Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Balongpanggang, Gresik, menggelar Pengajian Ahad Pagi dengan menghadirkan Dr. Pradana Boy ZTF, S.Ag., M.A., Ph.D., Wakil Mudir Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) Malang, Minggu (20/9/2026).
Puluhan jamaah laki-laki dan perempuan, tua – muda dan dari berbagai lapisan sosial tampak memenuhi halaman Masjid Al-Huda, Balongpanggang.
Pengajian berlangsung dengan suasana berbeda. Di sela penyampaian materi tentang seni dan budaya dalam Islam, Pradana Boy mengajak seluruh peserta menyanyikan tembang Jawa “Lir-Ilir”.
Peserta mengikuti tembang tersebut bersama-sama dengan dipandu langsung oleh penceramah.
Tembang yang populer sebagai bagian dari warisan dakwah Sunan Kalijaga itu tidak sekadar menjadi selingan.
Pradana Boy mengajak peserta melihat Lir-Ilir sebagai contoh bagaimana pesan-pesan keagamaan dapat tersampaikan melalui seni dan budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Suasana pengajian pun menjadi lebih cair. Peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan tentang hubungan Islam dan budaya, tetapi juga turut merasakan bagaimana kesenian tradisional dapat menjadi media untuk menyampaikan pesan religius.
Dalam materi utamanya, Pradana Boy membahas seni sebagai bagian dari budaya dalam Islam.
Ia mengajak peserta melihat budaya secara lebih terbuka, terutama dalam membedakan tradisi yang dapat dipertahankan dengan kebiasaan yang perlu ditinggalkan karena bertentangan dengan nilai agama.
Menurut Pradana Boy, adat pada dasarnya merupakan sesuatu yang biasa dilakukan masyarakat. Karena itu, keberadaan adat tidak otomatis bertentangan dengan Islam. Persoalannya terletak pada isi dan praktik yang menyertai tradisi tersebut.
Ia mencontohkan tradisi hajatan yang pada dasarnya merupakan kebiasaan baik di tengah masyarakat. Namun, tradisi tersebut dapat berubah menjadi tidak baik ketika di dalamnya terdapat praktik seperti minuman keras.
“Adat itu sesuatu yang biasa dilakukan. Yang perlu dilihat bukan sekadar adatnya, tetapi apakah praktik di dalamnya membawa kebaikan atau justru bertentangan dengan nilai Islam,” jelasnya.
Islam Menyaring, Bukan Memutus Budaya
Pradana Boy juga mengangkat kisah Sunan Kudus sebagai contoh bagaimana dakwah Islam berhadapan dengan tradisi masyarakat tanpa harus memutus budaya secara serta-merta.
Menurut dia, Islam memiliki prinsip-prinsip dasar untuk menjaga kehidupan manusia. Di antaranya menjaga agama (hifz al-din), jiwa (hifz al-nafs), akal (hifz al-‘aql), harta (hifz al-mal), dan keturunan (hifz al-nasl).
Prinsip tersebut dapat menjadi pertimbangan dalam melihat berbagai tradisi yang berkembang di masyarakat. Tradisi yang mampu menjaga kehidupan dan kemaslahatan dapat dipertahankan.
Sebaliknya, kebiasaan yang merusak agama, jiwa, akal, harta, atau keturunan perlu dikritisi.
“Tradisi yang menjaga kehidupan dan kemaslahatan tentu memiliki tempat. Tetapi ketika sebuah kebiasaan justru merusak, di situlah Islam memberikan batas,” katanya.
Seni Menjadi Jalan Menyampaikan Pesan
Dalam konteks seni, Pradana Boy mengajak peserta tidak melihat seni secara hitam-putih. Seni merupakan bagian dari kebudayaan yang tumbuh dalam kehidupan manusia. Karena itu, penilaiannya perlu melihat pesan, bentuk, tujuan, serta dampaknya bagi masyarakat.
Tembang Lir-Ilir yang dinyanyikan bersama menjadi contoh konkret. Pesan keagamaan dapat hadir melalui karya seni dan bahasa budaya yang dipahami masyarakat. Cara seperti ini menunjukkan bahwa dakwah tidak selalu harus berlangsung melalui ceramah formal.
Ia menekankan bahwa Islam tidak datang untuk mengancam keberadaan budaya masyarakat. Islam justru memberikan nilai dan batas agar budaya dapat berkembang tanpa merusak prinsip-prinsip kehidupan.
“Islam tidak mengancam siapa pun kecuali yang mengancam Islam itu sendiri,” ujarnya.
Pengajian Ahad pagi PCPM Balongpanggang tersebut sekaligus menjadi ruang bagi kader dan warga Muhammadiyah untuk mendiskusikan hubungan agama, seni, dan budaya secara lebih kontekstual.
Peserta diajak memahami bahwa keberislaman tidak harus berhadap-hadapan dengan budaya, tetapi dapat mengolah tradisi agar tetap sejalan dengan nilai-nilai Islam.





0 Tanggapan
Empty Comments