Mu’jizat para nabi terdahulu memiliki peran penting dalam melemahkan dan menundukkan musuh-musuh Allah. Kehadirannya menjadi bukti nyata kekuasaan Allah sekaligus penguat risalah kenabian.
Salah satu kisah yang menunjukkan dahsyatnya mu’jizat adalah peristiwa masuk Islamnya Umar bin Khattab. Hati Umar yang dikenal keras dan tegas dalam memusuhi Islam luluh seketika saat mendengar lantunan ayat Al-Qur’an Surah Thaha ayat 1–6 yang dibacakan oleh adiknya, Fathimah.
Saat itu, Fathimah bersama suaminya dan Khabbab, sahabat Nabi yang mengajarkan Al-Qur’an, sempat dikejutkan oleh kedatangan Umar yang datang dengan amarah dan pedang terhunus. Bahkan, Fathimah sempat terkena pukulan. Namun peristiwa itulah yang justru menjadi jalan hidayah bagi Umar. Sosok yang dikenal kuat dan tegas itu akhirnya berlutut di hadapan adiknya dan menyatakan keislamannya.
Kisah inspiratif tersebut disampaikan Kepala MIM 13 Sendangagung, Ustadz Ahmad Arif, SE dalam Kultum Ramadan usai salat Dzuhur di Mushala Baiturrahim, Kompleks SMPM 12 Spemudas Paciran, Lamongan, Jawa Timur, Kamis (26/2/2026).
“Hampir semua mu’jizat nabi telah tiada seiring berakhirnya masa kenabian atau wafatnya para nabi. Namun, di antara mu’jizat itu masih ada satu yang tetap dahsyat dan bertahan hingga sekarang,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan mu’jizat Nabi Muhammad SAW yang tetap terjaga hingga hari ini. Dampaknya pun masih dirasakan umat manusia.
“Al-Qur’an adalah obat, petunjuk, pengingat, sekaligus penenang hati. Fungsinya tetap efektif hingga kini,” imbuhnya.
Ia membandingkan dengan mu’jizat Nabi Musa, Nabi Sulaiman, Nabi Yusuf, Nabi Isa, dan nabi lainnya yang tidak lagi tampak setelah para nabi tersebut wafat. Berbeda dengan itu, mu’jizat Al-Qur’an yang dahulu mengislamkan banyak sahabat, termasuk Umar bin Khattab, tetap relevan sebagai sumber hidayah dan penerang hati hingga sekarang.
Di akhir kultumnya, putra bungsu Mbah Karsam itu mengajak siswa-siswi SMPM 12 Sendang-Gayam nonasrama serta jamaah Mushala Baiturrahim untuk membaca Al-Qur’an dengan mentadaburi dan menghayati maknanya.
Para siswa tampak khusyuk menyimak kisah dan pesan penuh hikmah yang disampaikan. Kehadiran Kamad MIM 13 Sendangagung yang dikenal pendiam dan berwibawa itu mampu membuat para siswa nonasrama atau santri kalong tetap fokus hingga kultum berakhir. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments