Rumah Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Jalen, Abdul Muntholib, di Dusun Jalen II, Desa Setail, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, Jawa Timur, didatangi lima seniman dan budayawan Banyuwangi, Ahad (20/9/2026).
Rombongan tersebut terdiri atas pengurus Dewan Kesenian Blambangan (DKB), seniman, budayawan, pegiat literasi, dan Ketua Rumah Kebangsaan Banyuwangi.
Lima tokoh yang hadir yaitu Aekanu Hariyono, penulis, penyair, sekaligus Duta Budaya Banyuwangi yang pernah memperkenalkan budaya Banyuwangi di sejumlah negara seperti Jerman, Swiss, Singapura, dan Malaysia.
Berikutnya Fatah Yasin Noor, penulis puisi, penyair, penulis esai, sekaligus penulis naskah film pendek. Ada pula Mbah Pramu, seniman yang dikenal melalui penampilannya dalam berbagai kegiatan budaya tradisional Banyuwangi.
Rombongan juga diikuti H. Syafa’at, Ketua Komunitas Lentera Sastra/Terminal Literasi Pegawai Kementerian Kabupaten Banyuwangi, serta Hakim Said, S.H., Ketua Rumah Kebangsaan Banyuwangi.
Silaturahmi dan Berbincang Seni
Rombongan tiba di kediaman Abdul Muntholib sekitar pukul 14.30 WIB menggunakan minibus. Aekanu mengatakan kunjungan tersebut sebenarnya merupakan agenda yang tidak direncanakan sebelumnya.
“Kehadiran kami sebenarnya agenda yang tidak terjadwal. Kami mohon maaf jika kedatangan rombongan ini merepotkan,” ujar Aekanu.
Menurutnya, kunjungan tersebut bertujuan mempererat silaturahmi sekaligus melihat potensi budaya lokal yang dapat dikembangkan dan diperkenalkan lebih luas.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Ny. Abdul Muntholib R. Ayu Pudjiati, seorang seniwati yang turut membina putranya hingga meraih sejumlah prestasi di bidang seni.
“Kami ingin melihat dari dekat potensi-potensi di daerah sini untuk kita angkat sebagai cagar budaya,” jelasnya.
Salah satu potensi yang dibahas adalah kisah dua pahlawan dalam peristiwa agresi Belanda yang menjadi tema lomba bercerita dan berhasil meraih juara pertama. Suasana semakin hangat ketika perbincangan ditemani minuman jahe, kopi, dan camilan sederhana. Diskusi berkembang dari persoalan seni hingga sejarah dan kebudayaan Banyuwangi.
Setelah hampir dua jam berbincang, rombongan berpamitan untuk melanjutkan perjalanan pulang.
“Terima kasih atas kerawuhannya. Kami tunggu silaturahmi selanjutnya,” pesan Abdul Muntholib saat mengantar para tamunya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments