Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab V berjudul “Muhammadiyah Masa Kebangkitan (1956-2004)”, halaman 229 s/d sebagian 234.
Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 76
***
Halaman 229
- Kabupaten Magetan
Pada 1960-an PCM Kecamatan Magetan menempati gedung milik tokoh Muhammadiyah yang sekarang diwaqafkan menjadi TK ABA. Ketika itu PCM Magetan dipelopori Ustadz Moh. Wadjib dan Ustadz Kusmen. Fungsionaris PCM yang memiliki kemapuan administrasi adalah Wakijo, ia ditugasi menata kantor PCM sebagai pengendali aktivitas organisasi.
Tetapi karena ruangannya sangat sempit, banyak warkat-warkat yang tidak terurus, kemudian dibakar. Ranting-rantingnya antara lain Selosari, Kepolorejo, Ngariboyo, Magetan, dan Banyudono. Sempat didirikan Ranting Kebonagung dan Bulukerto. Pada periode 1970-1975 dipimpin Kurdi Ichsan (ketua), Much. Amin (wakil ketua), dan Wadjib Dwidjo Atmodjo, Sukirmani, Suadi, Ridlo Subani, Soemingan, H. Padi Sumarsono, dan Muchsin. (anggota).
Pada periode itu diwarnai berbagai pengembangan model dan prosedur dakwah dengan cara mendiskusikan pemikiran-pemikiran baru dalam Muhammadiyah.
Pada periode 1980-1985 dikendalikan M. Amin, Khan’an, Sukarlan, Anjar Mintorogo, Fanani Sukadi, Kharis Iksan, Kusnani, Ridlo Subani, dan Kusman. Pada tahun 1982 diadakan Pengajian Akbar di Masjid Agung yang pengunjungnya meluber sampai Alun-alun. {130}
Kegiatan tabligh yang diprakarsai Fanani Sukadi dilakukan secara dialogis, tentang struktur masyarakat yang dicita-citakan Islam. Pada sekitar 1984, diadakan acara silaturahim warga Muhammadiyah Magetan dan dihadiri A.R. Fachruddin. Setelah Muktamar Solo, tahun 1985 dilakukan pengkaderan Muhammadiyah
Halaman 230
tingkat Kabupaten. {131} Pada periode ini semangat kebangkitan cabang-cabang muncul.
Musyda 1986 memilih pimpinan periode 1985-1990. Sukirmandi terpilih sebagai ketua, dengan anggota: Kharis Iksan, Anjar Mintorogo, Muchsin, Sukadi, Padi Sumarsono dan Khanan. Kepemimpinan berjalan dua tahun, Sukirmandi meninggal dunia, lalu diganti Sarkum.
Musyda di Hotel Tentrem, 5 Januari 1992, memilih pimpinan periode 1990-1995. H. Muhammad Kusnaini sebagai ketua. F. Sukadi, Ridlo Subani, Anjar Mintorogo, H. M. Khanan, M. Arifin, M. Kharis Ichsan, Sarkum, dan Mas Suhantojo sebagai anggota. Problem rumit dihadapi pada masa ini karena perbedaan pandangan antara golongan muda dan tua tentang pola perjuangan. Untuk menjembatani perbedaan tersebut, diadakan “Silaturahim Keluarga Muhammadiyah Magetan” tanggal 24 April 1994, yang dihadiri Ketua Pimpinan Pusat K.H. Achmad Azhar Basyir.
Pada 1998, Magetan menjadi tuan rumah dan panitia Musywil Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur. Pada Oktober 2000, Magetan kembali dipercaya sebagai tuan rumah acara tingkat wilayah, dalam hal ini sebagai tuan rumah dan panitia Musywil Muhammadiyah Jawa Timur di Sarangan.
Musyda periode 2000-2005 diadakan di rumah P. Achmad, Jl. Salak. Ketua terpilih adalah Drs. Kusman, dibantu Drs. Shahrir dan Drs. Hawari sebagai wakil ketua. Pada periode ini pula didirikan Lembaga Bimbingan Haji Al-Muchlisin yang dipelopori Zainul Muslimin, Achmad Sedio Utomo, Muchsin, dan Nursalim.
Kini PDM Magetan memiliki 10 cabang dan 57 ranting. Salah satu cabang yang penting untuk disebut di sini adalah PCM Plaosan yang dibentuk sekitar 1955, semula berupa ranting yang berkedudukan di Nitikan Sumberagung. Ngalimun dan Sumadi sebagai perintisnya, ketika kondisi sosial masyarakat masih terbelakang, faham komunis masih mendominasi ideologi di samping praktik bid’ah dan khurafat masih merajalela. Kegiatannya antara lain pengajian keliling dan pembenahan organisasi.
Respon masyarakat dan pemerintah makin membaik. Anggotanya banyak dari kalangan guru Sekolah Dasar, karena
Halaman 231
Ngalimun dan Sumadi adalah guru. Pengaruh mbah Suryo Haryono sangat besar bagi perkembangan keanggotaan. Perubahan ranting menjadi cabang terjadi pada 1966, dan diketuai oleh Sumadi, dibantu Dullah, Budiono, dan Suroso. Ranting-ranting yang ada: Bogoarum, Nitikan, Pacalan, Sidomukti, Sidorejo, dan Ngancar. Kepengurusan ini berjalan hingga 1970-an.
- Kabupaten Pacitan
Setelah vakum antara 1933-1957, Muhammadiyah Lorok (Pacitan) mencoba bangkit kembali. Menurut Ibnu Mas’ud, Atmo Prajitno, dan Kasan Asmo, kebangkitannya diawali dengan berdirinya SMPM pada 1957. Situasi sosial-politik yang tidak menentu menjadi katalisator bagi perebutan dukungan dan simpati politik.
Karena itu, PKI dan PNI mencoba mendukung dukungan politik lewat institusi pendidikan. Mereka menyelenggarakan lembaga pendidikan yang dirancang menyokong eksistensi mereka. Menghadapi situasi semacam itu, para eksponen Muhammadiyah menggagas pendidikan Islam yang bernama SMP Muhammadiyah. Proses inilah yang menyembulkan semangat untuk mendirikan Muhammadiyah kembali, yang dirintis oleh Ibnu Mas’ud, Atmo Prajitno, dan Kasan Asmo.
Perkembangan Muhammadiyah Lorok rupanya berbeda dengan awal kelahirannya. Respons masyarakat amat besar. Dalam waktu yang tidak telalu lama cikal bakal Muhammadiyah Pacitan tersebut berubah menjadi cabang dengan memiliki 10 ranting dan mengelola lembaga pendidikan SR, SMP, dan PGA. Beberapa cabang mulai berdiri.
Cabang-cabang tersebut mencerminkan respons masyarakat bahwa Muhammadiyah dinilai sebagai gerakan Islam yang potensial memajukan Islam dan umat Islam. Dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama, dua cabang berdiri, yaitu Cabang Tegalombo (1959) dan Cabang Pacitan (1961).
Cabang Tegalombo berdiri atas usaha M. Djawahir, M. Muzakir, dan Sudji Rahmat. Sedangkan, Midchal, BA., Kepala Inspeksi Pendidikan Agama Pacitan, Suratman, dan Sofwan Widagdo, guru agama adalah tokoh-tokoh yang merambah Muhammadiyah Cabang Pacitan.
Sumardi Amin, S.Sos. terpilih sebagai ketua pimpinan daerah periode 2000-2005, dibantu Drs. H. Abdul Hamid Arif dan Drs.
Halaman 232
Muh. Yasin sebagai wakil ketua. Drs. Akhmad Munib Siraj sekretaris, Suprayitno Ahmad, S. Ag. wakil sekretaris, dan Warsono bendahara. Dengan anggota Drs. Thoyib Basuki, M.Pd., Drs. Masduki, Drs. H. Abdullah Mawardi, Dr. H. Hendra Purwaka, MPPM, Drs. Misro Sudibyo, MM, H. Moh. Isma’il, S.Ag. H. Gandung Mujono.
PDM Pacitan membina 11 cabang dan 26 ranting. Ketua Aisyiyah Ny. Hj. Kibtiyah, S.Ag. Ketua Pemuda Muhammadiyah Suyitno. Ketua Nasyiyatul Aisyiyah Endang Sumiati, S. Ag. Ketua IMM Agus Cahyono. Sementara IRM Tuparni, Hizbul Wathan Drs. Mohammad Dalyono, M.Pd., dan Tapak Suci Ahmad Santoso Hs, S.Si.
- Perkembangan Amal Usaha
Setelah Muktamar Palembang 1956, Muhammadiyah memasuki masa kebangkitan, yang ditandai dengan menjamurnya amal usaha, termasuk pendidikan. Di mana-mana telah tembuh lembaga pendidikan yang jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan masa sebelumnya.
Pada masa ini pula jumlahnya terus bertambah dari tahun ke tahun, sehingga di semua daerah Muhammadiyah telah berdiri lembaga pendidikan prasekolah, seperti play group (kelompok bermain) dan taman kakan-kanak; sekolah dasar, yakni SD dan
Halaman 233
Madrasah Ibtidaiyah; sekolah menengah, yakni SMP, Madrasah Tsanawiyah, SMA, SMK dan Madrasah Aliyah; di beberapa daerah bahkan terdapat perguruan tinggi, seperti universitas, sekolah tinggi dan akademi.
Di samping itu, Aisyiyah juga memiliki taman kanak-kanak, yang pada 2004 berjumlah 503 buah. Jumlah itu terus berkembang setiap tahunnya; demikian halnya dengan play group dan taman pendidikan al-Qur’an. Persyarikatan ini juga memiliki sejumlah pesantren di beberapa daerah, misalnya di Lamongan, Probolinggo, Sumenep, Malang dan Surabaya.
Pada 2002 berdiri Ma’had ‘Umar bin Khattab di Surabaya, yang di dalamnya terdapat program pendidikan Bahasa Arab dan menghafal al-Qur’an. Pada 2004 datang enam mahasiswa dari Republik Cina untuk belajar bahasa Arab di pesantren ini.
Jika pendidikan dasar dan menengah telah muncul sejak periode awal perkembangan Muhammadiyah dan mulai menjamur pada pertengahan 1950-an, maka pendidikan tinggi baru muncul pada 1960an. Di Malang, para tokoh Muhammadiyah mendirikan Fakultas Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Masyarakat pada tahun 1964, yang kemudian berkembang menjadi Universitas Muhammadiyah Malang.
Pada tahun yang sama (1964) di Surabaya atas prakarsa H. Anwar Zain, Saleh Bayasut, H. Mas’ud Atmodiwiryo, Rahmat Djatnika dan A. M. Nur Salim Cholil, M.A. didirikan Fakultas Ilmu Agama Jurusan Dakwah (FIAD). Kuliyah perdananya disampaikan KHA. Badawi (Ketua PP Muhammadiyah) bersamaan dengan pelantikan Nur Salim Cholil, M.A. sebagai dekan.
Kemudian, pada 1980 berdirilah IKIP Muhammadiyah Surabaya, dan 1981 Institut Teknologi Muhammadiyah Surabaya. Semua lembaga itu kemudian dilebur menjadi Universitas Muhammadiyah Surabaya pada 1984. Pada 1964 berdiri di Ponorogo Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammadiyah Ponorogo, yang kemudian berkembang menjadi Unmuh Ponorogo.
Gairah untuk mengembangkan pendidikan tinggi muncul kembali sejak akhir 1970-an. Pada 1978 di Jember berdiri Akademi Bank Mandala, yang kemudian berubah nama menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Mandala. Pada 1980 berdiri Universitas Muhammadiyah Gresik, kemudian pada 1 September 1981 berdiri Universitas Muhammadiyah Jember. Pada 1984 berdiri STIT.
Halaman 234
Muhammadiyah Sidoarjo yang pada saat itu merupakan bagian dari Universitas Muhammadiyah Malang. Lembaga itu baru berdiri sendiri pada 1989. Bersamaan itu pula berdiri Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian dan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Informatika dan Komputer. Setelah itu, pada 1995 berdiri Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi. Tahun 2001 semua sekolah tinggi itu bergabung menjadi Unmuh Sidoarjo. {132}
***
Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.





0 Tanggapan
Empty Comments