4 Pesan Haedar Nashir agar Guru Muhammadiyah Tidak Jadi Duri di Dalam Daging

2906
Hikmah Press
Haedar Nashir (kedua dari kanan) menjadi Keynote speaker dalam Diksuspala Muhammadiyah Jatim. (ECU/PWMU.CO)

PWMU.CO – Kualitas pendidikan sangat berpengaruh pada kemajuan suatu bangsa. Itulah semangat pembaharuan pendidikan yang dibangun oleh KH Ahmad Dahlan.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr Haedar Nashir menyampaikan hal itu dalam Pendidikan Khusus Kepala Sekolah ( (Diksuspala) Muhammadiyah Jawa Timur yang diselenggarakan Majelis Dikdasmen Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim, di Trawas, Mojokerto, (22/1/18).

iklan

Diksuspala yang akan digelar selama empat hari, (22-25/1/18) merupakan agenda rutin untuk pembinaan dan pembekalalan (calon) kepala sekolah. Tujuannya, menjadikan kepala sekolah Muhamamdiyah profesional, yang mampu bekerja secara amanah dan inovatif sehingga mampu mebawa sekolah Muhammadiyah unggul.

Menurut Haedar, ada empat ciri desain sekolah unggul Muhamamdiyah, yaitu pertama, perspektif pendidikan Islam modern atau berkemajuan. “Di mana agama menjadi dasar untuk memelajari dan menguasai pengetahuan yang berkarakter mulia dan siap menjadi bagian dari perubahan berkemajuan,” uangkapnya.

Baca Juga:  Serasa Tidur di Pesawat Star Trex, Peserta Diksuspala Menikmati Sensasi Capsule Room

Kedua, sumber daya manusia (SDM), dalam hal ini guru, menjadi tiang utama. “Guru di sekolah Muhammadiyah jangan menjadi guru biasa. Harus menjadi guru yang plus,” jelas Haedar.

Guru-guru Muhammadiyah, menurutnya, harus menjadi sosok aktor pembelajar. “Harus mau belajar lintas ilmu.
Guru umum harus punya dasar agama yang baik atau mau belajar agama. Sebaliknya guru agama atau al-Islam harus mau belajar ilmu sosial maupun eksak sehingga tidak mencekoki anak didik dengan pandangan yang sempit,” papar dia.

Dalam konteks keilmuan, guru harus mau belajar dan punya kebiasaan membaca. “Sebab dengan membaca otak kita menjadi sehat,” terang Haedar.

Ketiga, sistem pendidikan Muhammadiyah menggunakan sistem modern. “Sesuai cita-cita pendiri muhammadiyah KH Ahmad Dahlan yang mengintegrasikan islam dan pengetahuan yang berkemajuan,” ujar dia.

Baca Juga:  Jangan Hanya Siapkan Akreditasi, Kepala Sekolah Muhammadiyah Harus Bisa Cetak Pemimpin Global

Keempat, kepala sekolah bukan sekadar jabatan namun sebagai leader punya tugas to influence yang bisa memengaruhi proses di sekolah. “Juga menjadi social change yang memilih menjadi driver. Yang tidak kalah pentingnya adalah mempunyai Integritas dan moralitas yang tinggi,” urainya.

Haedar berpesan menjadi pimpinan di sekolah Muhammadiyah jangan menjadi duri dalam daging artinya janganlah memimpin sekolah Muhammadiyah tapi pola pikirnya bukan Muhammadiyah.

Dia juga menyampaikan guru dan kepala sekolah Muhammadiyah harus menjadi pendidik, bukan sekadar menjadi tukang apalagi hanya menjadi pencari nafkah. “Bila guru atau kepala sekolah hanya berpikir mencari nafkah akan rusak pikirannya, dan habislah karakter pendidiknya,” tegas Haedar. (ECU)

Baca Juga:  Ternyata Memberi Hati Itu Tak Semudah "Tap 2 Kali" di Instagram, Catatan Peserta Diksuspala 2018