Siapa KH Hasan Gontor? Sebegitu pentingkah tokoh itu sehingga pidatonya sampai perlu dikaji? Boleh jadi, minimal dua pertanyaan itu mengemuka pada sebagian pembaca.
Vokal Argumentatif
KH Hasan Abdullah Sahal, nama lengkapnya. Dia lahir di Desa Gontor, Ponorogo, 24 Mei 1947. Dia putra keenam dari KH Ahmad Sahal, tertua dari tiga bersaudara pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor (selanjutnya ditulis Gontor).
Beliau menyelesaikan SD di desanya pada 1959. Lalu, di KMI Gontor, tamat 1965. Kemudian, melanjutkan studi di Fakultas Ushuluddin IPD Gontor sekaligus mengajar di KMI Gontor selama dua setengah tahun.
Hasan Gontor, demikian selanjutnya penulisan untuk KH Hasan Abdullah Sahal, pada 1967 melanjutkan ke Fakultas Da’wah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah. Lalu, pada 1992 mengambil spesialisasi Hadits di Universitas Al-Azhar Mesir.
Dia, Pimpinan Gontor sejak 1985 hingga sekarang. Dia, dalam kategori KH Isa Anshary, termasuk ulama/pendakwah ideal karena lisan dan tulisannya sama-sama berfungsi dengan baik.
Mungkin, hal ini turut menjadi salah satu pertimbangan Hasan Gontor dinobatkan sebagai Tokoh Perbukuan IBF (Islamic Book Fair) pada 14 Agustus 2024 di JCC Senayan Jakarta.
Di panggung, saat penganugerahan, muncul ungkapan inspiratif dari Hasan Gontor:
“Tulislah apa yang ada dalam dirimu, yang engkau miliki, yang engkau ketahui, tapi dengan hati nurani,” kata KH Hasan Abdullah Sahal.
Hal ini, lanjut sang Kiai, karena “Suara hati yang jernih akan menghasilkan bacaan dan tulisan yang menenangkan hati, menginspirasi orang lain untuk berbuat baik. Bahkan mengubah mereka menjadi insan yang semakin bertakwa”.
Hasan Gontor dikenal sebagai ulama yang lugas atau vokal. Saat menyampaikan kebenaran, dia mengungkapkannya dengan tegas.
Sebagai contoh, sang Kiai pernah menyampaikan bahwa pesantren berdiri untuk membentengi bangsa Indonesia dan umat Islam dari pengaruh-pengaruh kekafiran dan penjajahan. Terkait berbagai pernyataan atau pendapatnya, sejumlah pernyataannya juga viral.
Pidato di Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor
Gontor berdiri pada 1926. Pada Sabtu, 19 September 2026, lembaga itu menyelenggarakan Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor.
Acara tersebut dihadiri banyak ulama dan pengasuh Gontor. Hadir pula Wakil Grand Syekh Al-Azhar Mesir, Profesor Muhammad Abdurrahman Muhammad al-Dluwaini, Prof. Din Syamsuddin, dan Dr. Hidayat Nur Wahid.
Hadir juga Presiden RI dan sejumlah menteri. Pun, sejumlah duta besar negara sahabat seperti Palestina, Turkiye, Mesir, Qatar, Kuwait, Sudan, Suriah, dan Yaman. Hadir pula Gubernur Jawa Timur dan sejumlah tokoh lainnya.
Di acara itu, Hasan Gontor berpidato sekitar 20 menit, serupa rata-rata durasi khutbah Jumat.
Di awal, Hasan Gontor hanya menyapa atau menyebut Presiden RI. Hadirin lain tetap disapa dengan sapaan umum berupa ”Hadirin yang terhormat”. Ini sangat efisien dalam memanfaatkan waktu.
Lewat pidatonya, kita mendapat banyak pelajaran. Sebuah pidato dengan dua sisi, yaitu ”Memberi kabar gembira” dan ”Memberi peringatan”.
Kabar Gembira
Hasan Gontor ”Memberi kabar gembira”, antara lain:
Pertama, bahwa Gontor istiqomah berkhidmat di jalur pendidikan. Dengan cara ini, Gontor tekun membina umat.
Kedua, lulusan Gontor telah banyak mendatangkan manfaat dalam arti luas. Mereka ada di Muhammadiyah, NU, dan berbagai organisasi lainnya. Ada di eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Ada yang aktif sebagai pendidik, pengusaha, dan lain-lain.
Ketiga, Gontor berdiri di atas dan untuk semua golongan. Oleh Hasan Gontor, prinsip lalu dijelaskan. Bahwa santri yang berasal dari keluarga Muhammadiyah, lulus tetap Muhammadiyah. Begitu juga yang NU.
Bahkan, dengan nada bercanda, Hasan Gontor yang menyebut dirinya Muhammadiyah, semua menantunya adalah NU. Sontak, mendapat penjelasan yang terakhir ini, hadirin tergelak.
Tentang Gontor
Kata Hasan Gontor, lembaga yang dipimpinnya harus cerdas menyikapi sejarah. Dengan itu, Gontor bertekad membangun sejarah. Gontor konsisten membangun peradaban.
Terkait hal itu, dalam pidatonya dia menjelaskan makna Gontor. Dulu, di awal, Gontor itu ”nggon kotor” atau tempat kotor. Disebut demikian karena dulu di sana banyak praktik syirik dan maksiat seperti molimo.
Sekarang, alhamdulillah berubah. Gontor itu ”nggon inspirator”.
Atas penjelasan itu, siapa yang tak gembira? Antara lain, lihatlah kiprah alumninya.
Sekadar dua hal yang mudah diingat, lulusan Gontor bernama Din Syamsuddin menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah (2005–2015). Tamatan Gontor bernama (Alm.) Hasyim Muzadi menjadi Ketua Umum PB NU (2000–2010).
Kabar gembira lain, Gontor telah diwakafkan pada 1958. Jika pada 1958 Gontor punya areal 1,2 hektare, kini pada 2026 Gontor memiliki 1.200 hektare. Demikian penjelasan Hasan Gontor.
Peringatan Lugas
Hasan Gontor, yang dikenal kritis, dengan bahasa terjaga memberi ingat agar terutama pemimpin tak alergi dengan kritik. Bahasa yang digunakan Hasan Gontor sederhana dan mudah dimengerti.
”Jika makanan saya, pakaian saya, kendaraan saya, dan rumah saya lebih dari yang dinikmati atau dimiliki santri, silakan protes saya. Silakan kritik dan demo saya,” tegas Hasan Gontor.
Kita yang mendengar itu mudah memahaminya. Betapa, tak sedikit pemimpin yang tak berkenan saat mendapat kritik.
Misalnya, umpatan ”nDasmu” sudah beberapa kali kita dengar dari seorang pemimpin yang mendapat kritik.
Hal lain, soal cari muka. Masih dengan gaya seloroh tetapi isi pidatonya sangat mendalam, Hasan Gontor berkata bahwa bagi yang perlu ijazah, berusaha cari ijazah. Bagi yang merasa nama itu penting, berupaya mendapatkan nama. Untuk yang merasa muka itu berguna, maka mencari muka lalu dikerjakan.
Sekali lagi, ungkapan yang diucapkan dengan ”gaya khas” Hasan Gontor itu memancing tawa segar dari yang hadir. Bahasanya mengalir. Suasananya cair.
Lengkap, Pas!
Ulama adalah pewaris para Nabi. Sementara itu, tugas Nabi adalah pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.
Perhatikan ayat ini:
”….. Allah mengutus para Nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan …..” (QS Al-Baqarah [2]: 213).
Lewat pidatonya, dua unsur tugas ulama sebagai pewaris Nabi, yaitu sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, telah lengkap ditunaikan Hasan Gontor.
Hal yang lebih mengesankan, dua hal itu disampaikannya dengan bahasa dan ekspresi yang baik, bahkan cukup sering mampu mengundang tawa.
Hal lain, makin lengkap performa ulama sebagai pewaris Nabi dari figur Hasan Gontor. Itu terlihat pada sikapnya saat bersalaman dengan Presiden RI. Dia tetap berdiri tegak berwibawa dan tersenyum. Allahu Akbar!
Semoga berbagai pelajaran di atas berguna bagi kita. Terutama, bermanfaat untuk para ulama. Bahwa, kapan pun, peran ulama sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan harus lengkap ditunaikan!





0 Tanggapan
Empty Comments