Haedar Nashir: Muhammadiyah Banyak Saudaranya, tapi Belum Banyak Saudagarnya

573
Hikmah Press
Haedar Nashir (Fillah/PWMU.CO)

PWMU.CO – Kemajuan suatu negara ditentukan oleh beberapa karakter. Pertama, karakter kuat yang akan menjadikan seseorang memiliki sifat jujur dan menghindarkan diri dari berbuat korupsi.

Kedua, karakter jiwa mandiri. Ketiga, terbuka dan suka bekerjasama dengan siapa pun. Keempat, karakter suka pada ilmu pengetahuan.

iklan

Empat karakter berkemajuan ini yang dimiliki dan dikembangkan dalam Muhammadiyah. “Sehingga semua yang dilakukan oleh Muhammadiyah adalah bagian dari ikhtiar dalam membangun peradaban dunia.”

Pernyataan ini disampaikan oleh Dr Haedar Natsir MSi dalam sambutannya pada Peresmian Gedung Unit Sekolah Baru (UBS) SMK Muhammadiyah 5 Gresik dan Ground Breaking Masjid Djariyah Panceng, Gresik, Selasa (19/03/19).

Dalam kesempatan itu Haedar menegaskan Pimpinan Pusat Muhammadiyah akan mem-back-up secara penuh apa yang dibutuhkan oleh SMK Muhammadiyah 5 Gresik.

Haedar juga mengapresiasi HM Djauhar Arifin, owner PT. Polowijo Gosari yang mewakafkan tanahnya untuk sekolah berjulukan SMK Mulia itu, sebagai berjihad dengan harta dan jiwa. “Ini merupakan cara Pak Djauhar berniaga dengan Allah yang kelak akan diambil keuntungannya di akhirat,” kata dia.

Menurut Haedar, Muhammadiyah juga berniaga, seperti halnya yang dipraktekkan pendirinya, KH Ahmad Dahlan, sebagai seorang saudagar.

“Salah satu cara berniaga Muhammadiyah adalah di dunia pendidikan. Contohnya seperti pembangunan SMK Mulia ini. Bukti lainnya adalah berbagai amal usaha Muhammadiyah yang jumlahnya ribuan,” jelas Haedar. (Itu) adalah contoh nyata niaga warga Muhammadiyah dengan Allah SWT.”

Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu juga menyebut persamaan Muhammadiyah dengan Djauhar Arifin. “Adalah sama-sama memiliki visi membangun dan mengembangkan lembaga pendidikan yang exelent,” pujianya.

Dan sebagai pembuktian atas kesamaan visi antara Muhammadiyah dan Pak Djauhar, sambung Haedar, adalah bersinergi guna mewujudkan SMK Mulia menjadi lembaga pendidikan yang exelent. “Lalu, apa perbedaan antara Muhammadiyah dengan Pak Djauhar?” tanya Haedar. “Muhammadiyah adalah lembaga dakwah sedang Pak Djauhar adalah seorang pengusaha profesional,” jawab dia sendiri.

Haedar menegaskan, meskipun di bidang ekonomi Muhammadiyah baru belajar, akan tetapi dalam beberapa tahun ke depan, insyallah peran Muhammadiyah di bidang ini akan mulai kelihatan perannya.

“Muhammadiyah sementara baru banyak saudaranya, namun belum banyak saudagarnya,” kata Haedar. (Anshori)