Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Buku Menembus Benteng Tradisi – 76

Iklan Landscape Smamda
Buku Menembus Benteng Tradisi – 76

Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab V berjudul “Muhammadiyah Masa Kebangkitan (1956-2004)”, halaman 224 s/d sebagian 229.

Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 75

***

Halaman 224

Muhammadiyah pertama kali masuk ke Kedungadem pada 1959 oleh Suparto, seorang pegawai pengadilan yang berdiam di wilayah Kecamatan Kedungadem. Suparto sendiri asli Lumajang; selanjutnya diteruskan ke ranting-ranting oleh Moh. Hazim, Ngabdan, dan H. Ya’kub. Di Kedungadem pertama kalinya ide-ide Muhammadiyah disosialisasikan melalui dakwah, pengajian dan khutbah Jum’at.

Sekitar 1963, Muhammadiyah masuk desa Sugihwaras dan desa Bareng dibawa H. Ahmad Dahlan Nur dengan mendirikan madrasah dengan tujuan mempengaruhi pola pikir masyarakat sekitar. Pada 1965 Muhammadiyah di Sugihwaras mendapat pengesahan PP Muhammadiyah dengan status cabang.

Muhammadiyah Cabang Kanor disahkan Pimpinan Pusat tahun 1966. Proses masuknya paham Muhammadiyah di Kanor tidak lepas dari peran Mashudi, seorang tokoh kharismatis yang tinggal di Jl. Cokroaminoto Bojonegoro. Pengenalan paham ini berjalan lancar, baik melalui kekerabatan maupun faktor interaksi atau hubungan kolegial.

Nama-nama lain yang punya andil, seperti Jayusman (Jumo-Samberan), Munasir (Palembon), Danang Siswo Sudarmo (Leran-Palembon), Kanapi Budi Maskidin (Sedeng), Ahyar (Simbatan), Dimhari (Pesen), Sumadi (Tejo), Talhah (Sarangan), Mahbub, Mashuri, Pasiran (Cangaan), Kasdan, Kuntari (Piyak), Kabul, K. Sulaiman (Tambakrejo), Subari (Pilang), Maskur, dan Kasdiran (Mejaeng-Bakung). Mereka semua pada 1966 mendapat piagam berdirinya Cabang Kanor. Saat itu kegiatan dipusatkan di rumah Kanapi di Sedeng.

Tokoh-tokoh perintisnya sebagian besar adalah PNS. Ketika ada kebijakan monoloyalitas, pada 1971-1976 PCM nyaris tanpa ada kegiatan. Di tengah kegalauan itu beberapa tunas muda seperti Sa’adullah Sudarto, Abdul Wahab, Mulyono AR dan Syafi’i Huda

Halaman 225

bertekad menyelamatkan perjuangan. Semboyan mereka, “Bendera boleh tidak berkibar, namun semangat dan ideologi harus tetap berkobar.” Dengan strategi itu PCM Kanor terus berjalan sesuai kemampuan. {118}

  1. Kabupaten dan Kota Madiun

Sebelum Perang Dunia II (1939-1945), wilayah gerak Muhammadiyah Madiun meliputi eks Karesidenan Madiun dan sebagian daerah Kabupaten Nganjuk. Pada 1934 tercatat pada Hofd Bestuur Muhammadiyah bahwa cabang-cabang yang berada di bawah daerah Madiun adalah Ponorogo, Ngawi, Madiun. Sedangkan gerombolannya adalah: Walikukun, Uteran, Gorang-gareng, Magetan, Caruban, Glodog, Nganjuk, Barat, Jetis, Ngunut, Siman, Maospati, Balong, Padas, dan Kertosono. {119}

Pasca Kemerdekaan, menurut SM tahun 1951, disebutkan bahwa Muhammadiyah Madiun memiliki 5 cabang dengan jumlah ranting sebanyak 20 buah. {120}

Dalam SM tahun 1953, disebutkan bahwa Muhammadiyah Daerah Madiun menggelar Konperda (21-23 Maret 1953) yang di antaranya memutuskan: (1) Rencana latihan jihad, (2) Penelitian terhadap anggota yang menjadi anggota partai non-Islam, (3) Rencana pembukaan sekolah Wustha Muallimin dan masalah Kepala Sekolahnya, dan (4) menyukseskan Pemilu 1955. {121} Empat tahun kemudian dapat diketahui lagi kepengurusan Muhammadiyah Madiun 1957-1966 di bawah ketua Hadi Soetrisno.

Halaman 226

Pada masa Orde Baru (1966-1998) Muhammadiyah bangkit kembali memainkan peran yang telah dijalaninya sejak 1924.

Moh. Syamsori, ketua PDM Madiun 1966-1986, membangkitkan kembali cabang-cabang yang telah lama vakum. Cabang Geger (1966) bangkit kembali. Cabang yang mengkordinasi Ranting Jatisari, Geger, dan Sangen itu dipimpin Suharno; Cabang Madiun (1968) dengan pertimbangan efektivitas organisasi dimekarkan menjadi Cabang Madiun Barat, Madiun Timur dan Cabang Jiwan.

Pada Periode 2000-2005, PDM Madiun membina 13 cabang dan 39 ranting. Menjelang akhir 2004, PDM Madiun dikembangkan menjadi PDM Kota dan PDM Kabupaten. Kini PDM Kota dipimpin Ir. Harsan Badawi (ketua) dan Edy Sanyoto (sekretaris). Sedangkan PDM Kabupaten dipimpin oleh Drs. Ahmad Zainuri (ketua) dan Drs. Syamsuddin (sekretaris).

  1. Kabupaten Ponorogo

Muhammadiyah Ponorogo pada 1958 berstatus Cabang dan dipimpin oleh Syahlan Wahidy. {122} Pada masa ini mengalami kemajuan pesat, baik dalam pengembangan ortom, cabang-cabang yang diawali dengan kegiatan pengajian pada masing-masing desa atau tempat, mapun amal usaha sebagai sarana dakwah. {123}

Pembubaran HW terjadi karena rasionalisasi terhadap gerakan kepanduan pada 1961. Kebijakan tersebut menghentikan langkah HW yang telah banyak berjasa pada pengembangan Muhammadiyah. HW Ponorogo yang berdiri sejak 1924, merupakan salah satu daya tarik Muhammadiyah dalam masyarakat. Banyak pemuda tertarik dan bangga terhadap HW.

SMPM 5 Pucang SBY

Pembubaran HW berdampak kelesuan dan kevakuman aktivitas Pemuda Muhammadiyah. Untungnya, pengurus Cabang Muhammadiyah mengambil langkah strategis dengan mengangkat M. A. Hardono sebagai ketua Pemuda Muhammadiyah.

Pengalaman organisasi Hardono di PII (Pelajar Islam Indonesia) sangat bermanfaat untuk mengembalikan aktivitas Pemuda Muhammadiyah. Perubahan status Cabang Muhammadiyah Ponorogo menjadi Daerah Ponorogo dengan ketuanya Syahlan Wahidy diresmikan oleh pimpinan pusat pada 1967. {124} Pada 1969, Sidang Tanwir digelar di Ponorogo, yang melahirkan Matan

Halaman 227

Keyakinan dan Cita-cita Hidup (MKCH) Muhammadiyah. {125} Pada periode 1995-2000, PDM Ponorogo dipimpin oleh Drs. Abdul Fatah, di tengah periode ia terpilih sebagai anggota DPRD Ponorogo, lalu diganti Abdul Halim. Pada periode berikutnya (2000-2005), Drs. Aris Sudarli Yusuf terpilih sebagai ketua, dibantu Abdul Halim, Muh. Wahyudi Budiarjo sebagai wakil ketua. Drs. Gunari Mahmud Hasan sebagai sekretaris, dan Drs. Muahmmad Idris Setrianto sebagai wakil sekretaris. Membina 20 cabang dan 146 ranting.

  1. Kabupaten Ngawi

Atas inisiatif HM Jusuf, dibantu Krido W, Muhammadiyah dapat bangkit kembali pada 50-an. Pada 1952 Muhammadiyah Ngawi dipimpin M. Kormen (Ketua) dibantu M. Taman dan Moertedjo (Anggota), meneruskan upaya pembaharuan yang telah dimulai Jusuf dan Krido.

Waktu yang hanya 2 tahun bagi Kormen belum dapat berbuat banyak bagi kemajuan Persyarikatan. Pada 1954 diteruskan Hadi Sutrisno (Kepala KUA Kabupaten), M. Kormen sebagai pembantu bersama-sama M. Tamam dan Krido W sebagai anggota. Pada periode 1957-1960 Krido menjabat sebagai ketua, sedangkan Suhaimi sebagai Sekretaris. {126} Periode 1960-1963 Raechan Hadisoewirjo sebagai ketua, Murtedjo wakil ketua, Sukardi

Halaman 228

keuangan, M. Ishadi dan Sutedjo anggota. Pada masa Orde Lama Muhammadiyah terkendala oleh citranya sebagai organisasi penampungan bekas Masyumi yang sangat dijelek-jelekan oleh kalangan anti Islam. Sehubungan dengan itu kegiatannya terbatas pada pengembangan zakat fitrah, menyelenggarakan qurban, salat Id di lapangan terbuka dan menggalakkan salat tarawih berdasarkan tuntunan Rasulullah secara berjamaah.

Tahun 1963-1964 cabang Ngawi dipimpin M. Isa (Ketua), Machroji (Sekretaris), Supriyo, Muchsin, Soenardi, dan Chusojin (Anggota). Aktivitas periode ini tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Satu kegiatan yang berbeda hanyalah takbir keliling kota dalam rangka menyambut Idul Fithri 1963/1964. Kepemimpinan M. Isa berjalan 1 tahun, kemudian diganti kepengurusan baru.

Periode 1964-1965 dipimpin R. Hadi Santoso (Ketua), M. Sholeh Marzoeqi (Wakil Ketua), Soenardi (Sekretaris), Abu Sudja (Keuangan), Sutedjo, Sunyoto, Shusojin, Muchsin, dan Ali Murtadlo (Anggota). Di masa ini terealisasi tarawih 11 rakaat di masjid jami’, dan Pemerintah turut serta mendukung pelaksanaan salat Id di lapangan, serta mengadakan up grading kepemimpinan, yang diikuti oleh 35 kader.

Pada 1965 Muhammadiyah Cabang Ngrambe secara resmi berdiri. Pengurus baru (1965-1966) dibentuk. Ketua dijabat oleh M. Sholeh Marzoeqi, R. Hadi Santoso (wakil ketua), Soenardi (sekretaris), Abu Sudja (keuangan), Sutedjo, Muchin, Shusojin, Achjar Effendi dan Kajat Ichsan Effendi (anggota).

Perubahan status dari Cabang menjadi Daerah disahkan oleh PP Muhammadiyah No. 104/PMD tanggal 16 Juli 1967, dengan susunan pengurus M. Sholeh Marzoeqi (ketua), R. Hadisantoso (wakil ketua), M. Alwan Tafsiri, Sunardi (sekretaris I-II), Aboe Soedja (bendahara), R. Moh. Dimyati, Slamet HS, Mubini, BA., Muchsin, Zubaidi, Saidi, dan Ali Moertadlo (anggota). {127}

Kepengurusan tersebut berjalan selama 23 tahun (1967-1990). Pada 15 April 1968 diresmikan berdirinya Cabang Jogorogo dan STIT Muhammadiyah Ngawi pada tahun 1978. {128}

Tahun 1990-1995 PDM Ngawi dipimpin H. M. Djahro (ketua), H.M. Fadhil, Laman, B.A. (wakil ketua), Drs. Sunarto Widjanarko (sekretaris), Drs. Madyo Widodo (bendahara), Drs. Marsahid (wakil bendahara), Ichsanuddin, Darsono, SH., dan M. Sholeh Marzoeqi

Halaman 229

(anggota). Lima tahun kemudian (1995-2000) H. M. Fadhil terpilih sebagai ketua. Untuk periode 2000-2005, PDM dipimpin H. M. Aminuddin. PDM Ngawi memiliki 16 cabang, Ketua cabang masing-masing adalah sebagai berikut: Mantingan, Ir. Drs. Sutjipto; Widodaren, Drs. H. Sunaryo; Sine, Drs. Bardaini; Padas, Mardi Suwigny, S.Ag; Karangjati, M. Romdhon A. Karim, S.Ag; Kendal, H. Suradi; Kwadungan, Imam Sudjono; Paron, Drs. Darus; Geneng, Qomaruddin, BE; Pangkur, Kuspandari, S.Pd.; Kedunggalar, Drs. Mursid Slamet; Ngawi, Drs. Gucik Sanusi; Pitu, Imam Sukemi; Jogorogo, Drs. Abdul Razak; Ngrambe, Slamet HWS; dan Bringin, Muryanto. {129}

***

Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 18/07/2026 15:14
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu