Kalau Update Status Pasti Ditangkap Belanda, Cak Lontong soal Rahasia Gerilya Jenderal Soedirman

445
Hikmah Press
Cak Lontong (kanan) saat nglawak diiringi musik mandolin Cak Atok. (Ichwan Arif/PWMU.CO)

PWMU.CO – Bukan Cak Lontong kalau tidak bikin gerr-gerran pengunjung. Tak terkecuali pada para peserta resepsi Milad ke-106 Muhammadiyah yang memadati Hall At Tauhid Tower, lantai 13, Universitas Muhammadiyah (UMSurabaya), Ahad (18/11/18).

Dengan gaya stand up comedy-nya, komedian dan presenter kondang yang memiliki nama asli Ir Lies Hartono ini mengawali kelucaan dengan mengartikan nama rektor UMSurabaya, Dr dr Sukadiono MM.

iklan

“Nama Sukadiono itu artinya suka bekerja di sini … di sini,” ucapnya, disambut tawa pengunjung.

Di sesi berikutnya, bapak tiga anak ini juga menyampaikan apresiasi tinggi pada Muhammadiyah. “Di usia 106, Muhammadiyah usianya sudah matang. Muhammadiyah sekarang memberikan peran aktif di negeri ini,” ucapnya.

Cak Lontong mengungkapkan Jenderal Soedirman adalah sosok teladan tanpa pamrih. “Makanya, ketika berjuang, keluar masuk hutan, beliau tidak pernah update status. Sekarang saya sudah di dalam hutan, akan melakukan serangan,” ujar pria kelahiran Magetan, disambut gelak tawa audiens. “Kalau beliau update status, ya langsung disergap Belanda.”

Cak Lontongsaat diwawancarai PWMU.CO. (Istimewa/PWMU.CO)

Bagi alumnus ITS ini, Panglima Besar Jenderal Soedirman adalah pribadi yang memiliki karismatik. Makanya, di setiap kota, nama Jenderal Soedirman pasti ada. Itu bisa dijadikan semangat meneladani jasa dan semangat perjuangan.

“Muhammadiyah tidak bisa dilepaskan dari nama besar Jenderal Soedirman,” paparnya, saat diwawancarai PWMU.CO di ruang Rektor UMSurabaya. “Nilai sabar harus diteladani. Semua penonton di sini sudah memiliki nilai sabar. Terlihat, Sampeyan semua di sini sabar, sabar menunggu saya ngelamak lalu tertawa bersama-sama,” ungkapnya.

Saya, sambung dia, belajar sabar waktu SD dulu, ketika masuk sekolah jam 07.00, saya sabar datang jam 07.30, tetapi guru di sekolah tidak sabar sehingga menghukum saya.

Ciri khas lawakan dari penggerak Grup lawak Ludruk Cap Toegoe Surabaya ini mampu mengocok perut pengunjung. Lawakan dalam bentuk nyanyian lagu dan tebak-tebakan pun dilakukan.

“Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi, kalau ada umur yang panjang, mari kita gali sumur lagi,” dia menutup lawakan. (Ichwan Arif)