Benahi Bangsa, Ajak Warga Muhammadiyah Jadi Penerus Estafet Kenabian

88
Hikmah Press
DR. H. Syamsudin, MA memberikan materi daklam pengajian Ahad Pagi yang digelar Majelis Tabligh PCM Gempol (foto: Miftachuddin/pwmu.co)

PWMU.CO-Majelis Tabligh PCM Gempol kembali menggelar pengajian Ahad Pagi, Ahad (8/04/2018). Kegiatan pengajian yang sudah memasuki putaran ke-3 digelar di Masjid Al Falah Gempol dengan menghadirkan DR. H. Syamsudin, MA. Tak hanya jajaran pimpinan Muhammadiyah, pengajian yang mengangkat tema Kemenangan Menurut Al quran ini juga dihadiri masyarakat luar.

Di hadapan ratusan jamaah yang hadir, Ustadz Syamsudin mengawali ceramahnya dengan membacakan surat al Jumuah ayat (2), sebuah ayat yang menjelaskan tentang tugas nubuwwah seorang Nabi dan Rosul. Dikatakan, sesuai ayat tersebut, seorang Nabi dan Rosul memiliki tugas nubuwwah

iklan

“Pertama, tazkiyah nafsih yang membawa kepada kehidupan yang suci, karena itu adalah pilar utama Islam yang menuntut pemurnian tauhid,” jelas Syamsudin.

Tauhidnya, lanjut dia, jernih dan inilah langkah awal dakwah dalam revolusi akhlaq sehingga tidak ada dosa besar ketika diikuti istighfar dan taubat, dan tidak ada dosa besar tidak diikuti dosa kecil. “Pada awal Nabi Saw diutus, bangsa arab mengalami kejumudan dengan berbagai macam kesyirikan sehingga surat yang turun di Mekkah (surat makkiyah) selama awal kerosulan banyak berorientasi pada aqidah atau tauhid,” jelas dia.

Kedua, lanjut dia, tilawatil quran (membaca al Quran). Seorang muslim wajib bisa baca al Quran dan menjadikan al Quran sebagai pedoman. Dikatakan, al Quran pada masa Nabi Saw belum mempunyai tanda baca, baru pada masa tabiit tabiin diberi tanda baca oleh Abul Aswad Ad Duali, sehingga memudahkan  bagi orang ajam (non arab) untuk mempelajarinya.

Ketiga, kata dia, taklimul kitab wal hikmah (belajar al Quran dan hikmah). Ktika sudah mempelajari al Quran, dilanjutkan dengan meningkatkan ilmu agama. Menurut dia, ummat Islam tidak harus semuanya menjadi arsitek, tidak semua menjadi pengusaha atau yang lainnya, tetapi harus ada tafaquh fiddin.

Kemudian Syamsuddin bercerita bahwa ketika Kemal At-Taturk berkuasa di Turki, maka terjadi pemisahan urusan agama dengan urusan negara sehingga terjadi suatu kejadian di suatu desa ada seseorang yang meninggal dunia kemudian tidak ada yang merawat sesuai syariat. “Ternyata kita tetap melihat bagaimana Turki berkembang pesat dengan seorang pemimpin yang mampuh menegakkan syariat,” ucap dia.

Sambil menguraikan surat al Baqarah ayat (143), Syamsudin mendorong seorang Muslim harus menjadi teladan di hadapan umat-umat lainnya, harus menjadi pemimpin bukan yang dipimpin. Syamsudin pun kemudian membalik dengan memberikan pertanyaan yang terjadi di Indonesia. “Kenapa muslimin di Indonesia terjajah, melarat, kotor dan lain-lain. Itulah problem bagi muslim Indonesia,” ungkap dia.

Maka, lanjut dia,  Muhammadiyah yang didirikan KH. Ahmad Dahlan harus tampil mengatasi problem terjajah dengan menuju kemerdekaan, anak terlantar dengan mendirikan panti asuhan, keterbelakangan dengan mendirikan rumah sakit, dan kemelaratan dengan memberikan lapangan pekerjaan. “Muhammadiyah sebagai pencerminan ummatan wasathan ikut tampil dalam  kemerdekaan Indonesia, serta menjadikan sebagai darul ahdi wasy syahadah,” ucap dia.

Dikatakan, negara-negara Arab yang luasnya tidak begitu besar di mana tanahnya satu jazirah, bangsanya bangsa arab dan bahasanya bahasa arab tetapi berdiri negara sendiri-sendiri. Namun Indonesia dengan sumpah pemudanya mampu menyatukan ribuan pulau, ratusan suku bangsa dan bahasa dalam negara kesatuan republik Indonesia.

Di akhir ceramahnya, Syamsudin menyampaikan surat at Tahrim ayat (6) untuk mengajak kepada warga Muhammadiyah agar menjadi  penerus estafet kenabian dalam kekinian karena setiap diri seseorang menjadi rosul pada batas dirinya dan  keluarganya.

Majelis Tabligh PCM Gempol sendiri menaungi 8 Masjid dan beberapa musholla yang tersebar di ranting-ranting PCM Gempol. Kajian seperti ini menjadi salah satu bentuk silaturrahim PCM Gempol ke Ranting-ranting. “Sebelumnya, kajian Ahad ke-2 berfokus pada satu tempat. Itulah sebabnya kajian ini disebut kajian silaturrahim dan alhamdulillah perkembangan jama’ah terus meningkat,” ujar Koordinator Majelis Tabligh PCM Gempol, Ustadz Alfin Alief dalam sambutannya. (Miftachuddin)