
PWMU.CO – KH Musthofa Muntasam Lc MA menyampaikan khutbah Idul Fitri di Lapangan Takerharjo, Solokuro, Lamongan, Senin (31/3/2025). KH Musthofa Muntasam, yang lahir di Lamongan (26/5/1963), tiba di lapangan shalat Idul Fitri Takerharjo pukul 06.00. Dia menyetir sendiri. Istri, anak, menantu, dan cucunya duduk di belakang kemudi.
Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Takerharjo menyambut kedatangan KH Musthofa Muntasam dengan sukacita. Penceramah yang bertempat tinggal di Palirangan, Payaman, ini ditempatkan pada saf pertama. KH Muhammad Tsabit dan KH Amirul Mu’minin turut mendampinginya.
Seribu enam ratusan jamaah pun merapatkan dan meluruskan barisan. Jamaah mengumandangkan takbir. Jamaah juga mengisi kaleng dengan uang logam dan kertas. Bendahara mengumpulkan dan menghitungnya. Jumlah totalnya tiga belas juta sembilan ratus enam puluh delapan ribu lima ratus rupiah.
Selanjutnya, KH Musthofa Muntasam mengimami shalat Idul Fitri. Waktunya mulai dari terbit matahari sampai tergelincir ke arah barat. Tata cara shalat Idul Fitri adalah bertakbir tujuh kali pada rakaat pertama. Pada rakaat kedua, bertakbir sebanyak lima kali sambil mengangkat kedua tangan setiap takbir. Kemudian, membaca ta’awudz, lalu membaca Al-Fatihah dan surat lainnya dengan keras.
Setelah itu, KH Musthofa Muntasam menyampaikan khutbah. Isinya adalah anjuran untuk menyebarluaskan kebahagiaan dengan cara dan sarana yang diperbolehkan. Selain itu, ia menganjurkan mandi junub, memakai pakaian yang bagus, serta makan dan minum sebelum shalat Idul Fitri.
Berikutnya, KH Musthofa Muntasam berdoa. Di antaranya, “Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari (hal yang) menyusahkan dan menyedihkan, sifat lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan utang, dan penindasan orang lain.”
Sesudah khutbah, KH Musthofa Muntasam bersilaturahmi di rumah M. Sukarno SPd. Tuan rumah menghidangkan makanan, minuman, serta buah-buahan. Nikmat makanan itu seolah tiada habisnya.
Lebih dari itu, KH Musthofa Muntasam berkisah. Dia pernah mengendarai motor dari Magetan ke Banyuwangi untuk berdakwah. Dia juga pernah mengalami kecelakaan ketika mengendarai motor sebagai dosen di Maskumambang.
Kini, pria yang mempunyai enam saudara kandung dan delapan saudara tiri ini sering menyampaikan khutbah di Masjid Namira, Lamongan.
Penulis Mushlihin Editor Zahra Putri Pratiwig