Pagi itu, Sabtu (6/9/2025), halaman SMK Muhammadiyah 2 Jogoroto, Jombang, dipenuhi wajah ceria para siswa.
Suasana berbeda berasa sejak awal, karena peringatan Maulid Nabi Muhammad saw kali ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan ruang refleksi bersama tentang bagaimana generasi muda bisa bertahan dan sukses di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi.
Acara dimulai pukul 08.00 WIB dengan penampilan hadrah, salah satu ekstrakurikuler andalan sekolah. Suara rebana berpadu lantunan selawat menciptakan nuansa khidmat.
Dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh seorang siswi dari ekstrakurikuler qori, suasana semakin syahdu.
Ketua Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) memberi sambutan singkat. Kemudian dilanjutkan pesan dari Kepala SMK Muhammadiyah 2 Jogoroto Jombang, Ustaz Moh. Rofi’i, S.Ag, SE, MM.
“Peringatan Maulid Nabi bukan sekadar mengenang sejarah. Lebih dari itu, kita diajak meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk saat kita berhadapan dengan teknologi yang begitu dekat dengan keseharian,” ujarnya.
Puncak acara tiba ketika Ustaz Munahar, Sekretaris Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur sekaligus Kepala SD Muhammadiyah 6 Gadung Surabaya, tampil menyampaikan tausiyah.
Dengan gaya komunikatifnya, Ustaz Munahar langsung mengajak siswa berdialog. n“Siapa yang bawa handphone?” tanyanya sambil tersenyum. Hampir seluruh siswa mengangkat tangan.
“Coba sekarang browsing, di Amerika detik ini ada peristiwa apa?” tantangnya.
Sontak para siswa sibuk membuka gawai masing-masing. Tak lama, seorang siswa menjawab lantang, “Isu politik, ustaz.”
Ketika ditanya lebih detail, siswa itu menyebut, “China-Rusia-Amerika sedang berkonflik.”
Ustaz Munahar mengangguk. “Nah, ini bukti dunia sudah tidak ada sekat lagi. Amerika yang jauh di sana, bisa kita lihat, baca, dan dengar detik ini juga. Semua terhubung karena digitalisasi. Inilah yang kita sebut globalisasi,” jelasnya.

Literasi Digital
Dalam ceramahnya, Ustaz Munahar tak menutup mata pada berbagai sisi gelap era digital: maraknya hoaks, disinformasi, cyberbullying, degradasi moral, hingga kecanduan gadget.
“Kalau kita tidak hati-hati, semua ini bisa menjerumuskan,” tegasnya.
Namun, ia juga menekankan peluang besar yang terbuka. Menurutnya, generasi muda punya kesempatan emas untuk mengakses ilmu pengetahuan tanpa batas, menyalurkan kreativitas, meraih peluang ekonomi baru, bahkan membangun jejaring global.
“Digitalisasi ini bukan ancaman, tapi peluang. Syaratnya, kita harus punya literasi digital yang kuat dan akhlak yang kokoh,” ujarnya menambahkan.
Ustaz Munahar lantas menyebut lima akhlak Nabi Muhammad saw yang bisa menjadi benteng remaja menghadapi dunia tanpa batas.
1. Kejujuran (Shiddiq)
“Jadilah sumber informasi yang jujur dan dapat dipercaya,” katanya. Ia menegaskan pentingnya tabayyun sebelum menyebarkan berita.
2. Amanah dan Tanggung Jawab
Dia mengingatkan agar siswa menggunakan media sosial untuk hal-hal yang bermanfaat.
“Saat ini banyak orang memotong ceramah ustaz tanpa izin. Jangankan digunakan untuk jahat, dipakai untuk kebaikan pun tetap perlu izin karena ada hak cipta dan dilindungi undang-undang,” jelasnya.
3. Komunikasi yang Baik (Tabligh)
“Kalau ada masalah, jangan curhat di media sosial. Itu hanya membuat teman susah dan musuh gembira,” ujarnya disambut tawa siswa.
Dia menekankan pentingnya menyelesaikan masalah dengan bijak tanpa mencari perhatian berlebihan.
4. Berpikir Kritis (Fathanah)
Remaja, kata dia, harus cerdas memilah informasi agar tidak mudah terprovokasi. “Gunakan internet untuk menambah ilmu, bukan sekadar mengikuti arus,” tegasnya.
5. Toleransi dan Empati
“Hargai perbedaan pendapat tanpa menghina. Kalau ada bencana, kita bisa ikut berdonasi secara online. Itulah bentuk empati di era digital,” tuturnya.
Tausiyah Ustaz Munahar menutup rangkaian acara dengan pesan yang membekas. Bagi para siswa, pesan itu menjadi pengingat bahwa teknologi hanyalah alat.
Tanpa akhlak, ia bisa menyesatkan. Tetapi dengan akhlak Rasulullah saw sebagai kompas, digitalisasi justru bisa menjadi jalan menuju kebaikan.
“Yang penting bukan seberapa canggih gadget kita, tapi seberapa kuat iman dan akhlak yang kita miliki,” pungkasnya.
Bagi SMK Muhammadiyah 2 Jogoroto, peringatan Maulid Nabi kali ini bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga menanamkan arah masa depan: melahirkan generasi yang cakap digital, berdaya saing global, namun tetap berpijak pada akhlak Rasulullah saw. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments