Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab III berjudul “Muhammadiyah Masa Penjajahan (1921-1942)”, sebagian halaman 58 dan 59.
Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 25
***
Halaman 58
Ngawi. Muhammadiyah Ngawi memiliki catatan sejarah kelahiran yang mengesankan. Dua buah ranting sekaligus berdiri dan menjadi sentral aktivitas Muhammadiyah pada tahun yang sama (1925).(54) Kedua ranting itu adalah ranting Ngawi yang terletak di daerah Ngawi bagian timur, dan ranting Walikukun yang menggarap daerah Ngawi bagian barat. Kedua ranting itu juga mempunyai tokoh perintis yang berbeda.
Muhammadiyah Ngawi bagian timur lahir berkat usaha dari K.H. Abdul Mu’thi, HM Jusuf (Landraad Ngawi) dan HM Aanan (Merbot KUA di Masjid Paron). Ketiga tokoh tersebut merupakan fasilitator utama bagi pendirian Muhammadiyah Ngawi. Kehadiran tokoh tersebut menimbulkan pendapat bahwa sejak 1924 Muhammadiyah Ngawi telah eksis yang ditandai dengan semaraknya pengajian agama yang diadakan oleh ketiga tokoh tersebut.
Tetapi, secara legal-formal Muhammadiyah Ngawi baru berdiri pada 1925 dengan diterbitkannya Surat Keputusan Hoofdbestuur Muhammadiyah No. 013/1925, yang juga mengesahkan kepengurusan Muhammadiyah Ranting (kota) Ngawi dengan susunan pengurus: HM Jusuf (Ketua), Harsowiryono (Sekretaris), Karjumeno (Keuangan). Anggota: H. Thoib, H. Abd. Ghani dan H. Cokroamijoyo.(55)
Para pengurus tersebut dilantik oleh H.M. Junus Anies. Agar pengurus Muhammadiyah dapat bekerja, Karjojumeno dengan suka cita menyediakan rumahnya untuk dijadikan kantor sekretariat.(56) Pada 1927 Muhammadiyah Ngawi (kota) telah meningkat statusnya menjadi cabang, sementara Muhammadiyah Walikukun masih berstatus ranting di bawah urusan atau tilikan Pengurus Besar.(57)
Berdirinya Muhammadiyah di Walikukun dipelopori oleh Imam Kormen, pegawai kenaiban (sekarang KUA) Walikukun, yang berasal dari Surakarta. Di Surakarta ia telah mengenal paham dan sepak terjang Muhammadiyah dengan seksama. Ia aktif memberikan pengajian di Tempurejo dan Walikukun. Di luar dugaan, pengajian itu mendapatkan respon masyarakat yang luar biasa, bahkan
Halaman 59
penduduk sekitar desa Walikukun turut serta menghadiri pengajian tersebut. Selain itu, Imam Kormen juga menyelenggarakan Madrasah Diniyah di rumahnya.(58)
Peserta pengajian yang datang dari berbagai desa sekitar Tempurejo-Walikukun itu kemudian menjadi pendiri Muhammadiyah di tempat itu. Setelah dirasa waktu dan situasinya tepat, mereka sepakat mendirikan Muhammadiyah pada 1925. Ranting Muhammadiyah Walikukun (sekarang, Kecamatan Widodaren) berdiri dengan susunan pengurus: Siswopranoto (Ketua), dibantu oleh Imam Kormen, Wirjodiharjo, H. Honggo, Wirjosukarto, K. Abdul Razak, Harjodiwirjo, Imam Fakih, K. H. Amnan, K. M. Syarqowi, K. H. Dimyati.(59)
Situbondo. Paham Muhammadiyah yang pertama kali masuk ke Situbondo diperkenalkan oleh Margosujono, seorang pegawai kantor pos. Ia pindah dari Solo pada 1924. Selain itu terdapat tokoh lain yang berjasa menanamkan paham Muhammadiyah, yaitu Notoamidarmo, penilik sekolah Situbondo, pindahan dari Bondowoso. Sedangkan tokoh-tokoh perintis yang telah menerima paham Muhammadiyah dari dua orang tokoh itu adalah Abdul Gafar Joyosudirjo, Sastrodiwiryo, dan Nimprang Leksono. Ketiganya guru HIS.(60) Tetapi mereka masih ragu-ragu.
Mereka bertiga sepakat untuk mencari tahu ke Bondowoso. Waktu itu Muhammadiyah telah berdiri. Setelah memperoleh penjelasan dari Diposupeno, ketua Muhammadiyah Bondowoso,(61) mereka mulai bergerak menyebarluaskan paham Muhammadiyah kepada handai tolannya.
Muhammadiyah di Situbondo resmi berdiri pada 1925, dengan susunan pengurus: Notoamidarmo sebagai ketua, penulis Abd. Gafar Jojosudirjo, bendahara Sastrodiwiryo, pembantu: Juri, Nimprang Leksana, Wignyosastro, dan Tallip. K.H. Sudja’, wakil dari HB Muhammadiyah Jogjakarta, hadir pada upacara peresmian berdirinya Muhammadiyah dan pengukuhan pengurusnya.(62)
***
Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.





0 Tanggapan
Empty Comments