Wakil Ketua Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. Achmad Jainuri, menegaskan, keberadaan mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) tetap relevan dan sangat penting, khususnya dalam membentuk etika dan moral bangsa di tengah tantangan zaman.
Dalam paparannya, Jainuri menyebut AIK tidak boleh hanya dipahami sebatas pengetahuan agama atau ritual ibadah semata.
“Yang dibutuhkan adalah membawa agama kepada perilaku yang nyata. AIK harus menyentuh ranah etika moral, meliputi kejujuran, keikhlasan, prinsip kebenaran, serta kesesuaian antara ucapan dan tindakan,” ujarnya dalam podcast Edukasi dan Inovasi, yang dikutip pada Selasa (12/8/2025).
Menurutnya, etika dan moral yang terbentuk melalui pemahaman agama akan melahirkan sikap-sikap positif seperti kerja keras, adaptif terhadap perubahan, dan semangat berkontribusi bagi masyarakat.
Menjawab pertanyaan tentang kerawanan spiritual dan mental yang terjadi di masyarakat, Jainuri menekankan pentingnya memahami tujuan hidup.
“Inilah yang membedakan orang beriman dan yang tidak beriman. Tujuan hidup orang beriman adalah akhirat,” kata Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya (UINSA) ini.
“Ukuran kebahagiaannya tidak hanya duniawi semata, sebagaimana doa kita: Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah wa fil-aakhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban-naar (Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa api neraka,” imbuh Jainuri.
Dia mengingatkan, manusia sering terjebak pada perilaku mengejar dunia secara berlebihan, sebagaimana tergambar dalam Al-Qur’an: alhaakumut-takaatsur, berlomba-lomba memperbanyak harta.
“Mengejar dunia itu boleh, tetapi catatannya jelas: harus dilakukan dengan cara yang baik. Ibadah yang kita lakukan saat ini, balasannya bisa jadi baru kita rasakan di akhirat. Jadi kita harus berpikir jangka panjang,” tegasnya.
Dalam konteks ini, pendidikan dan kesehatan menurutnya adalah dua bidang yang membutuhkan pandangan jauh ke depan, bukan hanya keuntungan sesaat.
Jainuri juga mencontohkan negara-negara sekuler seperti Amerika Serikat yang tetap menegakkan etika moral dalam ranah publik.
“Di sana, seorang pejabat publik harus steril dari catatan kriminal atau perselingkuhan. Mereka memang sekuler, tetapi nilai moral tetap menjadi pegangan,” katanya.
Jainuri mengaitkan hal ini dengan ayat Al-Qur’an tentang umat terbaik, kuntum khayra ummatin ukhrijat lin-naas, yang memiliki misi amar ma’ruf nahi munkar.
Sementara, dalam memahami manusia, Al-Qur’an menegaskan, laqad khalaqnal insaana fii ahsani taqwiim, bahwa manusia diciptakan dengan sebaik-baik bentuk dan potensi.
Jainuri juga menyinggung prinsip keterbukaan KH Ahmad Dahlan dalam memahami persoalan keagamaan.
“Beliau berpegang pada asas al-ashlu fil asyaa’ al-ibaahah, pada dasarnya segala sesuatu itu boleh selama tidak ada dalil yang melarang,” terangnya.
Dia mengingatkan, pada masa lalu, banyak keluarga Muslim yang memilih menyekolahkan anaknya di sekolah Katolik karena kualitasnya dinilai baik.
Namun kini, setelah sekolah-sekolah Islam berkembang dan maju, orang tua lebih percaya menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan Islam.
Bagi Jainuri, inilah bukti bahwa pembaruan yang dilakukan Muhammadiyah—baik dalam aspek nilai agama, etika, moral, maupun sosial—dapat mengubah pandangan masyarakat. Bahkan, sebagian orang yang dulu menentang pembaruan Muhammadiyah kini mengikuti langkah serupa.
“Konsep tajdid harus mampu menjawab tantangan umat Islam. Perubahan adalah kunci perkembangan. Orang yang merasa nyaman dan menolak perubahan akan tertinggal,” tegasnya.
Ia juga menyoroti fenomena istilah-istilah yang terdistorsi dalam praktik, seperti “study tour” yang sering kali hanya menjadi ajang jalan-jalan.
“Dalam tradisi Islam, perjalanan menuntut ilmu disebut rihlah, yakni perjalanan yang benar-benar bertujuan untuk mencari ilmu, bukan sekadar wisata,” tandasnya.
Melalui AIK, kata Jainuri, Muhammadiyah tidak hanya ingin membekali mahasiswa dengan pengetahuan agama, tetapi juga membentuk karakter yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Etika moral, kejujuran, kerja keras, keterbukaan, dan adaptasi terhadap perubahan menjadi kunci dalam membangun bangsa yang beradab.
“Agama harus tercermin dalam perilaku nyata. Di situlah AIK memiliki peran vital, sebagai pondasi moral yang mampu menopang kemajuan peradaban,” pungkasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments