Search
Menu
Mode Gelap

Aisyiyah Tegalgondo Wunutsari Peringati Hari Ibu, Teladani Perjuangan Nyai Walidah

Aisyiyah Tegalgondo Wunutsari Peringati Hari Ibu, Teladani Perjuangan Nyai Walidah
Pimpinan Ranting Aisyiyah Tegalgondo Wunutsari saat memperingati hari ibu (Foto: Uswatun Hasanah/PWMU.CO)
pwmu.co -

Hari Ibu yang diperingati setiap tanggal 22 Desember menjadi momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh para ibu, khususnya ibu-ibu yang ada di Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Tegalgondo Wunutsari, Kabupaten Malang.

Acara peringatan Hari Ibu dimulai dengan pengajian rutin yang diselenggarakan Ranting Aisyiyah Tegalgondo dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan, Ahad (21/12/2025).

Dalam kajian yang disampaikan oleh Bapak Imam Suandri selaku Takmir Masjid Darus, ia menjelaskan tentang sejarah awal munculnya peringatan Hari Ibu. Hari Ibu mulai diselenggarakan atas inisiatif Nyai Walidah.

Nyai Walidah merupakan pelopor bangkitnya gerakan perempuan dari keterbelakangan dan pandangan stereotip sebagian masyarakat bahwa perempuan tidak harus berpendidikan tinggi.

Pandangan tersebut menganggap perempuan hanya mempunyai tiga peran, yaitu peran sebagai istri yang bertugas memasak di dapur, peran sebagai istri yang hanya bisa mencuci di sumur, serta peran sebagai istri yang melayani suami di kasur.

Pandangan tersebut bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadis. Disebutkan di dalam Al-Qur’an dan hadis bahwa perempuan memiliki peran besar sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, perempuan harus memiliki pendidikan yang tinggi agar mampu mendidik anak-anak yang saleh dan salehah.

Selain peringatan Hari Ibu, Ranting Aisyiyah Tegalgondo Wunutsari juga menyelenggarakan kegiatan tukar kado sebagai wujud apresiasi terhadap kaum perempuan, khususnya para ibu.

Peringatan Hari Ibu tersebut dilaksanakan sebagai upaya meneladani perjuangan Nyai Walidah, istri KH Ahmad Dahlan, yang merupakan pelopor gerakan perempuan dalam Muhammadiyah.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Sejak tahun 1914, Nyai Walidah telah menggagas pengajian Sopo Tresno di Yogyakarta sebagai media pembinaan kaum perempuan. Gerakan ini kemudian menjadi embrio berdirinya organisasi Aisyiyah pada tahun 1917 yang hingga kini konsisten bergerak dalam bidang dakwah, pendidikan, sosial, dan pemberdayaan perempuan.

Ketua PRA  Tegalgondo Wunutsari, Yayuk Suprihatin, dalam sambutannya menyampaikan bahwa peringatan Hari Ibu bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan momentum refleksi atas peran strategis perempuan dalam membangun keluarga, masyarakat, dan persyarikatan.

“Semangat Nyai Walidah mengajarkan bahwa perempuan memiliki peran penting sebagai pendidik generasi dan penggerak perubahan. Melalui kegiatan sederhana seperti tukar kado ini, kami ingin menumbuhkan rasa saling menghargai, mempererat ukhuwah, serta menguatkan solidaritas antaranggota,” ujarnya.

Selain tukar kado, acara juga diisi dengan kebersamaan dan refleksi makna keibuan dalam perspektif Islam serta nilai-nilai Muhammadiyah.

Melalui peringatan Hari Ibu ini, Ranting Aisyiyah Tegalgondo Wunutsari berharap nilai-nilai perjuangan Nyai Walidah terus hidup dan menginspirasi kaum perempuan untuk menjadi pribadi yang beriman, berilmu, berakhlak, serta berkontribusi aktif dalam mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments