Begini Cara Kader Aisyiyah Jaga Militansi

178
Hikmah Press
Dari kiri, Dr Naim Qodri M Ag, Luluk Aida, Sakniyah, Dian dan  Nur Yatim SE.

PWMU.CO-Sebanyak 60 kader Pimpinan Ranting Aisyiyah Dengok Paciran Lamongan mengunjungi Kota Batu dengan tiga kegiatan, Kamis (7/3/2019).

Pertama, silaturahmi ke pengurus Ikatan Penyelenggara Haji Indonesia (IPHI) Batu. Kedua, menggelar pemantapan keorganisasian. Ketiga, kunjungan kewirausahaan.

iklan

Ketua Pimpinan Ranting Aisyiyah Dengok Luluk Aida mengatakan, kegiatan ini refreshing sambil mencari ilmu untuk pimpinan dan anggota. ”Untuk menyegarkan pikiran agar makin mantap menggiatkan gerakan organisasi. Kita juga mengadakan kajian keorganisasian,” ujarnya.

Hadir sebagai narasumber Ketua Majelis Pembinaan Kader PDA Kota Malang Uzlifah SS memberikan materi militansi Aisyiyah. Dia menyampaikan, Aisyiyah sebagai agen perubahan harus menjadi subjek dakwah, mempunyai wawasan luas dan mengikuti perkembangan teknologi.

”Kader Aisyiyah yang merasa tertinggal hendaknya punya semangat untuk mengejar ketertinggalan dalam hal apapun,” katanya.

Dia menambahkan, iman dan ilmu saja tidak cukup, tapi harus dibuktikan dalam bentuk amal nyata yang manfaatnya  bisa dirasakan masyarakat luas. Maka militansi seorang kader itu bisa dilihat saat dia diberi tugas atau amanah.

”Kader militan tidak menduakan Aisyiyah. Kader militan siap ditugaskan dimana saja dan kapan saja. Kader militan bisa mengajak orang lain untuk hijrah dari yang kurang baik menjadi yang lebih baik,” ujarnya.

Usai kajian organisasi, peserta mengunjungi pabrik minuman sari apel milik Hj Dian, sekretaris Majelis Taklim Perempuan IPHI Batu. Rombongan dipandu Ketua IPHI Batu Nur Yatim SE.

Nur Yatim yang juga ketua Yayasan Miftahul Ulum sangat terkesan dengan ibu-ibu Aisyiyah dan gerakannya. ”Luar biasa Aisyiyah. Saya kagum dengan semangat ibu-ibu ini. Saya bangga pernah menjadi bagian dari  Muhammadiyah,” ujar mantan dosen UMM tersebut.

Di antara rombongan peserta ada tokoh Aisyiyah Dengok yang sudah berusia 80 tahun. Dia ibu Sumarning. Meskipun di atas kursi roda terpancar semangat perjuangannya. Dia ditemani putranya H Naim Qodri M Ag, dosen UMSurabaya. Naim juga mendirikan Pondok Tahfidz PRM Dengok. (Lifah)