Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab III berjudul “Muhammadiyah Masa Penjajahan (1921-1942)”, sebagian halaman 59, 60, 61, dan sebagian 62.
Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 26
***
Halaman 59
Gresik. Pelopor berdirinya Muhammadiyah di Gresik adalah mereka yang pernah mengikuti pengajian K. H. Mas Mansur, ketua Cabang Muhammadiyah Surabaya. Mereka tergolong mapan secara
Halaman 60
ekonomis, karena pada umumnya adalah para haji. Waktu itu, menunaikan ibadah haji menjadi salah satu indikasi orang mapan. Mereka terdiri dari para pedagang kaya.(63)
Pengajian H. Mas Mansur dan gema berdirinya Muhammadiyah di Surabaya ternyata mempengaruhi kesadaran dan semangat beberapa orang yang biasa mengadakan mubadlahah (diskusi) di masjid Jami’ Gresik. Mereka itu adalah H. Faqih Usman, Adnanihaji, M. Khusnan, H. Amak Isa dan Ahmad Shaleh.
Sebelum mendirikan Muhammadiyah, mereka meminta nasehat kepada KH Zubair (pengasuh pondok pesantren Kauman) dan Kyai Marlihan atau lebih dikenal K.H. Kholil, pengasuh pondok pesantren Blandongan. K.H. Kholil juga guru mengaji Faqih Usman. Kedua ulama itu secara pribadi merestui berdirinya Muhammadiyah di Gresik. Pada 1926 Ranting Muhammadiyah Gresik resmi berdiri dalam wilayah kerja Cabang Surabaya.(64)
Peresmian Ranting Muhammadiyah Gresik diselenggarakan di rumah K.H. Abdullah Khatib, di kampung Kemuteran, Jln. Nyai Ageng Arem-Arem. Peresmian itu dihadiri dan dilakukan sendiri oleh KH Mas Mansur sebagai ketua Cabang Surabaya. Rumah itu seterusnya menjadi pusat kegiatan Muhammadiyah di Gresik.(65)
Dalam perkembangan selanjutnya, status Muhammadiyah Gresik meningkat menjadi cabang pada 17 Agustus 1934, bertepatan dengan 8 Jumadil Awal 1353 H, dengan Surat Ketetapan Hoofdbestuur nomor 496. Pada saat itu di kawasan sekitar Gresik telah berdiri lima buah ranting, yaitu Kroman, Kemuteran, Pakelingan, Pulopancikan dan Karangpoh.(66) Pada saat itu Muhammadiyah Gresik juga berkembang di sekitar wilayah Dukun.(67)
Jember. Muhammadiyah di Jember pertama kali berdiri di Cakru, Kabupaten Jember, sekitar 1925. Perintisan pengenalan Muhammadiyah dilakukan oleh para migran dari Solo. Mereka umumnya merupakan alumni dari Yayasan Pendidikan Al-Islam di Solo. Paham baru yang dibawa oleh persyarikatan Muhammadiyah telah mereka kenal sejak di bangku sekolah di Solo. Mereka membentuk komunitas dan jamaah pengajian. Di antara anggota jamaah yang kemudian menjadi al-sabiqun al-awwalun Muhammadiyah
Halaman 61
di Jember adalah antara lain Kyai Umar, Danuri, H. Abdul Karim, Kyai Bakri, Tajab, Tamziz, Moh. Tasyim, Moh. Maksum, H. Jalil dan H. Ma’sum.(68)
Tidak ada data berupa dokumen atau sumber lisan tentang kapan Muhammadiyah berdiri di kota Jember, baik sebagai ranting ataupun sebagai cabang, serta siapa saja tokoh pendirinya. Namun demikian, diperoleh kepastian bahwa pada 1927 Muhammadiyah Jember telah eksis sebagai cabang dengan 5 ranting, yaitu Kalisat, Sukowono, Kencong, Arjasa dan Bangsalsari.(69)
Lumajang. Muhammadiyah Lumajang secara formal berdiri pada 1927, atas prakarsa H. Amir Zaini (Naib al-Qadli Lumajang).(70) Muhammadiyah Lumajang pertama kali berdiri di Panjunan (sekarang Sukodono). Diceritakan bahwa pada 1926 K.H. Ahmad Dahlan pernah mengnap di rumah Amir Zaini (Kecamatan Tempeh, Lumajang).
Cerita itu jelas tidak benar, sebab K.H. Ahmad Dahlan wafat pada 1923. Mungkin Muhammadiyah di Lumajang pada 1923 atau bahkan sebelumnya telah berdiri, karena dalam Berita Tahoenan Moebammadijah Hindia Timoer (BTMHT) tahun 1927 Muhammadiyah Lumajang disebutkan sudah berstatus cabang. Demikian juga Almanak Muhammadiyah Tahun 1924 menyebutkan bahwa pada 1923
Halaman 62
Muhammadiyah Lumajang telah membentuk jamaah (pengajian), termasuk di Sukodono, Lumajang.(71)
Tokoh-tokoh muballigh yang pernah datang pada masa awal ini adalah Kyai Thoyib, Kyai Abdul Ghani dari Jogjakarta, KH. Moh. Fanan dari Magelang, Ustadz Rajab dan Kyai Samani dari Malang. Pengurus Muhammadiyah Lumajang pada awal berdirinya adalah Amir Zaini (Ketua), Ngabai (Wakil Ketua), dengan anggota H. Idris dan Sentot.(72)
Dikabarkan bahwa K.H. Ahmad Dahlan beserta KH Fachrudin dan M. Abdullah pernah datang di Probolinggo pada 30 Januari 1922 untuk menyerahkan ijasah kepada ulama-ulama.(73) Berita ini tidak jelas, yang dimaksud dengan penyerahan ijasah itu apa dan ulama yang mana, di mana, dan dari mana.
***
Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.





0 Tanggapan
Empty Comments