Tidak semua mahasiswa menjalani masa kuliah dengan jalan yang mudah. Bagi M. Sholehudin, mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), pendidikan tinggi adalah perjalanan panjang yang dipenuhi perjuangan, kehilangan, dan keteguhan hati.
Mahasiswa yang akrab disapa Sholeh itu kini dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Presiden Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya. Namun capaian tersebut lahir dari proses yang tidak sederhana.
Sholeh berasal dari Desa Soket Laok, Kabupaten Bangkalan, Madura. Sejak kecil, ia tumbuh dalam keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, berangkat ke sekolah tanpa alas kaki menjadi hal yang biasa baginya. Bahkan uang saku Rp500 tidak selalu bisa ia dapatkan setiap hari.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak memadamkan semangatnya untuk belajar. Saat menempuh pendidikan di SMP IT An-Najah, ia mulai terbiasa mencari penghasilan sendiri untuk membantu memenuhi kebutuhan sekolah.
Perjuangan itu berlanjut ketika duduk di bangku SMK An-Najah. Selain mengikuti kegiatan belajar, ia juga membantu kedua orang tuanya mengelola ladang keluarga.
“Waktu SMA orang tua sudah mulai tua. Saya terbiasa membantu menanam dan memanen hasil ladang. Saya juga membantu berbagai pekerjaan di sekolah,” kenang Sholeh.
Menjelang kelulusan sekolah menengah, ia menghadapi pilihan besar antara melanjutkan pendidikan atau bekerja membantu keluarga. Keinginan untuk kuliah sempat mendapat penolakan dari orang tua karena kondisi ekonomi yang terbatas.
Sholeh bahkan pernah mendaftar ke salah satu perguruan tinggi tanpa sepengetahuan keluarganya. Namun upaya tersebut belum membuahkan hasil.
Tidak menyerah, ia kembali mencoba melalui jalur Beasiswa KIP Kuliah di Universitas Muhammadiyah Surabaya. Demi mewujudkan impian itu, ia sampai meminjam uang kepada tetangga untuk biaya pendaftaran.
Usahanya akhirnya berhasil. Ia diterima sebagai penerima Beasiswa KIP Kuliah dan resmi menjadi mahasiswa Umsura.
Namun cobaan yang lebih berat datang saat ia memasuki tahun kedua perkuliahan. Sang ayah mengalami stroke, sementara ibunya harus menjalani operasi akibat prolaps uteri.
Selama masa libur semester, sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mendampingi kedua orang tuanya menjalani pengobatan.
“Selama libur semester, hampir setiap hari saya mendampingi kedua orang tua keluar masuk rumah sakit,” tuturnya.
Belum sempat pulih dari situasi tersebut, ibunya meninggal dunia menjelang dimulainya semester tiga. Sebelum berpulang, sang ibu meninggalkan pesan yang terus diingatnya hingga hari ini.
“Cong, sengak panotok yeh kulianah.”
Pesan dalam bahasa Madura itu berarti, “Nak, ingat… tuntaskan kuliahmu.”
Kalimat sederhana tersebut menjadi sumber kekuatan yang terus mengiringi langkahnya. Namun ujian belum berakhir. Seratus hari setelah kepergian ibunya, sang ayah juga menyusul berpulang.
Dalam waktu singkat, Sholeh kehilangan kedua orang tua yang selama ini menjadi sandaran hidupnya.
Semester tiga menjadi fase paling berat yang pernah ia jalani. Kesedihan dan rasa kehilangan sempat membuatnya berada di titik terendah. Namun pesan terakhir ibunya membuatnya memilih untuk tetap bertahan.
Dengan dukungan Beasiswa KIP Kuliah, ia terus melanjutkan pendidikan sekaligus aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Fakultas Teknik, aktif dalam Paguyuban Duta Kampus Umsura, serta terlibat dalam berbagai kegiatan promosi pendidikan.
Pengalaman hidup yang penuh tantangan membentuk karakter kepemimpinan yang kuat. Hingga akhirnya ia dipercaya menjadi Wakil Presiden Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Tak hanya itu, bersama timnya ia juga berhasil memperoleh pendanaan Program BEM Berdampak sebagai bentuk kontribusi mahasiswa kepada masyarakat.
Perjalanan Sholeh menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi maupun kehilangan orang tua tidak selalu menghentikan langkah seseorang untuk meraih masa depan. Dari seorang anak desa yang pernah berangkat sekolah tanpa sepatu, kini ia berhasil menuntaskan pendidikan tinggi sekaligus mengemban amanah sebagai pemimpin mahasiswa.
Bagi Sholeh, setiap pencapaian yang diraih hari ini adalah bentuk penghormatan terhadap doa dan harapan kedua orang tuanya yang telah lebih dahulu berpulang.





0 Tanggapan
Empty Comments