Dakwah di bidang kesehatan merupakan salah satu tonggak utama perjuangan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sejak awal berdirinya. Komitmen ini tumbuh dari kepedulian terhadap masyarakat kecil yang sulit menjangkau layanan kesehatan layak.
Ketua Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini, menuturkan bahwa perhatian Muhammadiyah terhadap kesehatan telah dimulai sejak KH Ahmad Dahlan merintis Persyarikatan.
Menurut dia, sejak awal, kesehatan menjadi bagian tak terpisahkan dari dakwah kemanusiaan yang berpijak pada nilai-nilai Islam.
“Kalau kita menengok sejarah perjuangan Muhammadiyah, saat itu bangsa Indonesia masih dijajah. Pelayanan kesehatan hanya dinikmati kalangan tertentu, sementara rakyat kecil sulit mendapatkannya,” ujar Noordjannah dalam Konsolidasi Nasional Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah di Surabaya, Jawa Timur pada Sabtu (8/11/2025)..
Muhammadiyah, lanjutnya, hadir untuk memberi manfaat bagi semua kalangan tanpa memandang status sosial. Prinsip ini sejalan dengan QS. Ali Imran ayat 104, yang menyerukan umat terbaik untuk mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
“Organisasi kita adalah pelopor pendirian layanan kesehatan di Indonesia. Dari semangat itu lahirlah Rumah Sakit PKO Muhammadiyah Yogyakarta, rumah sakit Islam pertama yang berdiri atas prakarsa ormas Islam,” jelasnya.
Kini, semangat dakwah kesehatan terus tumbuh mengikuti perkembangan zaman. Di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA), telah berdiri sekitar 20 Fakultas Kedokteran sebagai wujud nyata dari cita-cita Kiai Dahlan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Melalui Konsolidasi Nasional Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, Noordjannah berharap kegiatan ini menjadi ajang refleksi untuk memperkuat strategi dakwah kesehatan di masa mendatang.
“Kita perlu mengevaluasi kepemimpinan agar tidak terjebak dalam zona nyaman. Dakwah kesehatan menuntut inovasi, keberanian, dan keberpihakan nyata kepada umat,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments