Saat Para Aktivis Pemuda Muhammadiyah Lintas Generasi Ini Berbagi Cerita

134
Pasang Iklan Murah
Berfoto bersama Prof Zainuddin Maliki (sembilan dari kiri). (Istimewa/PWMU.CO)

PWMU.CO – Salah satu yang menarik saat pelaksanaan Musyda XVI Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Gresik 9-10 Maret lalu di Hotel @HOM Premiere Gresik adalah digelarnya sesi temu alumni Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Gresik lintas generasi.

Menarik, karena acara semacam ini baru kali pertama dilaksanakan di arena Musyda PDPM Gresik.

Anggota Steering Committe Musyda Ahmad Faizin Karimi saat ditemui PWMU.CO menyampaikan temu alumni lintas generasi ini dimaksudkan agar para kader junior bisa merasakan romantika gerakan yang dirasakan para senior pada masanya.

“Selanjutnya para kader memahami dinamika dan periodesasi PDPM Gresik serta menginspirasi kader dengan capaian prestasi yang telah ditorehkan para senior,” ujarnya pada PWMU.CO, Ahad (10/3/19).

iklan

Sebanyak 17 alumni PDPM Gresik hadir di acara ini. Antara lain Uripan Nada (Sekretaris Periode 1990-1998, sekarang Kepala SMKM 5 Panceng, Gresik); M. Choiruz Zimam (Periode 1990-an, Komisioner KPU Gresik); Khamsun (Bendahara Periode 2002-2006, Ketua DPD PAN Gresik); dr Burhanuddin (Wakil Ketua Periode 1990-an); Thoha Mahsun (Ketua periode 2002-2006, kiniBendahara PDM Gresik); Budi Masruri (Ketua periode 2006-2010); Kemas S. Rizal (Ketua periode 2010-2014). dan Ainul Muttaqin (Ketua periode 2014-2018, Kepala SMAM 1 Gresik).

Banyak kisah dan cerita menarik yang disampaikan para alumni dalam acara yang digelar Sabtu (9/3/19) pukul 21.00 hingga 22.00 WIB ini.

Pemandu acara mempersilahkan ke-17 alumni duduk di depan berhadapan dengan peserta Musyda. Selanjutnya satu persatu alumni dimintanya untuk menyampaikan kisahnya masing-masing.

Uripan Nada, alumni paling senior diberi kesempatan berbicara paling awal. Hal menarik yang disampaikannya tentang laporan pertanggungjawaban kepengurusannya yang ditolak oleh peserta Musyda. Menurut dr Burhanuddin kejadian itu terjadi di Musyda PDPM Gresik di SMPM 4 Giri Kebomas, saat ketua dipegang oleh almarhum Uripo.

Cerita menarik lain datang dari Suwandi (alumni periode 2002-2006). Pada saat Muktamar Pemuda Muhammadiyah Samarinda, utusan PDPM Gresik menjadi provokator yang disegani utusan daerah lain. Tentu bukan sembarang provokator, tapi provokator yang mendobrak kemapanan.

Kisah inspiratif lainnya datang dari Khamsun, yang menjabat Ketua DPD PAN Kabupaten Gresik periode ketiganya saat ini. Dia yang tidak berasal dari keluarga Muhammadiyah tentu tidak punya pengalaman aktif di ortom IPM atau lainnya. Namun militansi dan totalitasnya di Pemuda Muhammadiyah tidak diragukan. Bahkan setelah menjabat Bendahara Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur periode-nya Imam Sugiri, periode berikutnya dia malah bersedia turun pangkat menjadi Bendahara PDPM Gresik periode Ketua Thoha Mahsun.

Oleh Prof Zainuddin Maliki, yang hadir pada acara tersebut Khamsun dijuluki “Profesor Politik”.

Namun karena keterbatasan waktu tidak semua alumni dapat kesempatan bercerita, hanya 6 orang saja yang berbicara.

Acara temu alumni ini mendapat respon positif dari peserta Musyda. Ahmad Yani, utusan dari PCPM Cerme, terkesan dengan kisah utusan PDPM Gresik yang jadi provokator di Muktamar Samarinda. “Itu menunjukkan semangat yang luar biasa,” ujarnya.

Sedangkan bagi Aditama, utusan PCPM GKB—yang akhirnya terpilih jadi Ketua PDPM Gresik 2018-2022—para alumni telah memberi contoh yang sangat baik kepada peserta Musyda, walau banyak rintangan yang dihadapi, tapi diceritakan dengan ceria.

“Dinamika organisasi yang rumit bisa dibuat fun, tidak ada beban ataupun tersakiti, itulah Pemuda Muhammadiyah yang selalu bergembira dan berkemajuan,” ujarnya. (Kemas S Rizal)