Dikisahkan bahwa pada suatu hari tiba-tiba saja Abu Hurairah radhiallahu anhu menangis saat sakitnya menjelang sakaratul maut. Kemudian ada yang bertanya kepada beliau, “Apa yang membuatmu menangis?”.
Beliau pun menjawab, “Aku bukan menangis karena dunia yang akan aku tinggalkan ini. Tapi aku menangis karena jauhnya perjalanan yang akan aku lalui sedangkan bekalku teramat sedikit, sementara bisa jadi nanti sore aku harus mendaki jalan ke surga atau neraka, dan aku tidak tahu akan kemana kah digiring diriku nanti?”.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.”
Air mata yang membasahi pipi seorang hamba karena takut kepada pencipta-Nya merupakan air mata yang mulia. Ia bermakna tinggi di hadapan Allah, ia akan mendapatkan kasih sayang Allah.
لَيْسَ شَىْءٌ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ قَطْرَتَيْنِ وَأَثَرَيْنِ قَطْرَةٌ مِنْ دُمُوعٍ فِى خَشْيَةِ اللَّهِ وَقَطْرَةُ دَمٍ تُهَرَاقُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ. وَأَمَّا الأَثَرَانِ فَأَثَرٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَأَثَرٌ فِى فَرِيضَةٍ مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ
“Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah selain dua tetesan dan dua bekas. Yaitu, tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang mengalir (saat jihad) di jalan Allah. Adapun dua bekas, yaitu bekas dari berjihad di jalan Allah dan bekas dari menunaikan salah satu kewajiban yang telah Allah tetapkan.” (HR. Tirmidzi)
Jadi, tangisan yang mengantarkan seseorang kepada surga dan menjauhkan seseorang dari api neraka adalah tangisan karena takut kepada Allah.
Air mata tersebut merupakan lambang ketakutan karena takut akan dosa-dosa yang telah ia perbuat, atau takut membayangkan kehidupan akhirat, takut karena kerasnya hati, dan sebagainya.
Air mata itu merupakan tameng bagi dirinya dari api neraka. Karena dengannya, ia akan sadar atas hakikat kehidupan. Pemilik air mata itu akan selalu berusaha menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah.
Menangis karena takut kepada Allah merupakan suatu petunjuk yang sangat jelas atas adanya rasa takut kepada Allah dan itu membuat cenderung semakin cinta akan kehidupan akhirat. Memang kelihatan cengeng, tetapi cengeng kepada kebesaran Allah SWT ialah terpuji.
Alangkah indahnya jika seorang hamba tersungkur di atas sajadah menikmati kemesraan dengan Tuhannya kemudian menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Swt hingga dijemput dengan husnul khatimah.
Karena itu, siramilah jiwamu dengan air mata tobat dan rindu kepada Allah Swt. Abu Umamah al-Bahili berkata kepada Rasulullah saw, “Apakah keselamatan itu?” Beliau menjawab: “Jagalah lidahmu, lapangkan rumahmu, dan tangisilah dosa-dosamu.”
Menangis karena dosa adalah pengalaman yang mungkin saja jarang dialami setiap orang. Tidak setiap orang bisa menangis ketika mengingat dosanya.
Bahkan boleh jadi ada orang yang tidak pernah menangis karena tidak pernah mengingat dosanya. Ini karena secara naluri manusia lebih cenderung membuat dirinya tertawa dari pada menangis.
Meski demikian, menangis karena dosa sebaiknya menjadi pengalaman setiap orang walaupun kadang sulit dilaksanakan. Perhatikan petikan kalam hikmah dibawah ini:
قال الإمام مالك بن دينار رحمه الله: البُكَاءُ عَلَى الخَطِيئَةِ يَحُطُّ الْخَطَايَا كَمَا يَحُطُّ الرِّيْحُ الْوَرَقَ اليَابِسَ”
Al-Imam Malik bin Dinar rahimahullah telah berkata: Menangisi suatu kesalahan dapat menggugurkan banyak kesalahan (dosa) sebagaimana angin dapat menggugurkan dedaunan yang kering.
Kalam hikmah di atas mengajarkan kepada kita akan tingginya nilai orang yang bisa menangis karena mengingat dosanya, sehingga tangisan itu dapat meruntuhkan dosa-dosa kecil jika disertai dengan penuh penyesalan.
Orang yang menangis karena dosanya berarti ia mengakui kekhilafannya sebagai hamba Allah SWT. Ia akan merasa dirinya selalu kurang dalam beramal saleh. Perasaan seperti ini jelas akan membawa kepada sikap positif, yaitu dorongan untuk terus menerus mememperbanyak amal shaleh dan meninggalkan perbuatan dosa dan maksiat.
Sebaliknya, perasaan puas terhadap amal saleh yang diperbuat justru akan mematikan semangat untuk beramal saleh lebih banyak lagi. Pendek kata “mengingat dosa lebih baik daripada menghitung-hitung amal saleh”.
Menangis karena dosa diawali oleh kesadaran manusia bahwa Allah SWT mengetahui semua perbuatan manusia baik yang positif maupun negative. Allah SWT akan membalas setiap dosa yang diperbuat manusia.
Siksa yang kekal di neraka akan dirasakan oleh orang yang berlumuran dosa dan tidak pernah bertobat dari dosa-dosanya. Maka bagi seorang mukmin, keyakinan bahwa kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal dan abadi mestinya menjadi pendorong untuk mengingat dosa yang pernah diperbuat dan menggantinya dengan perbuatan amal shaleh.
Menangislah di dunia karena dosa-dosa, niscaya di akhirat nanti termasuk kelompok orang yang wajahnya berseri-seri. Dan kita berlindung kepada Allah SWT dari nasib orang yang ketika di dunia tertawa ria dengan dosanya, sementara di akhirat nanti menangis memohon ampun atas dosanya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments