Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kisah Firza, Mahasiswa Umsura yang Biayai Kuliah Lewat Dunia Content Creator

Iklan Landscape Smamda
Kisah Firza, Mahasiswa Umsura yang Biayai Kuliah Lewat Dunia Content Creator

SURABAYA – Di tengah berkembangnya industri digital dan media sosial, profesi content creator menjadi salah satu peluang yang banyak diminati generasi muda. Namun tidak semua mampu menjadikannya sebagai jalan untuk membangun karier sekaligus menyelesaikan pendidikan tinggi.

Hal itulah yang dialami Alfirza Candra Rachmana, mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), yang berhasil meraih gelar sarjana sambil meniti karier sebagai content creator dan influencer.

Firza tidak langsung terjun ke dunia media sosial sebagai kreator konten. Perjalanannya justru dimulai dari dunia fotografi. Ia aktif mendokumentasikan berbagai kegiatan dan acara sebelum melihat potensi besar yang berkembang di platform digital.

“Awalnya saya memang terjun di dunia fotografi. Setelah mengamati perkembangan media sosial, saya melihat peluang besar di sana. Meski persaingannya sangat banyak, saya mencoba membuat konten secara iseng sambil menerapkan ilmu digital marketing yang saya pelajari di kampus,” ujarnya.

Konten yang awalnya dibuat untuk mengisi waktu luang ternyata mendapat respons positif dari masyarakat. Jangkauan unggahannya terus berkembang dan mulai dikenal lebih luas melalui Instagram, kemudian merambah ke TikTok.

Firza mulai menekuni profesi content creator secara serius pada 2024. Setahun kemudian, personal branding yang dibangunnya mulai mendapatkan perhatian publik dan membuka berbagai peluang kerja sama dengan sejumlah brand.

Menurutnya, terdapat tiga alasan utama yang membuatnya memilih menekuni profesi tersebut, yakni membangun personal branding, memperluas jaringan pertemanan dan profesional, serta membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak.

Konten yang dihasilkan banyak terinspirasi dari pengalaman sehari-hari. Ia kerap mengangkat perspektif seorang fotografer saat menghadapi pelanggan hingga berbagai fenomena sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat Surabaya Utara.

“Konten yang saya buat berangkat dari pengalaman dan realitas di sekitar saya. Saya ingin menghadirkan sesuatu yang dekat dengan masyarakat,” katanya.

Meski mulai dikenal luas, perjalanan Firza tidak selalu berjalan mulus. Ia mengaku pernah menerima komentar negatif dari sebagian orang yang menganggap profesi influencer bukan pekerjaan yang menjanjikan.

Namun kritik tersebut tidak membuatnya berhenti berkarya. Baginya, kualitas karya dan manfaat yang diberikan kepada masyarakat menjadi jawaban terbaik.

“Saya tidak perlu membalas dengan komentar negatif. Cukup menunjukkan karya yang positif, unik, dan bermanfaat bagi masyarakat. Selama masih dalam batas etika dan tidak menyinggung SARA, saya tetap berkarya,” jelasnya.

Di sisi lain, Firza juga harus menjalankan tanggung jawab sebagai mahasiswa. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah mengatur waktu antara kuliah, pekerjaan, dan proses kreatif dalam menghasilkan konten.

Kesibukan tersebut bahkan sempat membuat masa studinya mundur satu semester. Saat memasuki tahap penyelesaian skripsi, ia memilih mengurangi sejumlah pekerjaan agar dapat fokus menuntaskan pendidikan.

“Saya pernah terlambat lulus satu semester. Dari situ saya belajar bahwa pendidikan tetap harus menjadi prioritas utama. Saat mengerjakan skripsi, saya rela mengurangi beberapa pekerjaan agar bisa fokus menyelesaikan kuliah,” ungkapnya.

SMPM 5 Pucang SBY

Untuk menjaga keseimbangan antara pendidikan dan karier, Firza menerapkan manajemen waktu yang disiplin dengan menyusun jadwal serta menentukan prioritas yang harus didahulukan.

Dukungan dari keluarga, lingkungan kampus, rekan sesama kreator, hingga para pengikut media sosial menjadi motivasi yang membuatnya terus berkembang.

Selama berkuliah, Firza juga aktif mengembangkan kemampuan di bidang kreatif. Ia pernah bekerja sebagai fotografer freelance, dokumentator berbagai kegiatan, videografer proyek prewedding di Kuala Lumpur, Malaysia, serta aktif dalam organisasi kemahasiswaan.

Menurutnya, ilmu yang diperoleh selama kuliah, khususnya terkait strategi pemasaran digital, sangat membantu dalam membangun personal branding dan mengembangkan konten yang lebih terarah.

“Saya merasa beruntung mendapatkan mata kuliah yang berkaitan dengan strategi digital marketing. Ilmu itu sangat membantu dalam membangun konten dan personal branding di media sosial,” tuturnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Firza memiliki sejumlah target yang ingin diwujudkan. Ia bercita-cita membangun studio foto profesional, vendor dokumentasi, hingga digital agency yang dapat membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang.

Selain itu, ia juga ingin terus menjaga reputasi yang telah dibangun serta mewujudkan keinginan memberangkatkan kedua orang tuanya ke Tanah Suci.

Bagi mahasiswa yang sedang berjuang membiayai pendidikan secara mandiri, Firza berpesan agar tidak mudah menyerah menghadapi berbagai tantangan.

“Capek itu wajar. Yang penting tetap semangat dan membuat orang tua bangga karena kita berusaha tidak merepotkan mereka,” pesannya.

Firza menilai kesuksesan di dunia digital tidak hanya ditentukan oleh jumlah pengikut, tetapi juga oleh konsistensi, kreativitas, inovasi, serta manfaat yang diberikan kepada masyarakat melalui setiap karya yang dihasilkan.

Baginya, pendidikan dan karier bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan berdampingan selama seseorang mampu menentukan prioritas dengan baik.

“Kuliah adalah tempat menimba ilmu, mencari relasi, dan membentuk pola pikir. Ketika pendidikan dan karier sama-sama dijalani dengan prioritas yang tepat, keduanya bisa tumbuh bersama,” pungkasnya.

Revisi Oleh:
  • Satria - 02/06/2026 03:48
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu