Apa Jadinya bila Kecil-Kecil Sudah Jadi Amil Zakat

64
Hikmah Press
Para siswa MIM 4 Brangsi, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan menjadi amil zakat fitrah dalam kegiatan Baitul Arqom (foto: Sumarianto/pwmu.co)

PWMU.CO-Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) 4 Brangsi, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan menggelar kegiatan pondok ramadhan Baitul Arqom, Selasa (12/06/2018). Kegiatan dilaksanakan mulai pagi hari. Siswa kelas 1 dan 2 mengawali dengan menerima zakat fitrah dari anak-anak kelas lain. Mereka menjadi panitia penerima zakat (amil) didampingi wali kelas masing-masing. Sementara, siswa kelas 3-6 mengawali kegiatannya dengan melaksanakan sholat dhuha.

Layaknya sebuah kepanitiaan, para siswa kelas 1 dan 2 tersebut menunjuk ketua, sekertaris, dan bendahara, serta bagian pencatat untuk melaksanakan tugas sebagai amil zakat. Mereka mencatat satu per satu zakat fitra yang dikumpulkan teman dan kakak kelasnya.

iklan

Setelah siswa kelas 1-2 selesai mengumpulkan zakat fitra, dan siswa kelas 3-6 merampungkan sholat dhuha, kegiatan pembukaan Baitul Arqom baru dimulai. Pembukaan langsung dilakukan oleh Kepala MIM Sumarianto, S.Pd sendiri. “Kegiatan ini mempunyai tujuan untuk membangun kesadaran beribadah, belajar, dan bermain menuju anak hebat,” kata Sumarianto dalam sambutannya.

Baca Juga:  Tergerus Arus Bengawan Solo, SMPM 17 Lamongan Butuh Perhatian Pemerintah

Kegiatan Baitul Arqom diisi dengan beberapa rangkaian kegiatan, termasuk pedampingan dan praktik berwudhu serta sholat wajib setelah acara pembukaan dilaksanakan. Sebelum praktik, mereka  terlebih dahulu diputarkan CD pembelajaran wudhu dan sholat produk Majelis Tarjih PP Muhammadiyah oleh guru MIM, Mutazim, S.Pd. Kegiatan ini bertujuan agar anak mengetahui  dan dapat mempraktikkan secara langsung wudhu dan sholat sebagaimana tuntunan Rosulullah SAW.

Siang  harinya, siswa kelas 3-6 giliran melakukan praktik sebagai petugas penerima zakat fitrah. Meski masih anak-anak menjadi panitia namun tidak menjadi penghalang dalam menerima zakat fitrah, bahkan mereka cukup luwes dan pintar dalam melayani pembayar zakat fitrah. “Assalamu’alaikum, mas/mbak mau membayar zakat? atas nama siapa?” sapa salah satu siswa yang adi panitia, Aril sembari tersenyum menerima anak-anak yang akan membayar zakat.

Aril adalah satu siswa kelas 5 dari 26  anak yang diberikan kepercayaan menjadi panitia zakat. Dia bersama panitia lain; Farih, Reza, Deevina, dan Naurah. Masing-masing memiliki tugas sendiri-sendiri. Ada yang menjadi ketua, sekretaris, bendarhara, penerima layanan zakat.

Baca Juga:  Terharu Spontanitas Warga Desa saat Insiden Perjalanan Dakwah

Mereka begitu terampil menyiapkan dan merampungkan tugas kepanitian meski baru kelas lima. Mulai menata kelas, menyiapkan  centak, sak atau menyapa siswa lain yang akan membayar zakat. Mencatat nama, kelas, alamat, jumlah yang akan dibayar, mendo’akan dan merekap, dan mencocokan antara jumlah beras yang sudah tercantum dengan buku besar.

Salah satu anggota tim, Reza merasa sangat senang dengan kegiatan ini  “Alhamdulillah, senang saya dapat pengalaman baru ujar siswa kelas 5 yang diberi tugas bagian penerima layanan zakat,” kata Reza.

Setelah kegiatan ini berlangsung, anak-anak melanjutkan istirahat dan mandi siang di madrasah. Tak lama selesai mandi terdengar suara adzan ashar dilanjutkan dengan jama’ah bersama anak-anak bersama bapak-ibu dewan gutu.

Baca Juga:  Musycab Pertama yang Gunakan E-voting di Luar Surabaya

Sambil menunggu berbuka, anak-anak menerima materi pentingnya silaturrahiim oleh guru Ismuba, Abbdul Qudus, S.Ag. Waktupun terus berjalan hingga tanpa terasa para tamu madrasah dari pengurus Paguyupan Kelas dan madrasah berdatangan untuk membantu periapan berbuka dan ikut berbuka bersama di halaman Perguruan Madrasah.

 

Kepala MIM 4 Brangsi, Sumarianto menjelaskan kegiatan ini diadakan sebagai bentuk pembelajaran langsung dalam hal penerimaan zakat fitrah, praktik wudhu, dan sholat, serta menjalin  silaturrahiim  langsung  menerima tamu  dengan guru, pengurus Paguyupan Kelas dan Madrasah. “Dengan begitu diharapkan anak-anak terbangun kesadarannya dalam beribadah, belajar, dan bermain,” tutur Sumarianto .

Suatu saat jika mereka menjadi pemimpin, sambung dia, bisa menjadi pemimpin yang baik. Karena, lanjut dia, kepemimpin itu perlu dilatih atau mengalami sendiri sejak dini setidaknya dalam bentuk kegiatan skala kecil di madrasah, semisal menjadi panitia Zakat dan menerima tamu yang ikut berbuka bersama. (Sumarianto)