Larangan Bicara Politik di Masjid Itu Aneh, Ini Buktinya

865
Hikmah Press
Uzlifah/pwmu.co
Nadjib Hamid mengisi pengajian di Kota Batu.

PWMU.CO-Pemasangan spanduk di pagar-pagar masjid bertuliskan larangan berbicara politik menjadi sorotan Wakil Ketua PWM Jatim Nadjib Hamid MSi. Menurut dia, pemasang spanduk itu tidak mengerti isi kandungan Alquran. 

Hal itu disampaikan Nadjib Hamid saat ceramah Ngaji Bareng yang digelar Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Batu di  Apple Sun Learning Center, Batu, Sabtu (9/3/2019).

iklan

Dia mengatakan, landasan historis pentingnya posisi politik untuk kepentingan dakwah itu termaktub dalam Alquran surat Al Hajj ayat 41.

Orang-orang yang jika kamu diberi kedudukan di bumi, mereka melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan menyuruh  berbuat yang makruf  dan mencegah dari yang munkar, dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.

Dia menjelaskan, bunyi ayat tersebut menunjukkan betapa orang yang punya kedudukan atau kekuasaan itu bisa menggunakan kekuasaannya untuk melakukan semua kebaikan.

Dicontohkan bila ada seorang bupati  menyuruh semua staf untuk shalat berjamaah  pasti semua akan melaksanakannya. ”Begitu sangat efektifnya kedudukan itu untuk dakwah,” paparnya.

Wakil Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Jawa Timur itu menegaskan, ayat itu merupakan ayat politik dan itu ada di dalam Alquran. ”Itu asli ayat Alquran lho ya. Masak saya ngarang ayat 41,” ujarnya yang disambut gerrr hadirin. Semua tertawa pasalnya Nadjib merupakan calon DPD RI Jawa Timur dengan nomor urut 41.

”Jadi,  menurut saya, mereka yang memasang banner terkait larangan bicara politik di masjid karena tidak memahami Alquran. Kalau itu polisi yang melakukan maka kita berkewajiban mengajak ngaji bareng Pak Polisi,”  jelas Nadjib.

Dia juga menjelaskan statement dari sebagian masyarakat yang tidak mau peduli dengan urusan politik karena bukan keahliannya atau jurusannya. Itu menunjukkan a-historis.

”Coba lihat dari sejarah. Siapa para tokoh yang membuat negara kita ini merdeka. Tidak satupun mereka  berasal dari Fakultas Ilmu Politik,” tandasnya.

”Ir Soekarno dari teknik, Mohammad Hatta dari ekonomi, Mohammad Yamin dari hukum, KH Ahmad Dahlan guru ngaji dan masih banyak lagi,” jelasnya.

Dia menegaskan, apa yang dilakukan oleh para tokoh bangsa tersebut tidak lain hanya karena kepedulian. ”Karena begitu kita tidak mempunyai kepedulian terhadap politik, maka kita akan terus menerus  dipolitiki,” ujarnya.

Menurutnya,  kepedulian itu bisa dibuktikan dengan ikut serta berpartisipasi, dan yang terpenting adalah  ikut mengawal pelaksanaan pemilu agar tidak terjadi kecurangan. Juga tidak ada lagi politik uang. ”Yang kita lakukan ini tidak lain untuk menyelamatkan bangsa,” katanya.

Nadjib juga mengutip surat Hud ayat 41 yang bercerita kapal Nabi Nuh. Dia menyampaikan, saat ini Muhammadiyah juga telah menyiapkan kapal. Menurutnya bencana itu tidak hanya menimpa mereka yang dhalim saja tapi juga mereka yang baik.

”Kita tidak akan tinggal diam. Karena selama ini kita digerogoti, diamputasi  melalui undang-undang,  yang jarang sekali dibaca masyarakat sehingga mereka dengan leluasa menyerang melalui aturan. Ya gara-gara inilah salah satunya yang melahirkan jihad politik di tahun politik ini,” ujarnya. (Uzlifah)