Lagi, Tertibnya Shalat Berjamaah Siswa SDMM Jadi Bahan Studi Banding Sekolah Lain

381
Hikmah Press
Beberapa guru SD Muhammadiyah 10 dan 17 Surabaya (seragam biru bersandar di dinding) mengikuti kegiatan kultum setelah shalat Dhuhur berjamaah di Masjid At Taqwa. (Vita/PWMU.CO)

PWMU.CO – Pembiasaan shalat berjamaah di masjid dengan tertib menjadi salah satu program yang menarik perhatian sekolah lain untuk berkunjung ke SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik.

Setelah SD Muhammadiyah 3 Ikrom Wage, Sidoarjo pada Rabu, 27 Februari 2019 lalu, kini SDMM ketamuan Kepala Sekolah dan empat guru SD Muhammadiyah 10 Surabaya dan Kepala SD Muhammadiyah 17 Surabaya, Rabu (13/3/19).

iklan

Kepala SD Mumtas—julukan SD Muhammadiyah 10 Surabaya—A. Munhamir SAg mengatakan, pihaknya tertarik berkunjung setelah membaca berita SDMM di laman PWMU.CO. “Kami memang berangkat dari PWMU.CO itu dan merasa cocok dengan program SDMM terkait pembiasaan shalat berjamaah di masjid yang campur dengan jamaah warga sekitar,” ujarnya.

Munhamir mengakui sudah dua kali melewati SDMM dan mengikuti shalat berjamaah di Masjid At Taqwa Perumahan Pongangan Indah, Manyar, Gresik, yang lokasinya tak jauh dari sekolah berjuluk Kampus Biru tersebut. “Yang saya terkesan saat saya mampir di masjid At Taqwa, shalat dhuhur itu hampir penuh. Itu kira-kira 3-4 tahun yang lalu,” ungkapnya.

Munhamir juga mengakui penasaran setelah mengikuti jamaah pertamanya di Masjid At Taqwa. “Apa memang hanya hari ini ya? Waktu itu hari Ahad. Nah yang keduanya hari efektif, hari biasa itu. Penuh lagi. Nah kebetulan ada berita tentang itu. Saya tertarik,” ujarnya mengawali sambutan.

Siswa SDMM berjalan tertib menuju Masjid At Taqwa. (Vita/PWMU.CO)

SD Mumtas ini, lanjutnya, berdiri tahun 1967 di Kapasan, Surabaya. “Di Surabaya itu ada 28 sekolah dasar Muhammadiyah. Nah di Kecamatan Simokerto ini ada dua, yakni SD Muhammadiyah 10 dan SD Muhammadiyah 17,” jelas Munhamir mengenalkan sekolahnya.

Ia menambahkan, sekolah yang dipimpinnya ini mulai overload dan mulai relokasi di Jalan Sidoyoso sejak tahun 2015. “Alhamdulillah di sana ya hampir sama dengan di sini (SDMM). Masjidnya itu tidak satu komplek. Masjidnya itu di depannya. Jadi anak-anak kalau shalat Dhuhur, Dhuha, dan sebagainya itu ya berhamburan,” lanjutnya.

Munhamir merasa kondisi sekolahnya sama dengan SDMM. “Wah ini cocok dengan SD Muhammadiyah Manyar, karena masjidnya berbaur dengan masyarakat. Nah di sini (SDMM) kan kalau saya lihat di berita (PWMU.CO) itu gabung dengan jamaah masyarakat ya. Di sana belum bisa, hanya anak kelas VI,” ungkapnya.

Munhamir meyakini, jika shalatnya bagus maka segala sesuatunya juga bagus. “Makanya ini formulane yo opo seh, carane iki. Makanya kemudian saya silaturahim mengajak teman-teman dari Ismuba dan guru senior,” ungkapnya menjelaskan maksud kedatangan.

Selain bersama empat gurunya, Munhamir juga mengajak Kepala SD Muhammadiyah 17 Surabaya Muslimin MPdI. “Saya ajak juga karena mempunyai kondisi yang sama. Hanya saja kalau SD Muhammadiyah 17 ini masjidnya di dalam kompleks sekolah,” jelas Munhamir.

A. Munhamir (kanan) dan Muslimin (kiri). (Vita/PWMU.CO)

Menanggapi hal tersebut, Kepala SDMM Ahmad Faizun SSos menyambut baik kedatangan para tamunya. “Kami sangat terbuka bagi siapa pun yang berkunjung ke SDMM. Apa-apa yang baik akan kami sampaikan. Apalagi untuk sesama sekolah Muhammadiyah,” ujarnya.

Dalam kunjungan yang berlangsung kurang lebih 4,5 jam tersebut, para tamu mengikuti shalat Dhuhur berjamaah bersama siswa kelas IV, V, dan VI serta jamaah warga yang lain. “Nanti monggo bisa dilihat, diamati sendiri bagaimana anak-anak mulai dari pendampingan wudlu hingga shalat di masjid,” kata Faizun sebelum berangkat ke masjid bersama tamunya.

Dalam sharing session usai shalat dan makan siang, Faizun mengatakan, kuncinya ada pada sistem yang sudah terbentuk di SDMM. “Untuk membentuk sistem itu bukanlah hal yang mudah. Ya memang ada hal-hal yang sifatnya aturan, penjadwalan, dan pengawasan,” kata dia.

Keistiqamahan guru-guru, lanjut Faizun, menjadi hal yang penting dalam terlaksananya pembiasaan dan adab di masjid. “Ini juga harus dikontrol secara kontinyu,” tegasnya.

Selain pembiasaan shalat berjamaah di masjid dengan tertib, diskusi juga membahas kedisiplinan guru serta sekilas tentang manajemen sekolah. “Sepertinya tahun ajaran depan ini, kami ingin mengajak semua guru kami ke SDMM. Semoga berkenan, Ustadz,” ujar Munhamir di akhir diskusi.

Ia berharap SDMM bisa menjadi tempat bagi guru-gurunya untuk melihat secara langsung penerapan pembiasaan shalat berjamaah dengan tertib. “Terima kasih atas sharing dan respon cepat dari SDMM,” tutupnya. (Vita)