Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab III berjudul “Muhammadiyah Masa Penjajahan (1921-1942)”, sebagian halaman 55, 56, 57 dan sebagian 58.
Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 24
***
Halaman 55
Jombang. Pelopor berdirinya Muhammadiyah di Jombang adalah H. Rifa’i, Moh. Kusen dan H. Nur Salim. Mereka bertiga diberitakan pernah mengikuti pengajian K.H. Mas Mansur yang diselenggarakan di Jombang. Sebelum mendirikan Muhammadiyah, mereka menetapkan langkah-langkah agar pendirian Muhammadiyah berjalan tanpa hambatan.
Langkah-langkah itu adalah: a. Melakukan silaturrahim kepada K.H. Abd. Wahab Hasbullah seraya meminta petunjuknya. Ini terjadi pada Ramadlan 1342 H/April 1924 M; b. Melaporkan rencana pendirian Muhammadiyah di Jombang kepada
Halaman 56
KH Mas Mansur, seraya meminta petunjuknya; c. Mengadakan rapat untuk mendirikan Muhammadiyah. Rapat ini diselenggarakan di rumah H. Nur Salim, Desa Sambong (kini berdiri pondok pesantren al-Mimbar Jl. K. H. Mimbar), pada bulan Dzul-Hijjah 1342/Juni 1924.(47)
Rapat itu dihadiri 16 orang (calon anggota), dan menghasilkan kesepakatan berdirinya Muhammadiyah di Jombang, dengan susunan pengurus sebagai berikut: H. Mu’thi (Pelindung), H. Nur Salim dan Mohammad Bilal (penasehat). H. Rifa’i (ketua), Matasum (sekretaris), Umar Said (bendahara), Moh. Kusen, Joyokasan dan Mustakim (komisaris).
Muhammadiyah Jombang diperkirakan berdiri sebelum 1923. Hal ini didasarkan pada catatan Almanak Muhammadiyah pada 1924 (h.40), yang menyatakan bahwa Muhammadiyah Jombang pada 1923 sudah eksis dan mempunyai amal usaha berupa sekolah, yaitu Normaal School.(48)
Malang. Pada 1924 ada beberapa orang guru sekolah milik pemerintah dan beberapa orang lainnya di Kota Malang yang tertarik dengan gerakan Muhammadiyah. Mereka adalah, di antaranya, Ronodihardjo, Abd. Rahman (Guru HIS Embong Brantas), E. Abdullah, Syekh Shodik al-Amri, dan R. Suradji. Secara kebetulan Al-Muchtar, salah seorang pendiri Muhammadiyah Kepanjen, pindah
Halaman 57
ke Malang dan mulai mengadakan hubungan dengan orang-orang yang bersimpati dengan Muhammadiyah di Malang.(49)
Pada 1925, datang pula ke Malang Kyai Yasin dari Surabaya atas perintah pemerintah Hindia Belanda. Kyai Yasin diberi tugas khusus untuk memperbaiki mental dan moral masyarakat Malang yang dekaden. Selain memberi pengajian agama Islam di Masjid Jami’ Malang, ia kemudian mendirikan pondok pesantren di Kauman (belakang Masjid Jami’). Nur Yasin, putera Kyai Yasin, setelah menyelesaikan studinya di Al-Azhar, diambil menantu oleh Kyai Ibrahim (adik Nyai Walidah Dahlan dan tokoh pengganti K.H. Ahmad Dahlan).(50)
Di tahun yang sama (1925), seorang muballigh Muhammadiyah bernama Kyai Fanan datang ke Malang. Dia mengajar di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs = SLTP) Tanjung dan di Wilhelmina Celaket Malang. Dia adalah muballigh keliling dengan biaya sendiri. Ceramah agamanya menarik perhatian H. Akuwan, salah seorang tokoh pendiri Muhammadiyah di Sumberpucung. Pada awal 1926 dia bertemu Nur Yasin. Keduanya sepakat untuk merintis berdirinya Muhammadiyah di Malang.(51)
Akhirnya, dengan jerih payah mereka, Muhammadiyah Cabang Malang berdiri pada 24 September 1926, dengan susunan pengurus: K.H.M. Nur Yasin (Ketua), H. Elyas Ronodihardjo (Wakil Ketua), Hidir (Penulis), A. Rahman (Wakil Penulis), E. Abdullah (Bendahara), Al-Muchtar, R. Suradji dan Syarip.(52)
Halaman 58
Di samping Muhammadiyah, pada tahun tersebut Aisyiyah juga sudah eksis, dengan pengurus: Ny. Hj. A. Djari (ketua), R.A. Hasan Surati (penulis), Ny. Hj. Hasyim (bendahara), Ny. Hj. Sjueb dan Ny. Munah Tayib.(53)
***
Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.





0 Tanggapan
Empty Comments