Rasa kantuk peserta Baitul Arqam Camp Majelis Pembinaan Kader (MPK) Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Probolinggo mendadak sirna. Tepuk tangan, gelak tawa, dan gerakan penuh semangat memenuhi ruangan TK ABA VI Kota Probolinggo pada hari kedua kegiatan, Ahad (20/9/2026).
Suasana tersebut tercipta melalui permainan tepuk semangat yang dipandu Ketua MPK PDA Kota Probolinggo sekaligus Kepala TK ABA VI, Amalia Nofrianti Budiharjo, S.Pd. Permainan sederhana itu membuat peserta kembali bersemangat mengikuti rangkaian kegiatan.
Usai permainan, Amalia memberikan penguatan mengenai pentingnya keberlanjutan kaderisasi. Menurutnya, peserta yang mayoritas merupakan guru dengan masa kerja maksimal lima tahun merupakan kader yang sedang dipersiapkan untuk melanjutkan estafet Persyarikatan.
Ia mendorong peserta yang belum bergabung dalam organisasi otonom Muhammadiyah maupun belum terlibat dalam unsur pimpinan atau majelis di tingkat ranting dan cabang Aisyiyah untuk mulai membangun ikatan emosional dengan Persyarikatan.
“Seorang kader Muhammadiyah ataupun Aisyiyah idealnya memiliki pijakan dan keterlibatan dalam Persyarikatan,” ujar Amalia.
Perempuan, Seni, dan Nilai Islam
Kegiatan dilanjutkan dengan materi “Wanita dan Kesenian (Adabul Mar Fiil Islam)” yang disampaikan Indah Nurhidayati, S.Pd., dan dimoderatori Ely Nuryanti, S.Pd.
Indah mengajak peserta memahami kedudukan perempuan sebagai hamba Allah sekaligus potensi perempuan dalam berkarya. Materi mencakup peran perempuan, kesenian, tujuan berkesenian, batasan dan etika berkesenian, hingga pandangan Muhammadiyah terhadap seni.
Peserta diajak memahami bahwa aktivitas seni tidak hanya berkaitan dengan hiburan, tetapi juga perlu memperhatikan adab dan nilai-nilai Islam.
Penguatan Kader Guru Aisyiyah
Materi berikutnya disampaikan Ir. Izza El Mila, S.Pd., dengan tema “Penguatan Kaderisasi Guru Aisyiyah”. Ia membahas pentingnya kaderisasi, transformasi kader, serta tantangan global yang dihadapi kader saat ini.
Menurutnya, kader Aisyiyah tidak cukup hanya memiliki kemampuan profesional. Kader juga membutuhkan kompetensi ideologis, akademis, intelektual, serta kepekaan sosial dan kemanusiaan.
Suasana pembelajaran semakin interaktif dengan adanya doorprize pada setiap sesi. Peserta yang mampu menjawab pertanyaan pemateri mendapatkan hadiah dari panitia.
Baitul Arqam Camp tersebut menjadi ruang belajar sekaligus proses menumbuhkan rasa memiliki terhadap Persyarikatan. Guru Aisyiyah diharapkan tidak hanya menjalankan peran profesional di sekolah, tetapi juga tumbuh menjadi kader yang memahami nilai perjuangan dan siap mengambil bagian dalam estafet gerakan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments