Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

4 Tahun Ibu Menunggu di Depan Kelas, Anak Difabel Ini Lulus Cumlaude dari UM Surabaya

Iklan Landscape Smamda
4 Tahun Ibu Menunggu di Depan Kelas, Anak Difabel Ini Lulus Cumlaude dari UM Surabaya
Bonifacius David Hendrawan bersama orang tua dan jajaran rektorat UM Surabaya. Foto: Humas
pwmu.co -

Keterbatasan sering kali dianggap sebagai penghalang menuju mimpi. Namun, bagi sebagian orang, keterbatasan justru menjadi bahan bakar untuk menyalakan api semangat.

Kisah Bonifacius David Hendrawan, mahasiswa difabel lulusan Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), adalah salah satu buktinya. Bersama sang ibu, Ina Rostiana Ari Nugrahani, David menulis kisah hidup yang tak sekadar tentang perjuangan menempuh kuliah, tetapi juga tentang cinta, kesetiaan, dan keberanian untuk tidak menyerah.

Setiap pagi, pemandangan yang sama berulang di kampus UM Surabaya. Seorang ibu dengan wajah teduh menunggu di depan pintu kelas.

Bukan untuk mengantar bekal atau sekadar menyapa, tetapi untuk menemani putranya meniti mimpi.

Selama empat tahun, dari hari pertama kuliah hingga wisuda, Ina Rostiana setia menjadi bayang-bayang perjuangan David.

Tak terhitung berapa kali ia menempuh perjalanan satu setengah jam dari rumah ke kampus menggunakan sepeda motor yang sudah dimodifikasi di bengkel.

Tak jarang, kendaraan itu mogok di tengah jalan, bahkan pernah besinya patah di tengah perjalanan. Namun, semangat Ina tak pernah padam.

“Awalnya Mama belajar naik motor dulu selama sebulan, karena belum terbiasa. Tapi demi saya, Mama berani,” kenang David, di acara Wisuda 53 TA 2024-2025 Genap Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) di Dyandra Convention Hall Gramedia Expo, Sabtu (25/10/2025).

Kini, perjuangan panjang itu berbuah manis. David resmi menyandang gelar sarjana Pendidikan Bahasa Inggris dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UM Surabaya, dengan predikat cumlaude dan IPK 3,68. Sebuah pencapaian yang menegaskan bahwa tidak ada batas bagi mereka yang mau berjuang.

David adalah anak pertama dari dua bersaudara. Sejak kecil, ia hidup berdampingan dengan disabilitas fisik. Orang tuanya, Purwoko Alfa Kurniawan dan Ina Rostiana, tak pernah menuntut banyak.

Mereka hanya ingin David bisa mengenal huruf dan angka. Namun, Tuhan rupanya menanamkan kecintaan besar terhadap ilmu di hati anak itu, terutama terhadap bahasa.

Sejak SD hingga SMA, David menempuh pendidikan di SLB YPAC Surabaya. Dunia yang penuh keterbatasan itu justru membentuk ketekunan dan rasa ingin tahunya.

Suatu hari, gurunya memberi kabar bahwa UM Surabaya membuka beasiswa penuh bagi mahasiswa difabel. Tanpa berpikir panjang, David mencoba peruntungan—dan diterima.

“Saya nggak menyangka bisa kuliah. Waktu itu rasanya seperti mimpi yang jadi kenyataan,” ucapnya.

Menyatu di Kampus Muhammadiyah

Sebagai non-Muslim, awalnya David sempat khawatir akan kesulitan beradaptasi di kampus berbasis Islam.

Namun, semua kekhawatiran itu lenyap ketika ia mulai menjalani perkuliahan. Dosen dan teman-teman memperlakukannya dengan penuh penghormatan dan kehangatan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Semua orang memperlakukan saya dengan sangat baik. Tidak ada perbedaan. Dosen-dosen juga sabar membantu saya,” ujar David, matanya berbinar mengenang masa-masa kuliah.

Beasiswa difabel dari UM Surabaya tidak hanya meringankan beban biaya, tetapi juga menjadi jembatan menuju mimpi yang dulu terasa jauh.

Baginya, kampus ini bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang inklusif yang memberikan kesempatan setara bagi siapa pun, tanpa melihat fisik, agama, atau latar belakang.

Dalam perjalanan akademiknya, David tidak pernah benar-benar sendirian. Sang ibu selalu menjadi penjaga semangat, pengingat di saat lelah, sekaligus sahabat diskusi ketika tugas-tugas menumpuk.

“Kalau ditanya siapa yang paling berjasa, pasti Mama. Beliau teman saya belajar, teman bercerita, dan orang yang selalu bilang kalau setiap pilihan harus kita pertanggungjawabkan dengan berani,” ucap David, suaranya bergetar menahan haru.

Setiap detik perjuangan Ina tak ternilai. Ia tidak hanya mendampingi, tapi juga belajar memahami ritme hidup anaknya. “Mama adalah ibu terbaik di dunia. Saya selalu berdoa agar beliau diberi umur panjang dan kesehatan,” tutur David dengan mata berkaca-kaca.

Sebagai puncak studinya, David menulis skripsi berjudul Improving English Writing Text of 12th Grade Students with Physical Impairments Using Instagram Feed in SLB YPAC Surabaya.

Lewat penelitian ini, dia ingin menunjukkan bahwa teknologi bisa menjadi jembatan pembelajaran yang efektif bagi siswa difabel. Bukan hanya untuk memenuhi syarat akademik, tetapi juga sebagai bentuk kontribusi nyata bagi dunia pendidikan inklusif.

“Terima kasih UM Surabaya sudah membuka jalan bagi mimpi saya, mimpi yang dulu hanya ada di kepala, tapi kini jadi nyata,” ujarnya penuh rasa syukur.

Buka Kursus Bahasa Inggris

Setelah lulus, David tak ingin berhenti di sini. Ia sudah menyiapkan rencana untuk membuka kursus bahasa Inggris daring. Baginya, mengajar adalah cara terbaik untuk berbagi pengetahuan sekaligus membuktikan bahwa difabel juga bisa produktif dan mandiri.

“Dalam waktu dekat saya ingin membuka kelas private online bahasa Inggris. Itu yang paling mungkin saya lakukan dari rumah. Semoga bisa segera terwujud,” ujarnya optimistis.

David sadar, perjalanan hidupnya masih panjang. Namun, satu hal yang pasti: ia telah menaklukkan batas yang dulu tampak mustahil.

Bersama cinta dan keteguhan sang ibu, ia menunjukkan kepada dunia bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari tubuh yang sempurna, tetapi dari hati yang tidak pernah berhenti berjuang. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu