Kisah Dakwah Zaman Dulu: Ndak Ada Ceritanya Sumur Mendatangi Timba

110
Hikmah Press
Ustadz Hilmi Azis Chamim (depan kanan) didampingi Ketua MPK PDM Gresik Almuslimun dalam Kajian Adh Dhuha. (Lilik ISnawati/PWMU.CO)

PWMU.CO – Berbagai kisah menarik soal dakwah zaman dulu mengemuka dalam “Kajian Adh Dhuha” yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Kader (MPK) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gresik, di Gedung Dakwah Muhammadiyah Gresik, Senin (9/4/18).

Adalah Wakil Ketua PDM Gresik, Hilmi Azis Chamim, yang mengungkapkannya dalam kajian bertema “Motivasi Dakwah dan Rekrutmen Kader” itu. Menurut Ustadz Hilmi—sapaan akrabnya—di masa kecilnya, tidak ada ceritanya mubaligh mendatangi jamaah.

iklan

“Kalau dulu tidak ada kiai mendatangi umat dalam memberi ceramah. Ndak ada sumur marani (mendatangi) timba,” ujarnya menyitir sebuah peribahasa Jawa. “Yang ada, timba marani sumur.”

Tapi, sekarang, lanjutnya, dakwah lebih inovatif dan kreatif. Banyak mubaligh: kiai atau ustadz, yang berkeliling mendatangi tempat-tempat pengajian dengan materi dan cara berdakwah yang bervariasi.

Bukan hanya soal sumur dan timba, wong Sidayu asli itu juga menceritakan bagaimana suasana pengajian di masa mudanya. “Dulu pengajian di Sidayu yang terkenal adalah Pengajian Bulan Purnama,” ucapnya.

Baca Juga:  Agar Seni Islam Ini Tidak Punah: Puluhan Kaligrafer Muda Gresik Berkarya di Bulan Ramadhan

Sebelum pengajian, Hilmi menjelaskan, ada tampilan hiburan berupa atraksi ketangkasan, seperti tiup obor dan Tapak Suci.

“Metode itu sangat ampuh, yang membuat masyarakat tertarik untuk datang dengan mengajak serta keluarga dan anak-anak,” kisahnya.

Selain mendapat kesenangan, ujar Hilmi, mereka mendapat ilmu pengetahuan dan agama. “Pulang pun dengan senang karena sebelum pulang makan “lengseran” (makan nasi dalam wadah talam besar) bersama-sama. Kadang pulang pun membawa bingkisan walaupun hanya jajan sederhana,” ungkapnya.

Cerita Hilmi itu bukan tanpa maksud. Dia berharap pengajian-pengajian sekarang juga mengambil semangat menggembirakan seperti zaman dulu.

“Muhammadiyah adalah organisasi yang menggerakkan Islam. Model gerakan dakwah Muhammadiyah adalah menggembirakan,” kata dia.

Menggembirakan di sini, tambahnya, adalah bagaimana Muhammadiyah membuat kegiatan dakwahnya menyenangkan umat.

“Datang dan pulang pengajian peserta pengajian harus merasa bahagia dan gembira. Jangan sampai pulang perasaan jadi sedih, takut, dan menyerah putus asa,” pesannya.

Penasehat Hizbul Wathan Kwarda Kabupaten Gresik itu bersyukur melihat antusiasme peserta dalam Kajian Adh Dhuha ini.

Baca Juga:  Workshop Creative Thinking, Peserta Hasilkan Konsep Unik Perkaderan Singa, Ayam, sampai Cacing

Cukup banyak yang hadi. Mereka berasal dari MPK cabang dan ortom-ortom tingkat daerah. Sampai-sampai tempat kajian pun harus digeser. Yang semula digelar di dalam ruang pertemuan, dipindah di ruang depan dengan lesehan. “Alhamdulillah suasana menjadi lebih akrab. Ada perasaan adem melihatnya,” komentar dia.

Hilmi berharap, Muhammadiyah, baik tingkat daerah maupun cabang, memperbanyak dakwah yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Di samping itu, harus diperbanyak pelatihan kader. Karena hal itu tidak hanya untuk menyiapkan para mubaligh, tapi juga untuk menghasilkan kader-kader yang bisa mengelola kajian-kajian di cabang dan ranting.

“Jadi penting juga ada kader yang bisa menyalahkan speaker, kata dia sambil tertawa.

Soal rekrutmen kader, Hilmi tak memungkiri adanya seleksi alamiah. Tapi dia juga menekannkan pentingnya merawat kader.

“Kita menggunakan filosofi tukang solder panci. Bermacam kondisi panci yang kita jumpai. Mulai dari yang lubang sedikit sampai yang parah. Semua diusahakan untuk dirawat dan diperbaiki. Dan seleksi alam pun akan berjalan sehingga akan terlihat mana panci-panci yang siap di gunakan,” ungkap Hilmi.

Baca Juga:  Ajak Jaga Keseimbangan Hidup Kader, Sentil 'Ayo Ngopi ben Gak Salah Faham'

Jadi, kata dia, semua tetap berkesempatan untuk menjadi kader yang handal, dengan terus aktif dalam kajian-kajian.

Hilmi menceritakan, dulu di zaman Gestapu (Gerakan 30 September), kalau ada orang yang menyebut kata “kader” bisa membuat orang lain “keder” (grogi). “Jadi banggalah menjadi kader,” ucapnya.

Menurut Hilmi, kader juga harus sebagai muballigh. “Mubaligh di sini tidak hanya kyai tapi muballigh adalah yang punya kemampuan untuk menyampaikan sesuatu yang ma’ruf sesuai kemampuannya,” terang dia.

Hilmi juga berharap kader-kader Muhammadiyah harus dekat dengan masjid. “Hatinya condong untuk selalu berjamaah di masjid. Ikut meramaikan masjid dengan kegiatan-kegiatan yang menarik. “Tidak monoton pengajian. Bisa kajian-kajian sosial atau masalah kekinian bagi anak- anak zaman now,” pesannya. (Lilik Isnawati)