SMP Muhammadiyah 1 Gresik (Spemutu) bersama Puskesmas Alun-Alun Gresik mengenalkan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) kepada warga sekolah melalui penyuluhan kesehatan di Aula Al-Qolam Spemutu, Selasa (22/9/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan Nurul Fajriyah dari Puskesmas Alun-Alun Gresik sebagai pemateri. Penyuluhan membahas kesehatan fisik, psikologis, dan sosial serta pengenalan kondisi luka psikologis dan krisis.
Nurul menjelaskan bahwa kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga mencakup kesehatan psikologis dan sosial. Menurutnya, kondisi psikologis seseorang dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari dan perlu diperhatikan ketika muncul perubahan tertentu.
Ia menyebut beberapa kondisi yang dapat menjadi tanda adanya persoalan psikologis, di antaranya stres, sulit tidur atau insomnia, serta perubahan perilaku yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Selain kesehatan psikologis, Nurul menjelaskan pentingnya kesehatan sosial. Menurutnya, seseorang dikatakan sehat secara sosial ketika mampu berinteraksi dan bergaul dengan lingkungan, termasuk dengan teman-teman seusianya.
“Sehat secara sosial artinya kita bisa bergaul dengan teman. Kalau seseorang tidak bisa berteman dengan teman seusianya, kemudian lebih sering mengurung diri atau menarik diri dari lingkungan, hal tersebut perlu menjadi perhatian,” jelasnya.
Mengenali Luka Psikologis dan Krisis
Dalam penyuluhan tersebut, Nurul menerangkan bahwa P3LP merupakan bentuk pertolongan awal dasar, bukan pengobatan. Pertolongan tersebut diberikan kepada seseorang yang sedang mengalami kondisi psikologis tidak nyaman sebelum mendapatkan penanganan lebih lanjut apabila diperlukan.
Menurut Nurul, luka psikologis merupakan rasa tidak nyaman yang bersifat berlebihan hingga mengganggu aktivitas keseharian. Kondisi tersebut dapat muncul akibat kejadian berat yang dialami seseorang atau sebagai respons terhadap sebuah krisis.
“Luka psikologis adalah rasa tidak nyaman yang bersifat berlebihan dan mengganggu aktivitas keseharian, yang disebabkan oleh kejadian yang berat atau sebagai krisis,” terangnya.
Nurul juga menjelaskan bahwa krisis dapat berupa peristiwa penuh tekanan yang dianggap luar biasa oleh seseorang. Respons setiap individu terhadap peristiwa tersebut dapat berbeda sehingga kondisi orang yang mengalami tekanan perlu diperhatikan oleh lingkungan di sekitarnya.
Pemahaman tersebut menjadi bagian dari materi P3LP yang dikenalkan kepada warga sekolah. Melalui materi tersebut, warga sekolah diajak mengenali kondisi psikologis yang dapat memengaruhi aktivitas seseorang serta memahami bahwa persoalan psikologis tidak selalu tampak secara fisik.
Spemutu Dorong Warga Sekolah Lebih Peka
Kepala Urusan Kesiswaan Spemutu Beny Firmansyah, S.Pd., menyambut kerja sama dengan Puskesmas Alun-Alun Gresik tersebut. Menurutnya, persoalan yang dialami siswa tidak selalu dapat dilihat secara fisik.
“Tidak semua luka terlihat secara kasatmata. Ada kondisi yang mungkin tidak tampak dari luar, tetapi sangat memengaruhi aktivitas dan keseharian seorang siswa,” ujarnya.
Beny mengatakan edukasi mengenai P3LP dapat membantu guru dan siswa lebih peka terhadap perubahan perilaku maupun kondisi teman di sekitarnya.
Menurutnya, ketika ada siswa yang sedang menghadapi persoalan, lingkungan sekitar perlu menghindari sikap menghakimi. Dukungan awal dan arahan kepada pihak yang tepat diperlukan apabila kondisi tersebut membutuhkan bantuan lebih lanjut.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin membangun kepedulian. Ketika ada teman yang sedang menghadapi masalah, jangan langsung menghakimi. Kita belajar untuk mendengarkan, memberikan dukungan awal, dan mengarahkan kepada pihak yang tepat jika membutuhkan bantuan lebih lanjut,” katanya.
Kerja sama dengan Puskesmas Alun-Alun Gresik juga menjadi bagian dari upaya Spemutu memberikan pemahaman mengenai kesehatan yang mencakup aspek fisik, psikologis, dan sosial.
Beny menilai lingkungan sekolah perlu memberikan ruang yang aman bagi siswa dalam menjalani aktivitas pembelajaran dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
“Sekolah harus menjadi tempat yang aman bagi siswa untuk belajar, berinteraksi, dan berkembang. Edukasi seperti ini menjadi bekal agar warga Spemutu semakin peduli terhadap kesehatan diri sendiri maupun orang-orang di sekitarnya,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments