Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Afif Amrulloh, Aktivis Muhammadiyah yang Mengukir Sukses Sebagai Pengusaha Muda

Iklan Landscape Smamda
Afif Amrulloh, Aktivis Muhammadiyah yang Mengukir Sukses Sebagai Pengusaha Muda
Abdul Afif Amrulloh. Foto: UMS
pwmu.co -

Di tengah dinamika kehidupan pemuda hari ini, Abdul Afif Amrulloh menjadi contoh bagaimana peran organisasi, usaha, dan pendidikan dapat saling melengkapi.

Lahir di Grobogan, Jawa Tengah, pada 4 Februari 1997, Afif tumbuh dengan keyakinan bahwa jejaring sosial adalah kunci pengembangan diri.

Prinsip itu ia pegang hingga kini: berorganisasi untuk memperluas wawasan, berusaha untuk memberi manfaat, dan berkhidmat untuk membangun generasi.

Jejak Afif dalam dunia organisasi dimulai sejak bangku sekolah. Dia bergabung dengan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kabupaten Grobogan, sebuah wadah yang telah melahirkan banyak kader muda Muhammadiyah.

Pada periode 2015–2016, ia dipercaya sebagai bendahara umum. Jabatan itu sederhana, tetapi di sanalah ia belajar mengenai manajemen keuangan, tanggung jawab, dan arti penting kepercayaan.

“Awalnya saya menganggap organisasi hanya kegiatan sampingan, tapi ternyata justru banyak pelajaran hidup yang saya dapat di sana,” kenang Afif.

Pengalaman itu menjadi bekal berharga saat ia melanjutkan studi di Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Di kampus, Afif tak ingin membatasi diri hanya pada satu organisasi. Ia aktif di Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) UMS, kemudian bergabung dengan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Pimpinan Komisariat (PK) Al Ghozali Fakultas Psikologi. Tak berhenti di situ, ia juga dipercaya sebagai Koordinator Komisariat IMM UMS.

Bagi Afif, organisasi adalah ruang belajar yang sesungguhnya. Ia menilai, banyak keterampilan hidup. Mulai dari public speaking, manajemen waktu, hingga negosiasi—yang justru lebih efektif ditempa di organisasi ketimbang hanya di bangku kuliah.

Selepas lulus pada 2020, Afif ingin menguji dirinya di level yang lebih luas. Menurutnya, organisasi kepemudaan di luar kampus tidak lagi sekadar ajang eksplorasi, melainkan sudah berorientasi pada karier dan peminatan khusus.

Dia pun memilih bergabung dengan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Surakarta, sebuah organisasi kepemudaan yang berdiri sejak 1973 dan telah melahirkan banyak tokoh publik di berbagai bidang.

Keputusan itu membawanya pada amanah besar: bendahara umum KNPI Surakarta masa bakti 2021–2025. Bagi Afif, posisi ini bukan hanya soal mengurus angka, tetapi juga kesempatan memahami kultur pemuda Surakarta serta dinamika sosial masyarakat.

Ada alasan lain yang lebih mendasar: ia ingin menghadirkan Muhammadiyah di ruang-ruang pergaulan kepemudaan. Baginya, keterlibatan di KNPI adalah strategi untuk menjaga eksistensi dan memperluas dakwah Muhammadiyah di ranah publik.

Keikutsertaannya di KNPI terbukti bermanfaat. Afif mengenang pengalamannya saat menjadi panitia Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah pada November 2022. Panitia membutuhkan fasilitas milik Pemkot Surakarta—mulai dari Stadion Manahan hingga gedung-gedung yang dipakai penggembira muktamar.

“Awalnya sulit menjalin komunikasi dengan wali kota. Tapi karena saya aktif di KNPI, audiensi bisa lebih mudah dilakukan. Alhamdulillah, koordinasi berjalan lancar,” kisahnya.

Tak hanya soal fasilitas, komunikasi itu juga penting untuk memastikan protokol kesehatan. Muktamar digelar di tengah pandemi Covid-19 dengan perkiraan kehadiran hingga dua juta orang. KNPI, lewat jejaring yang dibangun Afif, turut menjembatani koordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan Satgas Covid-19.

***

Di balik aktivitas organisasinya, Afif juga memikul tanggung jawab sebagai penerus usaha keluarga. Setelah lulus kuliah, ia memutuskan untuk meneruskan usaha percetakan milik orang tuanya, Harapan Mulia, yang berdiri sejak 2001 di kawasan Cemani, Sukoharjo. Awalnya, usaha ini berfokus pada percetakan buku pelajaran dan lembar kerja siswa.

Namun Afif membawa napas baru. Pada 2021, ia mengembangkan lini bisnis baru dengan membuka jasa percetakan kemasan produk bernama HM Pro. Tak hanya melayani kemasan makanan, HM Pro juga mencetak kemasan minyak kayu putih dan berbagai produk lain.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Respons pasar sangat positif. Sejumlah merek ternama dari Solo mempercayakan kemasan produknya pada HM Pro, mulai dari Abata Donuts, katering Niekmat Rasa, Tsabita Bakery, Solo’s Bistro, hingga rumah makan Kusuma Sari. Tak hanya itu, pesanan juga datang dari luar Jawa, bahkan pernah mengirim produk ke Kalimantan dan Jakarta, termasuk untuk brand Nisvara.

Dengan kapasitas produksi 5.000 kemasan per jam, usaha ini berkembang pesat hingga meraih omzet Rp 5 miliar per tahun. Mesin cetak beroperasi delapan jam per hari, melayani berbagai kebutuhan industri kuliner maupun produk lainnya.

“Bagi saya, usaha ini bukan hanya soal keuntungan, tapi juga membuka lapangan pekerjaan dan kebermanfaatan,” ujarnya.

Meski sibuk dengan usaha dan organisasi, Afif tidak pernah meninggalkan akar perjuangannya di Muhammadiyah.

Dia kini menjabat sekretaris Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surakarta.

Tugas utamanya adalah menyiapkan kader serta sumber daya insani yang siap melanjutkan estafet dakwah Muhammadiyah.

Salah satu program unggulan MPKSDI adalah pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah PKU Surakarta. Afif bukan hanya pengelola, tapi juga pengajar.

Dia mendapat amanah sebagai dosen AIK, mendampingi para kader memahami dasar-dasar ideologi dan nilai-nilai Muhammadiyah.

Tak hanya itu, ia juga aktif membumikan AIK di sekolah-sekolah Muhammadiyah, amal usaha, serta organisasi otonom di Surakarta. Program pengkaderan guru dan tenaga kependidikan menjadi salah satu fokus kerjanya.

“Saya berharap kaderisasi ini memperkuat pemahaman Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di kalangan pendidik,” tegasnya.

Latar belakangnya sebagai lulusan Psikologi UMS pun dimanfaatkan untuk mengembangkan dunia pendidikan. Dia  ikut mendirikan Program Studi Psikologi di Universitas Muhammadiyah Karanganyar (Umuka), bahkan kini dipercaya sebagai ketua tim dosen psikologi di kampus tersebut.

***

Kini, di usia 28 tahun, Afif sudah melakoni banyak peran: organisatoris, pengusaha, pendidik, sekaligus kader Muhammadiyah yang setia membina generasi.

Jejaknya menunjukkan bahwa peran pemuda tidak tunggal; mereka bisa berkiprah di banyak ranah sekaligus, asalkan mampu menjaga keseimbangan dan fokus pada kebermanfaatan.

Afif merangkum semua langkahnya dalam satu prinsip sederhana: memberi manfaat.

“Saya ingin setiap langkah yang saya jalani—di organisasi, bisnis, maupun pendidikan—bisa memberi manfaat bagi orang lain. Karena pada akhirnya, itulah ukuran yang paling bermakna,” katanya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu