Kajian Ramadan yang digelar Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo Surabaya menghadirkan pembahasan menarik tentang konsep rezeki dalam perspektif Al-Qur’an.
Kegiatan yang dirangkai dengan buka puasa bersama tersebut berlangsung di Kompleks Pendidikan Muhammadiyah Gadung, Surabaya, Jumat (13/3/2026), dengan menghadirkan Dr. M. Arfan Muammar, M.Pd., dosen Pascasarjana sekaligus Wakil Ketua PDM Gresik.
Kajian Ramadan di Kompleks Pendidikan Muhammadiyah Gadung
Kajian ini diikuti oleh para guru dan karyawan di bawah naungan Majelis Dikdasmen dan PNF PCM serta PCA Wonokromo Surabaya.
Selain itu, kegiatan juga dihadiri oleh simpatisan Muhammadiyah serta jamaah dari lingkungan sekitar yang turut meramaikan suasana kajian Ramadan.
Acara yang berlangsung khidmat tersebut dipandu oleh Puspitawati, S.Pd., yang bertindak sebagai pembawa acara. Sosok yang akrab disapa Ustadzah Puspita itu merupakan Kepala Urusan (Kaur) Sumber Daya Insani (SDI) sekaligus guru kelas 6 International Class Program (ICP) SD Muhammadiyah 6 Gadung Surabaya.
Empat Indikator Takwa
Ketua PCM Wonokromo Surabaya, Ir. H. Lukman Rahim, dalam sambutannya menegaskan bahwa tujuan utama ibadah puasa sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 183 adalah membentuk pribadi yang bertakwa.
Mengutip perkataan Ali bin Abi Thalib, ia menyebutkan empat indikator ketakwaan yang perlu dimiliki seorang Muslim.
Keempat indikator tersebut meliputi rasa takut kepada Allah, semangat mencari sekaligus berbagi rezeki melalui filantropi, sikap bersyukur agar terhindar dari sifat tamak, serta senantiasa mengingat kematian.
“Bimbinglah seluruh siswa di bawah naungan PCM Wonokromo dengan baik, karena mereka adalah aset masa depan Muhammadiyah,” pesannya kepada para pendidik yang hadir.
Memahami Lima Jenis Rezeki dalam Al-Qur’an
Dalam kajian inti, Dr. Arfan Muammar menjelaskan bahwa rezeki yang diberikan Allah kepada manusia tidak hanya terbatas pada hasil usaha semata.
Menurutnya, Al-Qur’an menggambarkan bahwa rezeki memiliki beberapa jalur yang perlu dipahami oleh umat Islam.
Pertama adalah rezeki yang diantar, yaitu rezeki yang telah dijamin Allah bagi setiap makhluk-Nya sebagaimana disebutkan dalam QS. Hud ayat 6.
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
Artinya: Tidak ada satu pun makhluk melata di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya.
“Jangan mempersempit makna rezeki dengan menganggap bahwa rezeki hanya datang dari pekerjaan,” tegas Arfan.
Kedua adalah rezeki yang ditakar, yaitu rezeki yang telah Allah bagi dengan ukuran yang berbeda-beda bagi setiap manusia, sebagaimana dijelaskan dalam QS. An-Nahl ayat 71.
Ia mengibaratkan rezeki seperti ukuran sepatu yang berbeda pada setiap orang, sehingga tidak perlu merasa iri terhadap apa yang dimiliki orang lain.
Ketiga adalah rezeki yang dikejar, yaitu rezeki yang diperoleh melalui usaha manusia sebagaimana perintah Allah dalam QS. Al-Jumu’ah ayat 10 agar manusia bertebaran di bumi untuk mencari karunia-Nya.
“Bekerja adalah ibadah, sedangkan hasilnya adalah jatah dari Allah,” jelasnya.
Keempat adalah rezeki yang ditawarkan, yaitu rezeki yang datang melalui berbagai amal saleh seperti sedekah, salat dhuha, istigfar, silaturahmi, hingga pernikahan.
Kelima adalah rezeki tak disangka, yakni rezeki yang datang dari arah yang tidak diduga-duga bagi orang-orang yang bertakwa sebagaimana disebutkan dalam QS. At-Thalaq ayat 2–3.
Dosa Bisa Menghambat Datangnya Rezeki
Di akhir kajian, Dr. Arfan menegaskan bahwa salah satu faktor yang dapat menghambat datangnya rezeki adalah perbuatan dosa.
Ia mengutip QS. Thaha ayat 124 sebagai pengingat bagi umat Islam.
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا
Artinya: Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya kehidupan yang sempit.
Menurutnya, jika seseorang ingin dilapangkan rezekinya maka ia harus menjauhi berbagai bentuk dosa dan selalu mendekatkan diri kepada Allah.
“Jika ingin rezeki dilapangkan, maka jauhilah dosa. Nabi Adam terusir dari surga karena satu kesalahan. Maka siapa pun yang berpaling dari peringatan Allah, baginya kehidupan akan terasa sempit,” pungkasnya.





0 Tanggapan
Empty Comments