Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab III berjudul “Muhammadiyah Masa Penjajahan (1921-1942)”, sebagian halaman 65 dan 66.
Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 28
***
Halaman 65
Bangkalan. Muhammadiyah pertama kali masuk ke Bangkalan pada 1925, dirintis oleh tokoh muda yang alim dari keluarga ulama, H. Abdul Manan Hamid (lahir tahun 1900). Semasa muda ia belajar di pesantren yang diasuh oleh K.H. Kholil di Bangkalan, kemudian melanjutkan ke pesantren Tebuireng Jombang.
Selesai mengaji di pondok pesantren, ia pun belajar ke sekolah Al-Irsyad, Surabaya. Pada waktu belajar di Surabaya ini ia bertemu dengan tokoh pembaharu, K.H. Mas Mansur. Beberapa kali ia terlibat dalam diskusi mengenai hal-hal yang terkait dengan perjuangan untuk kemajuan agama Islam.(81)
Bagi Abdul Manan, perkenalannya dengan Mas Mansur sangat mengesankan. Ia sangat mengagumi kedalaman pengetahuan Mas Mansur. Setiap kali ia menanyakan tentang sesuatu hal kepada Mas Mansur, selalu dijawab dengan mempersilakan untuk membuka kitab tertentu pada bab sesuai yang ditanyakan.
Abdul Manan Hamid menyadari perlunya mendirikan Muhammadiyah sebagai wadah untuk memperjuangkan dan memajukan agama Islam. Karena itu, sekembalinya ke Bangkalan, ia berusaha menyebarkan paham Muhammadiyah sampai ke kota Bangkalan.(82)
Usaha Abdul Manan tidak sia-sia. Sekalipun masyarakat asli Bangkalan yang berada di desa-desa menentang keras, beberapa orang pendatang, guru, dan pegawai pemerintah justru menyambut dengan antusias. Mereka itu antara lain H. Moh. Ramli, Hasbullah, Birah, dan H. Moh. Rasul. Merekalah yang kemudian merintis berdirinya Muhammadiyah di Bangkalan.(83) Pada 1927, Muhammadiyah Bangkalan berstatus cabang.(84)
Sumenep. Belum diperoleh data pasti kapan Muhammadiyah Sumenep berdiri. Yang jelas, penyebar paham Muhammadiyah di sini adalah Kyai Moh. Fanan, muballigh yang menetap dan meninggal di Jember.(85) Tokoh-tokoh asal Sumenep yang menerima paham pembaharuan Islam yang dibawa Muhammadiyah adalah R. Werdisastro,
Halaman 66
R. Wiryoatmojo, R. Citrowijoyo dan M. Ismail Sastrosugono. Tokoh yang terakhir ini adalah guru HIS di Sumenep.(86)
Pertemuan untuk mendirikan Muhammadiyah diselenggarakan di pendopo rumah R. Werdisastro, di Bangselok. Yang hadir cukup banyak, terdiri dari para pegawai dan para santri. Mereka sepakat untuk mendirikan cabang sementara di Sumenep. Namun, Muhammadiyah di Sumenep baru berdiri setelah memperoleh persetujuan, bahkan bantuan, sepenuhnya dari dua orang kyai terkemuka, yaitu K.H. Zainal Arifin (Tarate) dan K.H. Abusuja’.(87) Pada 1927 Muhammadiyah Sumenep berstatus cabang.(88)
Sampang. Kehadiran Muhammadiyah di Sampang adalah suatu kenyataan, tetapi belum ditemukan catatan atau sumber lisan yang menunjukkan kapan berdiri dan siapa pelopornya. Namun demikian, dipastikan bahwa pada 1927 Muhammadiyah telah eksis di Sampang, bahkan sudah berstatus cabang.(89)
Selain di tempat-tempat tersebut di atas, sampai 1927 Muhammadiyah juga telah berdiri di Mojoagung, Bangil, Kalianget, Kalisat, Sukowono, Arjasa, Turen, Blimbing, Kraksaan, Pare, Uteran, Lorok (Pacitan) dan Beduan (Besuki).
***
Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.





0 Tanggapan
Empty Comments