Muktamar Tapak Suci Putera Muhammadiyah XVI yang diselenggarakan pada Kamis-Sabtu (6–9/8/2026) di Semarang bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan organisasi. Lebih dari itu, muktamar merupakan momentum strategis untuk memperteguh persaudaraan, memperkuat karakter kader, sekaligus melahirkan kepemimpinan yang amanah, berintegritas, dan visioner dalam menghadapi tantangan zaman.
Tapak Suci lahir dari akar tradisi bangsa Indonesia yang kaya akan nilai-nilai luhur, keberanian, kedisiplinan, serta penghormatan terhadap akhlak. Tradisi tersebut tidak menjadikan Tapak Suci terkungkung pada romantisme masa lalu. Justru dari akar yang kokoh itulah organisasi ini terus tumbuh menjadi perguruan pencak silat yang modern, mandiri, dan mampu menembus pergaulan dunia.
Sebagai organisasi otonom Muhammadiyah, Tapak Suci memikul amanah yang tidak ringan. Ia bukan hanya mencetak atlet berprestasi, tetapi juga menjadi salah satu benteng ideologi Muhammadiyah. Di tengah derasnya arus globalisasi dan perubahan sosial, Tapak Suci memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai Islam Berkemajuan kepada generasi muda melalui pembinaan karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, dan semangat dakwah.
Karena itu, ukuran keberhasilan Tapak Suci tidak semata-mata diukur dari jumlah medali yang diraih dalam berbagai kejuaraan. Prestasi di arena pertandingan memang membanggakan dan telah menjadi bukti kualitas pembinaan selama ini. Namun, prestasi yang lebih besar adalah lahirnya kader-kader yang menjadi teladan di tengah masyarakat, mengabdi di berbagai profesi, serta membawa nama baik Muhammadiyah dengan akhlak, kompetensi, dan dedikasi.
Jejak kader Tapak Suci hari ini telah tersebar di seluruh Indonesia, bahkan mancanegara. Kehadiran Perwakilan Istimewa Tapak Suci di berbagai negara menjadi bukti bahwa organisasi ini telah berkembang melampaui batas geografis. Pencak silat tidak lagi hanya menjadi warisan budaya bangsa, tetapi juga menjadi media dakwah, diplomasi budaya, dan penguatan persaudaraan lintas bangsa.
Tentu, perkembangan tersebut harus diikuti dengan tata kelola organisasi yang semakin profesional. Era digital menuntut Tapak Suci membangun sistem organisasi yang adaptif, transparan, dan akuntabel. Penguatan kaderisasi, pemanfaatan teknologi informasi, pengembangan riset kepelatihan, serta sinergi dengan amal usaha Muhammadiyah perlu menjadi agenda prioritas agar organisasi semakin relevan bagi generasi masa depan.
Muktamar XVI menjadi kesempatan untuk merumuskan arah perjalanan Tapak Suci ke depan. Kepemimpinan yang lahir dari muktamar diharapkan tidak hanya mampu menjaga tradisi dan marwah organisasi, tetapi juga memiliki keberanian melakukan inovasi. Organisasi yang besar adalah organisasi yang mampu menjaga nilai-nilai dasarnya sembari terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Tapak Suci adalah lebih dari sekadar perguruan pencak silat. Ia adalah ruang pembentukan manusia yang beriman, berilmu, berakhlak, dan berprestasi. Dari gelanggang lahir sportivitas, dari latihan tumbuh kedisiplinan, dan dari persaudaraan tumbuh kekuatan dakwah.
Semoga Muktamar Tapak Suci XVI menjadi titik tolak lahirnya gagasan-gagasan besar, kepemimpinan yang amanah, serta semangat baru untuk membawa Tapak Suci semakin mandiri, semakin berkemajuan, dan semakin mendunia, tanpa pernah tercerabut dari akar tradisi bangsa dan nilai-nilai Islam yang menjadi fondasinya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments