Perjalanan ibadah umrah selalu menjadi impian yang terpatri dalam hati setiap Muslim. Sebuah panggilan suci yang tak sekadar mengundang kaki menempuh jarak ribuan kilometer, tetapi juga menggugah jiwa untuk menapaki perjalanan spiritual yang mendalam.
Pada 4 hingga 14 Oktober 2025, impian itu menjadi kenyataan. Saya bersama istri untuk kali pertama menjejakkan kaki di Tanah Suci. Bersama rombongan sebanyak 26 jamaah, kami bergabung dalam perjalanan menuju Makkah dan Madinah bersama Relasi Tour and Travel.
Dalam setiap langkah, kami tak hanya beribadah, tetapi juga belajar tentang syukur, kekhusyukan, dan arti kebersamaan yang sejati.
Langit Madinah menyambut kami dengan sinar lembut. Udara berasa begitu menenangkan. Begitu tiba, langkah pertama kami langsung tertuju ke Masjid Nabawi, tempat yang setiap jengkalnya menyimpan cahaya dan cinta Rasulullah saw.
Suasana di masjid itu begitu khusyuk. Setiap rakaat salat seolah menyatu dengan rindu yang mengalir deras kepada sang Nabi.
Namun puncak haru itu benar-benar berasa ketika kami berkesempatan memasuki Raudhah, taman surga yang terletak di antara mimbar dan makam Rasulullah saw.
Air mata jatuh tanpa bisa ditahan. Di tempat itulah, doa-doa terbaik dipanjatkan. Penuh harap dan syukur. Rasanya begitu dekat dengan Rasulullah. Begitu nyata kehadiran cinta ilahi.
Selain beribadah, kami mengunjungi Gunung Uhud, tempat bersemayam para syuhada yang gugur demi Islam. Kami juga singgah di Gunung Tsur, tempat Nabi Muhammad saw bersembunyi dalam perjalanan hijrah.
Kedua tempat itu menjadi pengingat bahwa perjuangan dan kesabaran adalah dua pilar dalam menegakkan kebenaran.
***

Setelah beberapa hari di Madinah, perjalanan kami berlanjut menuju Makkah Al-Mukarramah. Di Bi’ir Ali. Kami berhenti untuk mengambil miqat, mengenakan pakaian ihram dan menata niat.
Saat bus mulai bergerak, lantunan talbiyah menggema serentak dari para jamaah, “Labbaik Allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik…”
Suara itu menggema. Membangkitkan getaran haru di dada. Sebuah pernyataan tunduk dan taat kepada Allah yang tak terlukiskan dengan kata.
Setibanya di Makkah, pemandangan pertama Ka’bah membuat kami semua terdiam. Ada yang meneteskan air mata, ada yang lututnya gemetar karena tak kuasa menahan haru.
“Kaki saya gemetar, tidak kuat di hadapan rumah Allah yang agung itu,” tutur Pak Munif, jamaah asal Tuban. Momen itu mengukir pengalaman spiritual yang takkan pernah pudar.
Kami menunaikan tawaf mengelilingi Ka’bah dengan hati bergetar. Setiap putaran terasa seperti pengakuan cinta yang tulus kepada Sang Pencipta. Setelahnya, kami melaksanakan sa’i, berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah, mengenang perjuangan Hajar mencari air untuk Ismail.
Dan di tengah keheningan ibadah, Allah menghadirkan kejadian yang tak terlupakan, hujan gerimis turun di tengah panasnya udara Makkah.
Butiran air membasahi wajah kami yang sedang berdoa di pelataran Masjidil Haram. Hujan itu berasa seperti sapaan kasih sayang dari langit. Menyejukkan jiwa dan meneguhkan keyakinan bahwa rahmat Allah selalu datang pada waktu yang paling indah.
Perjalanan berikutnya membawa kami ke Thaif, kota sejuk yang terletak di pegunungan. Udara yang bersih dan pemandangan yang hijau menjadi jeda manis di antara padang tandus jazirah Arab. Di sini, kami mengunjungi Masjid Abdullah bin Abbas, sebuah tempat yang sarat dengan sejarah dan ketenangan.
Thaif bukan hanya indah secara alam, tetapi juga menyimpan kenangan dakwah Rasulullah saw ketika beliau ditolak dan dilempari penduduk setempat. Dari kisah itulah kami belajar, bahwa keteguhan dalam berdakwah harus selalu disertai kesabaran dan cinta yang luas.
Sepanjang perjalanan, terasa sekali suasana kekeluargaan di antara para jamaah. Kami saling menunggu, saling membantu, dan tak lupa saling mendoakan. Bahkan di sela-sela waktu istirahat, tawa ringan dan cerita sederhana membuat perjalanan terasa lebih ringan dan menyenangkan.
***

Tak bisa dipungkiri, semua itu juga berkat peran besar Relasi Tour and Travel yang begitu profesional dan penuh perhatian.
Team leader yang tanggap, pembimbing yang sabar, serta pengaturan perjalanan yang rapi membuat seluruh rangkaian ibadah berjalan lancar.
Mereka bukan sekadar penyelenggara, melainkan sahabat spiritual yang menemani setiap langkah kami menuju ridha Allah.
Ketika pesawat bersiap membawa kami pulang, hati berasa berat meninggalkan Tanah Suci. Namun di saat yang sama, ada ketenangan baru yang tumbuh. Sebuah kesadaran bahwa perjalanan ini telah mengubah banyak hal dalam diri.
Dari Raudhah hingga Ka’bah, dari panasnya padang hingga sejuknya Thaif, setiap tempat meninggalkan jejak pelajaran: tentang cinta, kesabaran, pengorbanan, dan syukur yang tak bertepi.
Kami pulang bukan hanya membawa oleh-oleh dan foto kenangan, tapi juga hati yang lebih lembut, jiwa yang lebih tenteram, dan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Umrah ini mengajarkan satu hal penting, bahwa mendekat kepada Allah bukan hanya saat di Tanah Suci, tetapi juga saat kita kembali ke Tanah Air dan menapaki hidup dengan membawa cahaya iman di hati. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments