Pernah Jadi Cabang Istimewa, Sejarah Muhammadiyah Blimbing Akan Dibukukan

162
Pasang Iklan Murah
Para pembicara workshop. (Foto Nu’man Suhadi/pwmu.co)

PWMU.CO – Penulisan sejarah lokal Muhammadiyah sekarang sedang menemukan momentumnya. Sekalipun secara personal sejarah lokal Muhammadiyah telah jamak menjadi cerita oral dari generasi ke generasi, namun bukti otentik berupa “buku” sejarah tidak banyak ditulis.

Nah, sejak diresmikannya pembangunan Musium Muhammadiyah oleh Presiden Jokowi, Majlis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah (PPM) langsung tancap gas: menggiatkan penulisan sejarah Muhammadiyah, termasuk yang ada di ranting.

iklan

(Baca: Tak Ingin Melupakan Sejarah, Para Pimpinan Ranting Ini Napaktilasi Sejarah Berdirnya Muhammadiyah)

Seperti halnya kegiatan di SMP Muhammadiyah 7 Blimbing, Paciran, Lamongan, Ahad (23/7). Bekerja sama dengan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Blimbing MPI PP Muhammadiyah menyelenggarakan workshop penulisan sejarah Muhammadiyah, dengan pembicaraan David Efendi SIP MA (anggota MPI PPM), Maslahul Falah MSi (penulis buku Latar Ombo – Sejarah Muhammadiyah Bulubrangsih), dan Fauzan Anwar MHum (pegiat literasi rumah baca Yogyakarta).

Dalam sambutanya Ketua PRM Blimbing A Fuad menyampaikan bahwa kegiatan ini penting sebagai awal dalam menumbuhkembangkan semangat untuk mencatat dan menuliskan kembali sejarah pergerakan Muhammadiyah di Blimbing—yang menurut cerita verbal adalah awal dari Muhammadiyah daerah Lamongan. “Maka cerita tersebut perlu digali dan ditelusuri secara keilmuan agar dapat dipertanggungjawabkan,” pesannya.

(Baca juga: Segera Terbit! Buku Biografi 2 Kyai Khos Muhammadiyah Tapal Kuda)

Kegiatan tersebut diikuti hampir seluruh perwakilan elemen di Muhammadiyah Blimbing mulai dari amal usaha maupun ortom yang sejak awal mendaftarkan diri sebagai peserta, mengingat peserta dibatasi hanya 30.

Dalam presentasinya, David Efendi menyebutkan bahwa salah satu sumber otentik ilmu pengetahuan adalah menuliskan sejarah. “Ketertinggalan menuliskan sejarahnya itulah yang kini sedang dikejar oleh Muhammadiyah,” ujarnya.

Berfoto bersama usai workshop. (Foto Nu’man Suhadi/pwmu.co)

Lebih lanjut anggota MPI PPM itu menyebutkan bahwa soal teknis dan metodologi penulisan bisa dipelajari sambil berjalan. “Yang penting pengumpulan data dan verifikasi data sebanyak-banyaknya,” kata dia.

(Baca juga: Seorang Kyai Bertanya: Mengapa Umat Islam Indonesia Tidak Berwibawa?)

Sementara itu, Maslahul Falah mengungkapkan bahwa menuliskan sejarah pergerakan Muhammadiyah Blimbing tidak hanya membanggakan tetapi juga menarik. “Mengingat dalam sejarahnya Muhammadiyah Blimbing pernah menjadi Cabang Istimewa,” tuturnya.

Fuad menyatakan, hasil workshop ini akan ditindaklanjuti dengan membentuk tim penulisan sejarah Pergerakan Muhammadiyah Blimbing yang terdiri dari unsur perwakilan ortom ditambah representasi amal usaha. “Targetnya harus selesai sebelum Muktamar Muhammadiyah berlangsung, sebagai hadiah dari Pantura. (Nu’man Suhadi)