Anak Penyadang Disabilitas Bukan Beban, SMAM-X Membuktikan

78
Hikmah Press
Aan/pwmu.co
Siswa SPAH SMAM-X sedang mewarnai gambar.

PWMU.CO-Anak penyadang disabilitas bukanlah beban. Sebab mereka adalah karunia yang diciptakan Allah swt dengan segala potensi dan keterbatasannya.

Begitu pesan yang ditulis oleh Kepala SMA Muhammadiyah 10 (SMAM-X) Surabaya Ir Sudarusman di atas kain putih yang terpajang di pintu masuk sekolah.

iklan

Baca Juga: Di Rumah Kasih Sayang, Para Difabel Berlatih Keterampilan Bernilai Jual Tinggi

Sudarusman mengatakan, pesan itu ditulisnya sebagai salah satu bentuk dukungan untuk anak berkebutuhan khusus atau penyadang disabilitas.

“Anak berkebutuhan khusus memang berbeda. Tapi mereka memiliki hak yang sama untuk bisa sukses dan bisa hidup membaur bersama masyarakat,” terang Sudarusman saat ditemui di kantornya, Selasa (3/4/2018).

Selama dua hari Senin-Selasa (2-3/4/2018), Sekolah Keberbakatan SMAM-X mengadakan aksi menulis pesan solidaritas untuk anak hebat atau penyandang disabilitas. Aksi tersebut untuk memperingati Hari Peduli Autisme se Dunia.

Selain Sudarusman, segenap keluarga besar SMAM-X juga menuliskan pesan dukungannya untuk anak penyandang disabilitas di atas kain putih tersebut.  “Kehebatan bukan hanya dari fisik. Tapi juga dari keberanian. Dan berbeda itu indah,” tulis Ketua PR IPM SMAM-X Usamah Muhammad.

Sementara itu, pembina Program Sekolah Peduli Anak Hebat (SPAH) SMAM-X  Normalia menambahkan, selain aksi menulis pesan solidaritas, SMAM-X juga mengadakan lomba mewarnai poster khusus untuk siswa SPAH.  “Lomba mewarnai poster tersebut diikuti oleh 10 siswa SPAH,” terangnya.

Normalia menyebutkan, program SPAH dimaksudkan untuk mengantarkan siswa berkebutuhan khusus untuk bisa bersosialisasi dan berkolaborasi dengan anak-anak lain, serta bisa membaur bersama masyarakat.

“Secara umum kami ingin mengenalkan bahwa anak berkebutuhan khusus itu anak hebat. Mereka itu bukanlah beban,” tegasnya.

Anak berkebutuhan khusus, sebut dia, apabila ditangani dengan baik akan dapat mengembangkan potensinya. “Anak hebat itu sama dengan siswa regular. Mereka punya potensi yang bisa dikembangkan,” tandasnya. (Aan)