Dalam Muhammadiyah, kepemimpinan KH M.Anwar Zain diterima dengan baik oleh warga. Selain itu, ia mampu membangun hubungan baik dengan organisasi Islam lain. Termasuk dengan partai politik, hubungan yang dibangunnya juga sangat baik.
Setelah Anwar Zain tidak lagi melibatkan diri dalam politik praktis, ia sepenuhnya menekuni kegiatan dakwah di Muhammadiyah. Ia selalu menerima undangan untuk berdakwah di tempat atau ranting Muhammadiyah. Hatta di wilayah yang terpencil sekalipun didatangi, meski alat transportasi belum begitu bagus seperti sekarang.
Dapat dikatakan, hampir seluruh cabang di Jawa Timur pernah dikunjunginya. Termasuk ia juga pernah mendapatkan undangan untuk memberikan pengajian akbar di hadapan masyarakat Muslim di Ambon, Maluku, pada 1393 H./1974 M.
Sebagai ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Anwar Zain juga mengalami masa-masa sulit. Dekade 70-an bagi Muhammadiyah dapat dianggap sebagai masa yang berat. Sebab, beberapa kebijakan politik pemerintahan Orde Baru membatasi ruang gerak organisasi. Khususnya anggota Muhammadiyah yang bekerja sebagai pegawai pemerintahan.
Namun dengan kepemimpinan dan kemampuan komunikasi yang dimiliki, ia dapat mengatasi masa-masa sulit tersebut. Pada masa kepemimpinannya, Muktamar Muhammadiyah ke-40 diselenggarakan di Surabaya pada 24-30 Juni 1978. Muktamar tersebut berjalan dengan meriah, lancar dan sukses, karena kerjasama yang baik dengan berbagai komponen masyarakat dan pemerintah Jawa Timur.
Dalam Musyawarah Wilayah yang diadakan pada 28-29 Oktober 1979, Anwar Zain terpilih kembali sebagai Ketua PWM Jawa Timur. Dalam sambutan yang disampaikan pada acara pelantikan pimpinan Muhammadiyah, Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah pada 24 Maret 1979, ia menegaskan pentingnya perbaikan manajemen organisasi, pengembangan amal usaha Muhammadiyah dan peningkatan ukhuwah Islamiyah.
Pada periode keempat sebagai ketua PWM, penataan manajemen, penataan administrasi dan pengembangan amal usaha di bidang pendidikan dan kesehatan semakin digalakkan. Lembaga pendidikan tingkat dasar, menengah dan tinggi didirikan dan dikembangkan. Demikian juga balai kesehatan dan rumah sakit dibangun untuk meningkatkan pelayanan Muhammadiyah kepada masyarakat.
Ketokohan dan kepemimpinan Anwar Zain menjadi salah satu faktor yang menentukan perkembangan Muhammadiyah dan amal usahanya. Sebagai figur yang memiliki pengalaman dan kepemimpinan yang dapat diterima oleh masyarakat, ia menjadikan Muhammadiyah sebagai organisasi yang berpengaruh. Baik dalam masyarakat Jawa Timur maupun dalam hubungannya dengan pemerintah. Pengaruh Muhammadiyah semakin meluas dengan pertambahan jumlah cabang, ranting dan amal usaha.
Pada masa kepemimpinannya, ia memberikan perhatian kepada kaderisasi melalui pembentukan Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) yang ditempatkan di Universitas Muhammadiyah Surabaya, yang dikelola di bawah seorang direktur, dr. Moh. Suherman.
Perhatian terhadap kaderisasi dan pendirian Pusdiklat ini merupakan pelaksanaan dari amanat dan hasil Muktamar ke-40 tahun 1978. (Bersambung)
Baca: KH M. Anwar Zain: Milik Muhammadiyah dan Umat Islam (1)
Baca: KH M. Anwar Zain: Milik Muhammadiyah dan Umat Islam (3)





0 Tanggapan
Empty Comments