Lima Hal Menarik di Balik Pelantikan Presiden Jokowi 2019

812
Pasang Iklan Murah
Di belakang penulis tamu negara sahabat. Dari kanan Sultan Hassanal Bulkiah, Kings Mswati III dan isteri dari Kerajaan Eswatini, Tun Mahathir dan isteri, PM Kamboja Hun Sen dan PM Singapore Lee Hsien Loong dan isteri. (Istimewa/ PWMU.CO)

PWMU.CO – Presiden Jokowi telah dilantik disaksikan pasangan pesaingnya, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Setidaknya ada lima catatan menarik di balik pelantikan ini.

Pertama, soal kekhawatiran terhadap keamanan. Sempat beberapa pihak menyatakan ada yang berusaha menggagalkan pelantikan Presiden. Pihak keamanan lalu siapkan 30 ribu pasukan. Sejumlah kendaraan taktis pun disiagakan di kompleks DPR Senayan.

Namun yang menarik, seperti telah disaksikan seluruh rakyat Indonesia, pelantikan benar-benar berlangsung kondusif. Tidak ada demo seperti yang terjadi menjelang pelantikan DPR-MPR yang anarkis. Meski anggota MPR dan tamu undangan yang hadiri pelantikan pun harus melewati pemeriksaan berlapis.

Kedua, tentu menarik untuk dicatat bahwa lima tahun ke depan rakyat Indonesia kembali dipimpin oleh Presiden Jokowi. Yang menarik kali ini tidak lagi didampingi Jusuf Kalla—sosok yang memiliki latar belakang pengusaha yang lincah dalam menjalin relasi dengan dunia internasional.

Kali ini Presiden Jokowi didampingi oleh oleh KH. Ma’ruf Amin—yang memiliki latar belakang ulama, sebagai wakil Presiden.

Ketiga, guna mendapat gambaran perhatian dunia internasional tentu menarik melihat siapa yang hadir di Senayan tanggal 20 Oktober 2019 itu. Hadir sejumlah kepala negara mulai dari Perdana Menteri Malaysia – Tun Mahathir, Sultan Hassanal Bulkiah – Brunei Darussalam, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Long, Perdana Menteri Kamboja Hun Sen, dan juga Perdana Menteri Australia Scott Morrison.

Ada laporan pelantikan ini dihadiri tak kurang dari 157 duta besar. Tentu saja orang tertarik untuk melihat siapa yang hadir dari Amerika dan China. China mengutus Wakil Presiden Wang Qishan. Sementara itu, Presiden Trump tidak mengirim Wapres atau Menlunya tetapi mengirim utusan khususnya.

Keempat, menarik juga untuk melihat reaksi pasar. CNBC Indonesia melaporkan selama enam hari berturut-turut menjelang pelantikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penguatan. Di akhir pekan, pada perdagangan hari Jumat sebelum pelantikan, IHSG ditutup naik 10 point atau 0,18 peraen pada level 6.191,94.

Para pelaku pasar saham menggambarkan antusiasme untuk masuk pasar, sehingga terjadi peningkatan nilai transaksi dari Rp 1,03 triliun menjadi Rp 10,26 triliun. Meski harus dicatat bahwa kenaikan itu bukan semata-mata dipengaruhi oleh pelantikan, melainkan juga karena sentiment positif dari situasi global, terutama dalam kaitannya dengan semakin mendekatinya kesepakatan Britania Exit (Brexit).

Kelima, rakyat menunggu lompatan yang akan dilakukan Presiden terlantik bersama kabinetnya yang baru yang akan memperjuangkan janji-janji kampanyenya. Program yang dijanjikan cukup banyak. Akankah semua janjinya bisa menjadi kenyataan?

Dalam pidato pelantikan Presiden memimpikan tahun 2045 Indonesia sudah jadi 5 besar ekonomi dunia dengan kemiskinan mendekati nol persen. Produk Domestik Brutonya mencapai US$ 7 triliun.

Di depan anggota MPR dan tamu undangan Presiden Jokowi menyatakan hendak memperbaiki SDM, melanjutkan pembangunan infrastruktur, dan melakukan penyederhanaan birokrasi dan regulasi.

Untuk diketahui banyak janji kampanye pasangan Presiden dan Wapres yang baru ini. Dalam debat calon, Wapres KH Ma’ruf Amin misalnya pernah menjanjikan sejumlah program besar. Antara lain berjanji mengeluarkan 3 kartu, yaitu Kartu Kuliah, Kartu Sembako Murah, dan Kartu Pra Kerja. Masyarakat menunggu seperti apa ketiga kartu ini diwujudkan dan seperti apa pula dampaknya nanti terhadap upaya meningkatkan kesejahteraan umum?

Di samping itu juga berjanji akan menurunkan angka stunting sebesar 10 persen dalam 5 tahun. JKN KIS akan dilanjutkan, PKH akan diteruskan. Kursus gratis berbagai macam kecakapan bagi para pencari kerja. Beasiswa pendidikan diteruskan hingga tingkat kuliah. Revitalisasi pendidikan secara struktural, agar lebih terkoneksi dengan dunia usaha dan dunia industri. Upaya nonstruktural, pelatihan melalui balai latihan kerja (BUMN atau kursus).

Dalam kegiatan riset, akan dibentuk Badan Riset Nasional dan disediakan Dana Abadi Riset. Pemerintahan ini juga berjanji mengupayakan untuk dapat mengkoordinasikan semua alokasi dana riset. Dalam hal ini pemerintah akan memaksimalkan Rencana Induk Riset Nasional.

Meningkatkan pelayanan kesehatan juga merupakan janji yang ditawarkan kepada masyarakat, di samping redistribusi tenaga dokter dan memastikan persediaan obat cukup. Pemerintahannya berjanji akan memberlakukan tindakan preventif untuk menjaga kesehatan, dengan Germas PIS PK (Program Indonesia Sehat Pendekatan Keluarga) dan KIA (Kesehatan Ibu dan Anak).

Dalam debat cawapres seperti yang dicatat Kompas.com 2019/03/18/17504801, dijanjikan masuknya tenaga kerja asing (TKA) yang bekerja di Indonesia hanya bisa mengisi bidang yang tidak bisa dipenuhi oleh tenaga kerja dalam negeri. Janji yang tentu sangat diharapkan oleh tenaga kerja dalam negeri yang sejauh ini masih sulit memperoleh lapangan kerja. (*)

Kolom oleh Prof Dr Zainuddin Maliki MSi, Anggota DPR RI Fraksi PAN