gratis, niscaya ia tidak akan sanggup menghitung nilainya.
Allah berfirman: “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. An-Nahl: 18)
Mungkin yang sedikit bukanlah nikmat yang Allah berikan, tetapi rasa syukur yang ada dalam diri kita.
Pada Hakikatnya, Ujian Hanya Dua
Jika dikerucutkan, seluruh dinamika kehidupan sesungguhnya hanya berputar pada dua hal:
- Susah dan senang.
- Sulit dan mudah.
- Sehat dan sakit.
- Kebaikan dan keburukan.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan ada yang tidak demikian. Dan Kami uji mereka dengan nikmat yang baik-baik dan bencana yang buruk-buruk agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. Al-A’raf: 168)
Karena itu, jawaban atas semua ujian kehidupan sebenarnya hanya dua: syukur ketika memperoleh nikmat dan sabar ketika menghadapi musibah.
Imam Ibnul Qayyim pernah menjelaskan bahwa seluruh agama berdiri di atas dua pilar tersebut, yaitu sabar dan syukur.
Tahun baru Hijriah bukan sekadar pergantian angka. Ia adalah momentum untuk memperbaiki diri dan memperbaharui hubungan dengan Allah.
Jika saat ini hidup sedang lapang, bersyukurlah. Jika saat ini sedang berada dalam kesempitan, bersabarlah. Karena dunia memang tempat ujian, sedangkan akhirat adalah tempat menuai hasilnya.
Dan barangkali, di balik air mata yang hari ini masih kita sembunyikan, Allah sedang mempersiapkan kebahagiaan yang belum mampu kita bayangkan.
Semoga setiap ujian yang kita jalani menjadi jalan menuju ampunan-Nya, dan setiap nikmat yang kita rasakan menjadikan kita semakin dekat kepada-Nya.
Selamat menunaikan ibadah salat Subuh ketika adzan berkumandang. Semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menutup perjalanan hidup kita dengan husnul khatimah. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments