
PWMU.CO – Seru! Itulah yang dirasakan siswa-siswi kelas II Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Baratajaya Surabaya. Mereka belajar lifeskill membuat makanan tradisional secara langsung dengan membuat lemet, Jumat (7/2/2025).
Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) tema Kebinekaan dengan pendekatan Deep Learning yang menekankan pada pemahaman mendalam dan relevansi konteks.
Selain sebagai bagian pembelajaran yang mengintegrasikan mindful, meaningful, dan joyful, pembelajaran lifeskill ini juga mengajarkan siswa untuk melestarikan makanan tradisional serta makanan sehat tanpa MSG (Monosodium Glutamat) atau bahan pengawet.
Para siswa kelas II terlihat antusias saat membuat lemet dengan kostum mendukung layaknya seorang koki memakai apron atau celemek dan topi masak.
Tangan mungil yang cekatan itu siap meramu bahan-bahan yang sudah disiapkan sebelumnya. Mulai dari mengupas dan memarut singkong, memotong dan membersihkan daun, membuat adonan, membungkus, dan mengukusnya. Semua itu dilakukan siswa dan ada leader masing-masing dan guru hanya bertugas mendampingi sebagai fasilitator.
Guru Sekolah Kreatif kelas II, Mar’atus Sholihah MPd mengatakan kegiatan ini merupakan implementasi pembelajaran tema Kebinekaan tentang makanan tradisional. “Tujuannya agar anak-anak bisa mengenal makanan tradisional dan melestarikannya serta mandiri melakukan semuanya sendiri,” katanya.
Ia menambahkan, ada nama lain lemet bergantung daerah masing-masing. “Ada yang menyebut pluntir, utri, atau ketimus. Ini juga bisa menjadi pengetahuan untuk anak-anak tentang nama-nama lain makanan tradisional,” ucapnya.
Atus, sapaan akrabnya, menambahkan, sebelumnya anak-anak sudah dijelaskan materi apa itu makanan tradisional. “Selanjutnya, anak-anak kita ajak belajar proses membuat makanan tradisional secara langsung. Tujuannya agar mereka bisa mengetahui secara langsung, bukan dari buku teks,” ujarnya.
Sebelum praktik, mereka mempersiapkan alat dan bahan yang digunakan. “Di antaranya singkong, kelapa, gula merah, garam, daun pisang, baskom, dan panci kukus,” katanya.