Merawat Kearifan sebagai Aktivis Muhammadiyah: “Ukuran Sukses Kader Itu ya Subuh Berjamaah”

271
Pasang Iklan Murah
Salah satu shalat jamaamh di Famgath 2017. (Aqil Rausanfikr Mohammad/PWMU.CO)

Oleh Mariman Darto

PWMU.CO – Ajang silaturrahim keluarga Muhammadiyah Jawa Timur yang dikemas dalam bentuk Family Gathering (Famgath) 2017 di Taman Dolan, Batu Malang, 30-31 Desember lalu membawa kenangan manis. Selain sebagai ajang silaturrahim sesama keluarga besar Muhammadiyah, juga menjadi media saling mengingatkan bahwa kita terikat di dalam nilai-nilai kejuangan, yang harus selalu dipegang teguh sebagai aktivis Muhammadiyah.

iklan

Hadir dalam Famgath 2017 ini antara lain para sahabat dan keluarga besar aktivis Muhammadiyah yang pernah tinggal dan dibesarkan di Jawa Timur. Mereka kini tinggal di berbagai daerah antara lain Surabaya, Malang, Blitar, Trenggalek, Gresik, Sidoarjo, Jombang, Ponorogo, Nganjuk, Klaten, Malinau (Kalimantan Utara), Samarinda (Kalimantan Timur), dan Makassar (Sulawesi Selatan).

Saya sendiri kali ini mengerahkan seluruh anggota keluarga yaitu Siti Nuriyatus Zahrah (istri) dan anak-anak: Firsty Aisyah Izzati (18), Farah Aini Fatimah (17), Musthafa Ahmad Alghifary (12). Kesan saya, silaturrahim seperti ini penting dan perlu diapresiasi serta dapat dijadikan role model dalam memperkuat gerakan dakwah yang berbasis pada keluarga, khususnya di Muhammadiyah.

Dengan dihadiri sekitar 400 peserta, Famgath 2017 kali ini dikelola jauh lebih baik dibandingkan dengan pelaksanaan sebelumnya. Panitia terlihat lebih siap. Kegiatan anak-anak jauh lebih banyak dengan berbagai jenis permainan baru. Wajar jika mulai dari anak-anak hingga orang tua terlihat bergembira.

“Mana para aktivis … (sambil menunjuk salah satu ortom). Diskusi tentang revolusi saja bisa sampai jam 02.00. Tapi shalat subuh berjamaah tidak bisa. Ukuran menjadi aktivis sukses itu ya shalat Subuh berjamaah,” tegas Nadjib Hamid mengawali sharing session pengalaman hidup para peserta Famgath usai Subuh.

Saya setuju dengan pendapat Mas Nadjib itu! Salah satu indikator aktivis Muhammadiyah yang utama adalah shalat berjamaah. Sebab ia merupakan komponen penting nilai-nilai religiusitas seorang aktivis, selain beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta memiliki kemampuan bermuamalah. Ibadah shalat adalah pondasi dasar kokohnya karakter seorang aktivis Muhammadiyah.

Karena itu, salah satu kegiatan yang paling ngangeni adalah shalat berjamaah bersama rekan-rekan aktivis. Memori kita dipaksa untuk mengingat masa lalu, saat masih berjuang bersama. Salah satu tempat berkumpul kita setelah shalat adalah masjid. Mengembalikan memori kita ke sejarah perjuangan masa lalu adalah hal penting, agar kita tidak melupakan hal-hal baik yang pernah  kita lakukan, termasuk shalat berjamaah.

Kegiatan lain yang ditunggu peserta Famgath adalah sharing session. Kegiatan biasanya dipimpin oleh Mas Nadjib. Umumnya dilakukan usai shalat berjamaah. Waktu yang diberikan hanya 5 menit. Namun kadang kala ada peserta yang lebih dari itu bahkan ada yang kurang. Setiap peserta yang ditunjuk wajib menyampaikan pengalaman hidup, kiat sukses dalam rumah tangga dan kehidupan, menyampaikan pengalaman berbisnis, dan hal-hal bermanfaat yang lain.

Hal baik dari sesi ini adalah membiasakan diri untuk saling berbagi dengan yang lain. Mungkin hari ini di antara kita, karena tuntutan pekerjaan, justru kita tinggalkan. Adanya Famgath ini justru dapat hidup kembali. Bisa jadi menjadi kebiasaan yang kita tekuni kemudian kita kembangkan di waktu mendatang.

Hal lain yang tidak pernah saya lupakan adalah tidur di tenda. Ini juga salah satu momen yang paling ditunggu keluarga saya. Bayangkan, satu keluarga ada lima orang. Tidur bersama dalam tenda dan semuanya bisa nyenyak. Subhanallah. Maka saya kaget ketika Mas Nugroho—Koordinator Famgath 2017—bertanya, “Mas Mariman, mohon maaf kamar yang tersedia tinggal tenda.” Maka spontan saya menjawab, “Tidak apa-apa Mas. Ini lebih dari cukup.” Sebab, banyak peserta yang lain yang tidak seberuntung saya yang tinggal di barak besar berselimut kabut tebal yang pasti dingin karena tanpa dinding.

Ya. Inilah Famgath 2017. Ketika uang dan jabatan tak lagi bernilai. Yang ada dan lebih bernilai adalah kearifan kita sebagai aktivis Muhammadiyah. Terima kasih Mas Nadjib, Mas Nugroho, dan semua rekan-rekan yang telah menyukseskan Famgath 2017. Sampai jumpa di Famgath 2018! (*)

Samarinda, 7 Januari 2018

Keluarga Mariman, (Aqil Rausanfikr Mohammad/PWMU.CO)