
PWMU.CO – Kiai Dawam Saleh atau lengkapnya Drs KH Muhammad Dawam Saleh di hampir setiap momentum acara bersama guru selalu mengajak ikhlas. Pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung ini tidak ada rasa jemu mengajak para guru untuk ikhlas dalam mengajar.
Hal itu dia sampaikan di hampir tiap rapat para guru yang kebetulan didaulat sebagai pengisi muqaddimah rapat, seperti halnya disampaikan di Buka bersama (Bukber) di SMP Muhammadiyah 12 Sendangagung, Paciran, Lamongan, Jawa Timur, Ahad (23/03/2025).
Prinsip keikhlasan ini, didapatkan dari gurunya saat di MIM Sendangagung di awal berdiri, 1 Mei 1965. Hal ini dia akui karena guru-guru yang dijumpainya adalah guru yang gigih dan tulus berjuang, tak ada imbalan yang setimpal atas dedikasi para guru terdahulu.
Oleh karenanya, pria kelahiran 9 November 1953 ini senantiasa berprinsip untuk menjaga kualitas pendidikan harus diawali guru yang ikhlas, dan menurutnya, besarnya SMPM 12 dan Ponpes Al-Ishlah adalah karena kualitas yang terus terjaga hingga saat ini, untuk itu dia terpanggil mengajak ikhlas para guru.
“Jangan mengajar hanya mikir bayaran saja, mengajar yang ikhlas penuh kualitas, pengurus atau yayasan akan memikirkan bayaranmu,” pesan Dawam yang sering didengungkan di setiap rapat.
Ia pun sering ceritakan tentang guru-gurunya yang ikhlas dari guru masa di MIM dulu (1966-1968) di antaranya, Munir Ahmad, Ahmad Malih, M Nur Salim, Ma’shum Ahmad, Rusydi Raji, dan Mushowir, hingga diketemukan Tri Murti di KMI Gontor.

Kiai Dawam di Mata Gurunya
Ustadz H Munir Ahmad adalah salah satu guru MIM Sendangagung sekaligus sesepuh Muhammadiyah Sendangagung, pria yang dikenal penyabar lagi teduh, dan sering menjadi mediator manakala ada persoalan internal lembaga ini adalah guru yang pernah mendidik Muhammad Dawam saat masih di MIM Sendangagung.
Di mata Munir Ahmad, Dawam Saleh orangnya istiqamah, kuat dan teguh dalam prinsip pendidikan, untuk itu pria kelahiran 1938 ini mendukung apa yang disampaikan muridnya yang kini menjadi pengasuh ribuan santri di Ponpes Al-Ishlah Sendangagung.
Hal ini pernah disampaikan saat ayah satu anak (M Mishbahul Muttaqin) ini hadir dalam acara Upacara Milad Muhammadiyah di halaman SMPM 12 Sendangagung tahun 2024.
“Guru-guru sekarang ini harus bersukur dengan besarnya sekolah dan pondok dengan cara menjaga mutu, serta terus ikhlas seperti yang sering digaungkan Kiai Dawam, harus sami’na wa atha’na,” pesan guru Madrasah Islamiyyah Suto 1950-1954 ini.
“SMPM 12 dan Al-Ishlah yang diasuh Kiai Dawam bisa tetap besar seperti ini karena adanya keikhlasan para guru, maka pesan Kiai harus terus diindahkan jangan diabaikan,” pungkasnya.(*)
Penulis Gondo Waloyo Editor Zahrah Khairani Karim