Postur Pendek Itu Bukan Takdir Genetik

329
Pasang Iklan Murah
dr Nila (depan, kanan) saat memberi penjelasan soal stunting. (Isna/PWMU.CO)

PWMU.CO – Mayoritas penduduk Indonesia yang bertubuh pendek ternyata bukan hal remeh. Meski banyak dianggap sebagai warisan genetik, namun pada kenyataannya, tubuh yang pendek juga sangat dipengaruhi oleh faktor kecukupan gizi.

Hal tersebut diuraikan oleh dr Nila saat menjadi narasumber Pos Edukasi pada pelaksanaan Pelayanan Remaja Sehat Milik Nasyiatul Aisyiyah (Pashmina) di Masjid Muslimin Jalan Ade Irma Suryani, Tongan, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Ahad (7/1/18).

Tubuh yang pendek, atau dalam istilah kedokteran disebut stunting, masih dianggap sesuatu yang digampangkan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Padahal, stunting adalah sesuatu yang penting dan harus diperbaiki. Oleh karenanya, kampanye stunting diangkat menjadi salah satu program kerja Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA).

“Itu juga yang mendasari tema pelaksanaan Pashmina hari ini. Sebagai Pimpinan Daerah NA, kami melaksanakan program kerja PPNA terkait kampanye stunting,” terang Jihan Mawaddah, koordinator pelaksana Pashmina.

Di hadapan puluhan remaja usia SMP hingga SMA dr Nila menegaskan bahwa stunting terutama dipengaruhi pada 1000 hari pertama kehidupan manusia, atau bayi usia 0-2 tahun.

Peserta Pos Edukasi Pashmina Kota Malang. (Isna/PWMU/CO)

Dia menjelaskan, jika tidak ada asupan makanan yang bagus pada bayi, terutama kandungan protein, maka tumbuh kembang anak akan terganggu.”Selama ini seringkali orang menjadikan berat badan sebagai tolak ukur pertumbuhan. Padahal, kalau asupan gizi buruk, energi kurang, berat badan tidak naik, otomatis tubuh juga tidak akan bertambah tinggi. Otomatis tubuh akan pendek,” jelasnya.

Stunting ibarat lingkaran setan. “Bayi yang stunting akan tumbuh pendek, lalu tumbuh menjadi dewasa, hamil, dan akan melahirkan anak juga pendek,” begitu dr Nila menganalogikan.

Oleh karenanya, dia menegaskan bahwa 4 sehat 5 sempurna kini sudah bukan yang utama berlaku. “Yang paling penting adalah gizi berimbang. Tercukupi karbohidrat dan lemak sebagai energi, protein sebagai zat pembangun, serat, vitamin, dan mineral sebagai zat pemelihara,” tegasnya.

Pashmina di Kota Malang yang sudah digelar kesekian kali ini merupakan salah satu Pashmina percontohan tingkat nasional. “Kita harus bangga dan terus mengembangkan pelaksanaan Pashmina di Kota Malang. Ke depan, PDNA Kota Malang akan memperbaiki sistem maupun silabus pelaksanaan demi Pashmina kota Malang yang lebih baik,” ujar Vebrina Reza, Sekretaris PDNA kota Malang yang juga wakil koordinator Pashmina Jawa Timur. (Isna)