Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “kritik” artinya adalah kecaman atau tanggapan, yang terkadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya.
Kritik memang sangat diperlukan karena dapat membantu meningkatkan hubungan, kepemimpinan, pemikiran, ilmu, dan kemajuan suatu peradaban.
Meski demikian, kritik juga membutuhkan sikap kehati-hatian, tidak asal ucap dan tulis.
Kritik yang sembarangan tanpa sikap kehati-hatian dapat menimbulkan masalah negatif, baik bagi pihak pengkritik maupun yang dikritik.
Sejarah telah memberikan pelajaran berharga tentang sebab akibat kritik, terutama yang berkaitan dengan persoalan politik, kekuasaan, pemerintahan, dan negara.
Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, termasuk hubungan internasional, kritik merupakan hal yang lumrah.
Kritik tidak hanya menyentuh persoalan ilmu, teknologi, politik, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, kemasyarakatan, dan kemanusiaan, melainkan juga masalah agama yang sakral.
Kritik juga perlu adab
Kalangan ulama pun umumnya sudah terbiasa melakukan kritik terhadap pemahaman teks-teks kitab suci dan ajaran agama tanpa ragu.
Tentu saja Islam tidak melarang atau menghalangi kritik, sepanjang kritik tersebut memperhatikan etika dan adabnya.
Nabi Musa alaihis salam pernah melakukan kritik terhadap Nabi Khidir alaihis salam.
Hal ini tertuang dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam QS. Al-Kahfi: 71:
“Maka berjalanlah keduanya, hingga keduanya menaiki perahu, lalu dia (Khidir) melubanginya. Dia (Musa) berkata (mengkritiknya), ‘Mengapa engkau melubangi perahu itu, bukankah akan menenggelamkan penumpangnya?’ Sungguh engkau telah membuat suatu kesalahan yang besar.”
Ajaran Islam memang tidak anti kritik, tetapi ada adab yang digariskan terkait masalah ini.
Pertama, kritik harus objektif dan konstruktif. Objektif berarti kritik harus sesuai dengan objek, fakta, dan kenyataan yang dikritik. Misalnya berkaitan dengan kebijakan, program, pelaksanaan, pemikiran, atau perbuatan.
Sedangkan konstruktif berarti kritik harus bersifat membangun, memajukan, dan memberikan kemaslahatan bersama.
Tidak sebaliknya, yang cenderung merusak, merendahkan, dan menimbulkan kemudaratan.
Salah satu bentuk kritik yang objektif adalah yang dilakukan oleh Nabi Musa alaihis salam terhadap Nabi Khidir alaihis salam, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
“Maka berjalanlah keduanya hingga keduanya berjumpa dengan seorang anak muda, lalu dia (Khidir) membunuhnya. Dia (Musa) berkata (mengkritiknya), ‘Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.” (QS. Al-Kahfi: 74).
Adapun contoh kritik yang konstruktif adalah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim alaihis salam kepada para penyembah berhala. Usai Nabi Ibrahim menghancurkan berhala-berhala mereka.
Hal ini dipaparkan dalam firman-Nya: “Kemudian mereka (penyembah berhala) menundukkan kepala (lalu berkata), ‘Engkau (Ibrahim) pasti tahu bahwa (berhala-berhala) itu tidak dapat bicara. Dan (Ibrahim) berkata (mengkritik), ‘Mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) mendatangkan mudarat kepadamu? Celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah! Tidakkah kamu mengerti?’” (QS. Al-Anbiya: 65-67).
Kedua, kritik menggunakan tutur kata dan bahasa yang ramah, sopan, santun, dan lemah lembut. (QS. Ali Imran: 159, Thaaha: 43-44)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengajarkan hal ini, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Muslim.
Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Sekelompok orang Yahudi datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Assaamu’alaika ya Abal Qasim (Kebinasaan atasmu ya Abal Qasim).’ Kemudian Nabi menjawab, ‘Wa’alaikum (Dan atas kalian juga).’ Aku (Aisyah) menjawab perkataan mereka dengan berkata, ‘Bal ‘alaikumsaam wadzdzaam (bahkan atas kamulah kebinasaan dan celaka).’
Mendengar kata-kata Aisyah itu, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menegur, ‘Wahai Aisyah, janganlah engkau menjadi orang yang bermulut kotor.’ Kemudian aku (Aisyah) pun berkata, ‘Tidakkah engkau mendengar apa yang mereka ucapkan?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Bukankah aku telah menjawab apa yang mereka katakan, ‘Wa’alaikumsaam (begitu pula kalian)“. (HR. Muslim no. 2165).
Ketiga, kritik tidak didasari kebencian, tetapi oleh cinta, kasih sayang, dan rasa persaudaraan.
Hal ini dicontohkan oleh Nabi Harun kepada saudaranya Nabi Musa alaihis salam, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
“Dan ketika Musa telah kembali kepada kaumnya, dengan marah dan sedih hati dia berkata, ‘Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan selama kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?’ Musa pun melempar Luh-Luh (Taurat) itu dan memegang kepala saudaranya (Harun) sambil menarik ke arahnya. (Harun) berkata, ‘Wahai anak ibuku! Kaum ini menganggapku lemah dan hampir saja mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan (mereka) musuh-musuh menyoraki kemalanganku, dan janganlah engkau jadikan aku sebagai orang-orang yang zalim’.” (QS. Al-A’raf: 150).
Keempat, kritik bertujuan menyadarkan suatu kesalahan serta menjauhkan perbuatan dosa.
Ini seperti saat Nabi Yusuf alaihis salam yang mengingatkan saudara-saudaranya seayah yang telah berbuat jahat kepadanya di waktu kecil.
Hal ini disebutkan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata, ‘Wahai Al-Aziz! Kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tidak berharga, maka penuhilah jatah (gandum) untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami. Sesungguhnya Allah memberi balasan bagi orang-orang yang bersedekah.’ Dia (Yusuf) berkata (mengkritik), ‘Tahukah kamu, kejelekan apa yang telah kamu perbuat terhadap Yusuf dan saudaranya, karena kamu tidak menyadari (akibat) perbuatanmu itu?’” (QS. Yusuf: 88-89).
Kelima, tenang dan tidak emosional saat mengkritik. Contohnya adalah Nabi Samuel kepada kaum Bani Israil yang sombong.
Mereka mengatakan ingin berperang melawan musuh, tetapi nyatanya tidak berani melakukannya.
Sesuai firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Tidakkah kamu perhatikan para pemuka Bani Israil setelah Musa wafat, ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka, ‘Angkatlah seorang raja untuk kami, niscaya kami (siap) berperang di jalan Allah.’ Nabi mereka menjawab (mengkritik), ‘Jangan-jangan, jika diwajibkan atasmu berperang, kamu tidak akan berperang juga.’ Mereka menjawab, ‘Mengapa kami tidak akan berperang di jalan Allah, sedangkan kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dipisahkan (dari anak-anak) kami?’ Tetapi ketika berperang itu diwajibkan atas mereka, lalu mereka berpaling, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 246).
Diperkuat dalam ayat berikutnya: “Dan Nabi mereka berkata kepada mereka, ‘Allah telah mengangkat Thalut menjadi raja kalian.’ Mereka menjawab, ‘Bagaimana Thalut memperoleh kerajaan atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu darinya dan dia tidak diberikan kekayaan yang banyak?’ (Nabi mereka) menjawab, ‘Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberinya kelebihan ilmu dan fisik.’ Allah memberikan kerajaan kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 247).
Keenam, menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. (QS. Ali Imran: 104, 110, At-Taubah: 71).
Kritik harus menggerakkan kemakrufan, kebaikan, dan kebajikan, bukan sebaliknya. Perlunya kritik adalah dalam rangka mencegah atau mengubah kemungkaran, keburukan, dan kemaksiatan.
Menurut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya: “Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu maka ia mengubahnya dengan lisannya; dan jika ia tidak mampu maka hendaklah ia mengubahnya dengan hatinya; dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim).***






0 Tanggapan
Empty Comments