Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab III berjudul “Muhammadiyah Masa Penjajahan (1921-1942)”, sebagian halaman 62, 63, 64, dan sebagian 65.
Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 27
***
Halaman 62
Probolinggo. Berdirinya Muhammadiyah di Probolinggo dipelopori oleh seorang pedagang bernama Ngatimin, bersama puteranya, Adi Hani, dari Desa Karangkajen, Jogjakarta. Muhammadiyah mulai diperkenalkan kepada masyarakat Kraksaan upaya itu mendapat perlawanan yang cukup keras dari masyarakat di sana. Ngatimin pergi ke Jogjakarta memohon nasehat K.H. Ahmad Dahlan.(74) Berita ini anakron, yakni tidak sesuai dengan kenyataan, sebab K.H. Ahmad Dahlan saat itu sudah lama wafat.
Halaman 63
Usaha Ngatimin bersama Adi Hani memperoleh dukungan Atmo Rejo, pensiunan Camat yang bertempat tinggal di Desa Jati, Probolinggo. Dari Hani inilah Ranting Muhammadiyah berdiri pada 1928. Muhammadiyah di Probolinggo berdiri secara resmi pada 18 Maret 1928 dengan Surat Ketetapan Hoofdbestuur Muhammadiyah No. 106.(75)
Trenggalek. Muhammadiyah di Trenggalek sudah tercatat sebagai ranting dalam BTMHT tahun 1927 nomor urut 176 (halaman 34). Berdirinya Muhammadiyah di Trenggalek berawal ketika Kyai Moh. Thoyyib, tinggal di desa Ngantru, didatangi seorang pedagang sekaligus muballigh asal Jogjakarta. Tamu yang sampai sekarang tidak diketahui namanya itu bercerita tentang ide-ide dan paham keagamaan yang dibawa oleh gerakan Muhammadiyah.
Ketertarikan Moh. Toyyib menumbuhkan kemauannya untuk menyebarkan paham yang dinilainya baru itu. Sebagai wahana penyebarluasan tahap awal, ia kemudian mendirikan jamaah di sebuah langgar (mushalla) kecil, di pojok perempatan desa Kauman (sebelah Barat masjid Agung Trenggalek sekarang).
Selang beberapa waktu lamanya, ia tidak lagi sendirian dalam melakukan pembinaan terhadap jamaahnya. Seorang tokoh bernama H. Anhari dari desa Surodakan (pojok pertigaan utara terminal bus sekarang) bersedia membantu Moh. Toyyib dalam membina jamaah
Halaman 64
setelah ia meyakini kebenaran paham baru yang dijelaskan Moh. Thoyyib. Lambat laun jumlah jamaah terus bertambah. Materi yang disampaikan kedua orang itu semakin luas dan mendalam. Jamaah pengajian itu berubah namanya menjadi jamaah Muhammadiyah Surodakan (Trenggalek). Selain Moh. Toyyib dan H. Anhari, tokoh-tokoh perintis Muhammadiyah di sini antara lain Mudasir, Sumardi (Kepala Desa Surodakan), Dahroni, Moh. Tamsir, Sukarsi dan Ahmad Kusairi.(76)
Bondowoso. Tidak diperoleh data baik dari dokumen ataupun dari sumber lisan kapan Muhammadiyah Bondowoso berdiri dan siapa saja perintis atau pendirinya. Namun demikian, pada 1927 Muhammadiyah Bondowoso sudah eksis bahkan sudah berstatus cabang. Begitu juga dengan Aisyiyah sudah berstatus cabang.(77)
Pengenalan awal paham Muhammadiyah di Bondowoso terjadi pada 1925. Pengenalan itu dilakukan Zaibiyah, seorang lulusan Muallimat Muhammadiyah Jogjakarta angkatan ke-2.(78) Paham Muhammadiyah disosialisasikan oleh Zaibiyah, dengan kesungguhan dan penuh daya tarik, sehingga misinya berhasil. Banyak orang yang tertarik dengan seruannya. Mereka bersepakat untuk mendirikan organisasi Muhammadiyah.(79)
Halaman 65
Sangat mungkin Muhammadiyah telah ada di Bondowoso pada 1923 atau bahkan sebelumnya. Dugaan itu didasarkan pada catatan Almanak Muhammadiyah Tahun 1924 yang menyebutkan bahwa pada 1923 telah berdiri Perserikatan Debaten Club di Bondowoso.(80)
***
Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.





0 Tanggapan
Empty Comments