Jari-jari mungil itu bergantian dicelupkan ke tinta biru. Senyum bangga langsung merekah di wajah mereka saat telunjuk yang telah bertinta diangkat tinggi-tinggi. Di depan, bilik suara berjajar rapi, kotak suara transparan menunggu lembar demi lembar surat suara, sementara antrean pemilih terus bergerak dengan tertib. Sekilas, suasana itu menyerupai tempat pemungutan suara pada pemilihan umum. Bedanya, seluruh pemilih mengenakan seragam sekolah dasar.
Pemandangan tersebut hadir di halaman SD Muhammadiyah 5 Porong, Kabupaten Sidoarjo, Rabu (5/8/2026). Hari itu, sekolah menyelenggarakan pemilihan Ketua dan Wakil Ketua IPM Kids sebagai media pembelajaran demokrasi bagi peserta didik. Seluruh warga sekolah terlibat, mulai dari siswa kelas 1 hingga kelas 6, guru, tenaga kependidikan, petugas keamanan, bahkan penjaga kantin.
Anak-anak datang dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Sebagian tampak memperhatikan tata cara pencoblosan, sementara yang lain sibuk menunjukkan surat suara kepada temannya sebelum memasuki bilik. Meski baru pertama kali mengikuti proses seperti ini, mereka menjalani setiap tahapan dengan tertib, mulai dari menerima surat suara, mencoblos pilihan, memasukkan surat suara ke dalam kotak, hingga mencelupkan jari ke tinta sebagai tanda telah menggunakan hak pilih.
Pemilihan kali ini mempertemukan dua pasangan calon Ketua dan Wakil Ketua IPM Kids. Pasangan pertama diisi M. Nizham Alfarisq dan M. Mirza Hakim, sedangkan pasangan kedua diusung Syahreza Abdan El Hakim bersama Idfaq Kinasa.
Sebelum hari pemungutan suara, kedua pasangan calon telah menyampaikan visi dan misi mereka di hadapan seluruh siswa. Dengan gaya yang lugas dan penuh percaya diri, masing-masing menawarkan berbagai gagasan untuk mengembangkan kegiatan IPM Kids agar lebih aktif, kreatif, dan bermanfaat bagi seluruh warga sekolah. Tepuk tangan dari para siswa beberapa kali mengiringi penyampaian program yang mereka tawarkan.
Proses pemungutan suara berlangsung tertib. Dari 157 surat suara yang digunakan, sebanyak 156 dinyatakan sah, sedangkan satu surat suara tidak sah. Setelah seluruh suara dihitung, pasangan Syahreza Abdan El Hakim dan Idfaq Kinasa memperoleh 89 suara dan dinyatakan terpilih. Sementara pasangan M. Nizham Alfarisq dan M. Mirza Hakim memperoleh 67 suara.
Namun, bukan hasil akhir itulah yang paling membekas.
Sesaat setelah hasil dibacakan, kedua pasangan calon saling mendekat, berjabat tangan, lalu berpelukan diiringi tepuk tangan seluruh warga sekolah. Para pendukung yang sejak pagi memberikan dukungan kepada kandidat masing-masing turut saling memberi selamat. Tidak ada tangisan, tidak ada saling menyalahkan. Halaman sekolah sore itu dipenuhi senyum dan tawa yang menandai berakhirnya pesta demokrasi kecil dengan suasana penuh persaudaraan.
Kepala SD Muhammadiyah 5 Porong, Daris Sambiono, S.Pd., M.M., mengatakan bahwa kegiatan tersebut dirancang agar peserta didik tidak hanya mempelajari demokrasi melalui teori di ruang kelas, tetapi juga mengalaminya secara langsung.
“Kami ingin menanamkan nilai demokrasi, kejujuran, dan tanggung jawab sejak dini. Anak-anak tidak hanya mendengar teori di kelas, tapi merasakan langsung bagaimana menjadi pemilih yang bertanggung jawab. Mereka belajar bahwa kalah dan menang itu biasa, tetapi persaudaraan tetap utama. Itulah esensi demokrasi yang sebenarnya,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Kaur Kesiswaan, Agustina Indah N.K., S.Hum., S.Pd. Menurutnya, pengalaman mengikuti pemilihan secara langsung menjadi sarana membangun karakter sekaligus melatih sikap menghargai perbedaan.
“Anak-anak belajar bahwa setiap pilihan harus dihargai dan hasil akhir diterima dengan lapang dada. Ini melatih keberanian, sportivitas, serta sikap menghargai perbedaan sejak usia dini. Melihat mereka saling berpelukan setelah pengumuman hasil, saya benar-benar haru. Pengalaman seperti ini akan membekas seumur hidup mereka.
Ketua Panitia Pelaksana, Afif Mumtaz Abadi, S.Pd.I., mengaku bersyukur seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar. Baginya, suasana yang tercipta setelah pengumuman hasil menjadi gambaran keberhasilan pendidikan karakter yang dibangun di sekolah.
“Alhamdulillah, seluruh rangkaian berjalan sangat baik. Antusiasme warga sekolah sungguh di luar dugaan! Yang paling membuat saya bangga adalah bagaimana kedua paslon dan seluruh siswa menerima hasil dengan kepala tegak dan hati lapang. Tidak ada pertikaian, yang ada justru pelukan. Ini bukti bahwa pendidikan karakter di sekolah kami berhasil,” tuturnya.
Pengalaman itu juga membekas bagi para siswa. Seorang siswa kelas 3 mengaku sempat gugup ketika memasukkan surat suara ke dalam kotak.
“Ini pertama kalinya aku milih, seru banget! Aku jadi tahu kalau suaraku berarti,” ujarnya sambil tersenyum.
Sementara Dafa, siswa kelas 5 mengaku tetap senang meski pasangan calon yang didukungnya tidak terpilih.
“Meskipun paslon favoritku kalah, aku tetap senang. Mereka berdua keren dan tetap temanku. Yang penting IPM Kids maju,” katanya.
Menjelang siang, antrean di tempat pemungutan suara mulai berkurang. Satu per satu siswa meninggalkan halaman sekolah dengan tinta biru yang masih menempel di ujung jari telunjuk mereka. Tinta itu mungkin akan hilang setelah beberapa kali dicuci. Namun, pengalaman tentang menggunakan hak pilih, menghargai perbedaan, menerima hasil dengan lapang dada, dan menjaga persaudaraan kemungkinan akan tinggal lebih lama dalam ingatan mereka. Dari bilik suara sederhana di lingkungan sekolah, mereka sedang belajar menjadi warga negara yang memahami makna demokrasi sejak usia dini. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments