Saat Muhammadiyah dibedah Antropolog dan Sosiolog Yogyakarta, Begini Sarannya

665
Pasang Iklan Murah
Agung Danarto (depan, empat dari kanan). (Nely Izzatul/PWMU.CO)

PWMU.CO – Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Dr H Agung Danarto MAg berharap Muhammadiyah dapat memunculkan inovasi baru dalam menapak abad kedua dan memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat.

Hal itu disampaikan dalam diskusi terbatas dengan topik Potret Masyarakat Revolusi Industri 4.0: Proyeksi Tipologi Anggota/Pengikut Gerakan Sosial Islam yang bertempat di Aula Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jalan Cik Ditiro No. 23 Yogyakarta, Selasa (29/10/19).

“Melalui diskusi ini kami ingin melihat bagaimana kondisi masyarakat di era revolusi industri 4.0 menurut antropolog serta sosiolog. Bagaimana peran umat manusia ke depan? Sehingga peran seperti apa yang perlu diambil Muhammadiyah,” ucapnya.

Hadir sebagai nara sumber Guru Besar Ilmu Antropologi Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta Prof Dr Heddy Shri Ahimsa Putra MA M Phil dan Dosen Sosiologi UGM Hakimul Ikhwan PhD.

Dalam paparannya, Prof Heddy menyampaikan, Muhammadiyah merupakan perangkat simbol yang setiap orang pasti punya pemaknaan berbeda dalam memandangnya.

“Muhammadiyah itu perangkat tanda, simbol dan maknanya arbitrer. Bisa jadi ada yang menganggap Muhammadiyah itu hebat, keren, mencerahkan. Di sisi lain ada juga masyarakat yang mempertanyakan apa itu Muhammadiyah? Maka pemaknaan itu tergantung latar belakang sosial, budaya, dan pribadi,” tutur dosen yang juga ahli pariwisata tersebut.

Menurutnya, Muhammadiyah yang memiliki arti sebagai pengikut Nabi Muhammad harus memiliki visi yang selaras dengan tujuan diutusnya Nabi Muhammad yakni menjadi penyempurna akhlak dan rahmat bagi seluruh alam.

“Nabi diutus untuk menyempurnakan akhlak untuk semua umat. Baik Muslim, kafir, munafik. Maka bisa tidak Muhammadiyah mewujudkan kata-kata menjadi rahmat seluruh alam? Sehingga ketika Muhammadiyah muncul, orang selalu merasa wah, kagum,” tanyanya.

Dia menegaskan, di era digital ini semua keadaan menjadi lebih mudah dan hidup lebih praktis. Segala informasi dapat diakses tanpa ada lagi sekat. Muhammadiyah harus tetap berpijak pada nilai dasar dan memiliki keluhuran akhlak.

“Muhammadiyah itu apa? Akhlak orang Muhammadiyah bagaimana? Makannya, ngomongnya, bersepedanya, naik busnya, naik becaknya. Bisa tidak orang Muhammadiyah itu tidak mengkritik ke sana kemari? Tidak nyinyir? Jangan-jangan kita terlalu melambung tinggi tapi lupa dengan yang di bumi,” tandasnya.

Prof Heddy mengungkapkan Muhammadiyah selalu mengalami perubahan-perubahan. “Dulu Muhammadiyah dikenal dengan memberantas TBC (taklid, bidah, khuaraft)-nya. Kemudian masyarakat berkembang lebih maju kita beralih dengan gerakan amar makruf nahi mungkar. Nah selanjutnya di era digital ini bagaimana kita memaknainya?” tanyanya.

Apakah, sambungnya, masih relevan berdakwah dengan cara KH Ahmad Dahlan? Dulu Muhammadiyah selalu diidentikkan dengan gerakan pembaharuan. Sedangkan hari ini pembaharuan-pembaharuan itu telah diikuti oleh yang lain.

Heddy Shri Ahimsa Putra MA M Phil (kiri) dan Hakimul Ikhwan (dua dari kanan). (Nely Izzatl/PWMU.CO)

Sementara itu Hakimul Ikhwan mengatakan hari ini dunia tengah mengalami pergeseran lempeng sosial dan menimbulkan berbagai macam problem. Oleh sebab itu Muhammadiyah harus selalu konsisten dengan misi dakwah.

“Yang hari ini kita alami bukan transformasi biasa. Bahkan untuk negara sekelas Amerika hari ini berfikir untuk negaranya sendiri. Amerika berpikir untuk Amerika, Inggris untuk Inggris, Perancis untuk Perancis. Tidak hanya di Eropa, tapi juga terjadi di dunia islam. Maka yang harus selalu kita kejar di Muhammadiyah adalah quality first,” ujarnya.

Menurutnya, Muhammadiyah telah melampaui viralitas dan tidak perlu lagi merebut viralitas atau hanya mementingkan kuantitas di media sosial.

“Berpijak pada kuntum khaira ummah, maka dalam menghadapi transformasi dan pergeseran lempeng sosial saat ini, Muhammadiyah harus memanfaatkan digital sebagai pendekatan dalam segala aktivitas untuk meningkatkan kualitas,” imbuhnya.

Selain itu, dia memaparkan, berdasarkan hasil riset, Muhammadiyah masih menjadi representasi kemajuan. Indonesia yang bersatu, berbhineka, dan prulal diakui lekat sekali dengan Muhammadiyah.

“Saat ini Muhammadiyah harus selalu menjadi backbone dari keberagaman umat di Indonesia. Muhammadiyah perlu merespon era digital ini secara aktif, positif, menjadikannya sebagai nafas atau nature, dan membuat gerakan rekonstruksi mini,” pesannya.

Terakhir, Muhammadiyah butuh influencer—aktivis media sosial yang punya pengaruh kuat. Karena menurut Hakimul Ikhwan saat ini yang menentukan kesuksesan adalah influencer. Hal itu dia buktikan melalui gerakan di kitabisa.com.

“Kampanye yang menggunakan influencer dengan yang tidak menggunakan influencer hasilnya sangat berbeda,” ungkapnya. (*)

Kontributor Nely Izzatul. Editor Mohammad Nurfatoni.

Berfoto bersama usai diskusi. (Nely Izzatul/PWMU.CO)