
Oleh Muhsin MK
PWMU.CO- Sebagai kader Aisyiyah tak perlu diragukan loyalitasnya dalam Persyarikatan Muhammadiyah. Apalagi dirinya pernah ditempa di SD Muhammadiyah Kukusan dan SMP Muhammadiyah Beji Timur. Diapun aktif dalam Nasyiatul Aisyiyah (NA) Ranting Kukusan, Depok
Dia adalah Atimah HK SPd mulai aktif dalam kepemimpinan Aisyiyah sejak menikah dengan Drs Mursin bin Minan. Hingga jelang wafat, saat jatuh sakit pada tahun 2022, barulah dia tak dapat aktif di Aisiyah.
Atimah wafat dalam usia 63 tahun. Pada hari Jum’at 11 Juli 2025, jam 15.00 WIB di rumah, Jl. Kahayan Ujung no 26 RT 003/016 Kel. Abadijaya, Kota Depok, Jabar. Di makamkan hari Sabtu 12 Juli 2025, jam 09.00 WIB, di pekuburan wakaf masyarakat kampung Cipayung di Lembah Abadijaya. Dia meninggalkan suami, enam anak dan lima cucu.
Pensiunan ASN dan bertugas di SD Negeri Mekarjaya 17 Abadijaya, adalah tempat terakhir Atimah mengabdikan dirinya di dunia pendidikan.
Atimah mulai terjun sebagai pengurus Pimpinan Ranting Aisiyah (PRA) Abadijaya pada saat suaminya terpilih sebagai Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Abadijaya periode 1990-1995. Saat itu dia hanya sebagai anggota Pimpinan Ranting Aisiyah (PRA) Abadijaya. Tapi dia aktif dalam setiap pengajian Aisiyah dan Muhammadiyah Abadijaya.
Dalam musyawarah Aisiyah Abadijaya yang berbarengan dengan Muhammadiyah, Atimah terpilih sebagai Ketua PRA Abadijaya periode 1995-2000. Dia menggantikan Hj. Reno Asfiah. Ketua PRA periode 1990-1995, sebelumnya.
Ketika itu suaminya, Mursin juga terpilih sebagai Ketua PRM Abadijaya periode kedua. Namun karena mengetahui istrinya menjadi Ketua PRA, ia pun minta diadakan pemilihan ulang. Dalam pemilihan ulang terpilih wakilnya, Dr. Hasan Rahmat, sebagai Ketua PRM Abadijaya.
Masalah pertama yang diselesaikannya saat Atimah menjadi Ketua PRA Abadijaya adalah, berkaitan dengan surat tanah TK ABA 10 Depok, jl. Danau Batur, Abadijaya. Sebelumnya menurut informasi surat tanahnya berada di tangan pengurus PRM Depok Timur sejak sebelum suaminya memimpin PRM Abadijaya.
Suaminya, Mursin saat memimpin PRM Abadijaya sudah berusaha menyelesaikan masalah surat tersebut. Namun ia tidak berhasil menyelesaikan hingga periode kepemimpinannya habis. Justru pada saat Atimah memimpin PRA Abadijaya, baru bisa diselesaikan dengan baik.
Hal yang dilakukannya adalah mengurus surat keterangan wakaf ke Kantor Urusan Agama (KUA). Karena surat jual beli tanah tidak ditemukan, sedangkan luas tanahnya sudah berkurang sebagian, maka dia bersama pengurus PRA lainnya berusaha agar surat tanah TK ABA bisa dimiliki. Atimah bersama jajarannya segera mendatangi kantor KUA Sukmajaya Depok.
Surat keterangan wakaf itu dibuat dan ditandatangani Atimah sebagai nadzir. Adapun pewakaf dia minta suaminya, Mursin yang menandatangani surat. Setelah itu PRA mengurus sertifikat wakaf di kantor BPN Depok.
Dalam perkembangannya PRA penggantinya berhasil membangun gedung baru TK ABA 10 dua lantai. Lokasinya tidak jauh dari gedung. TK yang lama. Lalu. Kegiatan belajar mengajar TK ABA 10 pun pindah digedung baru. Gedung lama dijadikan tempat kegiatan koperasi Aisiyah. Kemudian gedung itu diminta PCM Sukmajaya untuk tempat Klinik PKU Muhammadiyah Cabang Sukmajaya.
Di masyarakat lingkungan komplek rumahnya Atimah pernah aktif dalam kepengurusan PKK (Pembina Kesejahteraan Keluarga) RT. 03/016 Abadijaya. Waktu itu suaminya menjabat sebagai Ketua RT. Dia juga aktif dalam aktifitas Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kecamatan Sukmajaya.
Walau tidak lagi menjadi Ketua PRA Abadijaya, Atimah tetap terlibat aktif dalam kepengurusan Aisiyah. Terakhir.dalam kepemimpinan PRA Abadijaya periode 2015-2022 dia diamanahkan dan aktif sebagai Ketua Bagian Dasar dan Menengah. Apalagi TK ABA sudah bertambah dengan berdirinya TK ABA 27 di gedung da’wah Muhammadiyah dan Aisiyah dekat Pasar Agung, Depok Timur, sehingga PRA Abadijaya memiliki dua TK.
Dalam menjalankan fungsinya Atimah biasa bertemu dan melakukan pembinaan kepala kepala sekolah dan guru TK ABA 10 dan 27. Abadijaya
Terkadang kepala sekolah dan guru gurunya yang datang ke rumah. Mereka selain menyampaikan laporan TK juga meminta tanda tangannya berkaitan dengan masalah keuangan.
Ketika PCA Sukmajaya menerima tawaran program pendidikan anak anak duafa, pemulung dan anak jalanan, Atimah yang diamanahkan sebagai kepala kegiatan tersebut. Dia dipandang cocok memimpin lembaga tersebut. Apalagi dia guru di sekolah dasar.
Proses kegiatan belajar mengajar lembaga pendidikan non formal tersebut diselenggarakan di masjid Al Bahar dekat Pasar Agung Depok Timur. Waktunya pada sore hari. Dia sempat pulang ke rumah dari sekolah. Setelah ashar barulah melaksanakan tugasnya.
Bahkan dia sendiri ikut mengajar anak-anak dhuafa tingkat SD. Suaminya, Mursin yang juga seorang pegiat pendidikan, diminta dan dilibatkan dalam mengajar anak-anak tingkat SMP nya. Terutama mengajar mata pelajaran matematika.
Pendidikan lembaga non formal PCA Sukmajaya, selain memberikan pelajaran umum, juga pendidikan agama, termasuk membaca al-Qur’an. Semua tenaga pengajarnya dari anggota Aisiyah dan Muhammadiyah.
Namun program ini hanya berjalan efektif dua tahun. Hingga kini yang masih berjalan hanya pendidikan al-Qur’an. Tempat belajarnya tidak lagi di masjid Al Bahar, tapi di gedung da’wah Muhammadiyah dan Aisiyah Abadijaya pada sore hari. Adapun pagi harinya di gunakan untuk kegiatan belajar mengajar TK ABA 27.
Sementara itu, Atimah setelah pensiun, jatuh sakit. Tiga tahun lamanya. Diapun tidak bisa aktif kembali di PRA Abadijaya. Meskipun demikian para aktivis Aisiyah Abadijaya kerap menjenguk ke rumahnya. Pengurus Aisiyah Abadijaya pula yang memandikan jenazahnya, sebelum dishalatkan di masjid Al Bahar dan dimakamkan keesokan harinya.
Ketua musholla Al Falah, jl. Kahayan Raya, RT 03/016, Abadijaya, tetangga rumahnya, H. Tamimi Matlawi, pada saat takziah mengatakan, “Al Marhumah orang baik, tak banyak bicara”. Imam mushollanya, H. Utut Suhud tetangga rumahnya juga. mengungkapkan, “Wah meninggalnya di hari baik, hari Jum’at”.
Tokoh Muhammadiyah Cabang Sukmajaya, Depok, Ustadz Fihli, saat memberi tausiyah pengajian takziah malam kedua di rumahnya menyampaikan, “Almarhumah yang saya kenal telah meninggalkan amal dzariah yang banyak saat memimpin Aisiyah yang dirasakan kebaikannya hingga sekarang”.
Kepergian almarhumah Atimah bukan hanya suami dan keluarganya yang kehilangan, melainkan juga warga masyarakat, khusus anggota jamaah Aisiyah dan Muhammadiyah Abadijaya Sukmajaya Kota Depok.
Semoga almarhumah termasuk hamba yang dipanggil oleh Allah dalam firman-Nya, “Wahai jiwa yang Mutmainah (tenang). Kembalilah kepada Tuhanmu (Allah) dengan hati yang ridho dan diridhoinya. Maka masuklah kedalam golongan hamba hamba Ku dan masukkan kedalam Surga Ku”.(Qs Al Fajr:27-30). (*)
Editor Alfain Jalaluddin Ramadlan







0 Tanggapan
Empty Comments